Musim Hujan, Waspadai Leptospirosis

126
DIALOG: Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi melakukan dialog pada pasien RSUD Kajen yang sedang menunggu layanan kesehatan di ruang tunggu, Selasa (12/9) kemarin (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG).
DIALOG: Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi melakukan dialog pada pasien RSUD Kajen yang sedang menunggu layanan kesehatan di ruang tunggu, Selasa (12/9) kemarin (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG).

MAGELANG – Memasuki musim penghujan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang meminta masyarakat waspada terhadap ancaman penyakit leptospirosis. Penyakit zoonosis ini disebarkan urine tikus yang terinfeksi bakteri Leptospira sp.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Magelang Yis Ramadan mengatakan, bakteri tersebut dapat mati jika terpapar sinar matahari secara langsung. Namun bisa bertahan hingga satu bulan di dalam air tawar. Manusia bisa tertular melalui kulit yang terluka.

“Yang paling berisiko adalah tempat-tempat yang banyak genangan airnya, seperti sawah,” katanya, Kamis (9/11).

Petani merupakan salah satu kelompok yang rentan terjangkit leptospirosis. Karena itu, ia meminta kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHSB). Khususnya bagi petani, agar memakai alas kaki saat melakukan aktivitas di sawah.

“Saat beraktivitas di sawah, harus pakai sepatu boot,” ujarnya.

Meski penyakit leptospirosis belum pernah ditemukan di Kota Magelang, Dinkes tetap waspada. Yang dilakukan saat ini adalah menjalankan sistem kewaspadaan dini dan responsif. Dijelaskan Yis, sistem ini adalah kesatuan kegiatan deteksi dini terhadap penyakit dan masalah kesehatan yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB).

“Masyarakat juga perlu tahu gejalanya, seperti sakit kepala, demam, nyeri otot dan untuk leptospirosis berat, biasanya disertai dengan penyakit kuning, pendarahan.”

Kasi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular (P3M) Dinkes Kota Magelang Lilik Sunarto menambahkan, ia menerima laporan dari sejumlah rumah sakit di Kota Magelang yang menangani pasien leptospirosis. Seluruh pasien merupakan warga Kabupaten Magelang.

Ia merinci, data per 25 Oktober 2017 lalu, ada 12 pasien terduga leptospirosis. Lalu 2 pasien yang dinyatakan positif, dengan satu kasus meninggal dunia. Ke-14 pasien tersebut dirawat di rumah sakit berbeda, RSUD Tidar Kota Magelang, RST dr Soedjono, dan RS Harapan.

“Rata-rata datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah terlambat. Kami sudah koordinasi dengan Dinkes Kabupaten Magelang, terkait penyakit ini,” imbuhnya. (put/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here