Makna Hari Pahlawan dalam Konteks Kekinian

151
Oleh: Nur Cholifatur Rochmah SPd
Oleh: Nur Cholifatur Rochmah SPd

SETIAP tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya dijadikan momentum bersejarah yang diperingati setiap tahunnya. Pertempuran ini merupakan pertempuran pertama setelah Indonesia merdeka. Salah satu perang terdahsyat yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia.

Pertempuran ini dipicu kedatangan Belanda, Inggris dan NICA yang ingin menduduki Indonesia setelah merdeka dan Jepang menyerah kepada pasukan sekutu. Inggris menyebar ultimatum ancaman yang disebar memalui pesawat yang berisi perintah agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata yang dirampas dari Jepang. Rakyat Surabaya tidak menerima ultimatum tersebut, hingga terjadilah pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang mengakibatkan tewasnya Brigadir General A.W.S Mallaby. Muncul tokoh pembakar semangat “Arek Suroboyo” melalui pidatonya yang berapi api, yaitu Bung Tomo.

Kalau kita mengingat kembali berbagai peristiwa sejarah, sungguh besar jasa pahlawan untuk tegaknya bumi Indonesia ini. Sebagai generasi penerus bangsa hendaknya kita mampu meneruskan cita-cita para pendiri bangsa. Akhir-akhir ini masyarakat mulai sensitif dengan isu isu perbedaan agama, perbedaan ideologi, intoleransi, mungkin karena alasan politik, ekonomi maupun social budaya.

Isu “Pribumi” mencuat padahal kalau kita mengingat sejarah istilah ini dibuat pada masa zaman Hindia Belanda yang membagi penduduk Indonesia (Hindia Belanda) dalam tiga golongan yaitu Golongan Eropa, Golongan Timur Asing (Terutama Tionghoa dan Arab) dan Golongan “Inlander” pribumi atau orang Indonesia asli. Status sosial, ekonomi dan hukum bagi ketiga golongan ini dapat dikatakan berbeda. Tiga golongan ini dapat dikatakan seperti urutan dari atas ke bawah. Maka tidak heran, jika golongan Inlander atau pribumi inilah yang paling berjuang keras  untuk merdeka karena ketidakadilan dan diskriminasi yang mereka alami  di zaman penjajahan. Tidak ada yang patut dipermasalahkan dengan penggunaan istilah “Pribumi” dalam konteks sejarah.

Peringatan hari Pahlawan ini dapat dijadikan sebagai momentum dalam rangka menumbuhkembangkan nilai-nilai persatuan, kepahlawanan dan kesetiakawanan sosial juga merupakan cermin atau refleksi tentang pengorbanan, keteladanan, dan keteguhan untuk menggapai masa depan.  Karena itu, nilai kepahlawanan sejatinya tidak akan pernah usang atau lekang dimakan zaman karena pada setiap waktu dapat diimplementasikan dari generasi ke generasi sepanjang zaman sesuai perkembangan zaman.

Konteks Kekinian

Makna pahlawan dalam konteks kekinian adalah  orang yang konsisten memperjuangkan sesuatu untuk perubahan kearah yang positif. Konteks berperang saat ini tidak lagi mengangkat senjata melawan penjajah. Namun berperang untuk mengatasi berbagai masalah bangsa seperti kemiskinan, pengangguran dan berbagai masalah social lainnya. Semangat dan nilai-nilai kepahlawanan harus bisa diimplementasikan dan didayagunakan untuk hal tersebut.

Akhirnya, mari kita menjadi pahlawan untuk bangsa ini, caranya dengan berkontribusi positif dalam bentuk kerja nyata sekecil apapun sesuai dengan kemampuan, bidang tugas dan profesi masing masing. Kita bisa menjadi pahlawan bagi keluarga, lingkungan dan bangsa Indonesia. Kita sebagai masyarakat Indonesia harus berani bersatu, menanamkan jiwa kepahlawanan itu pada diri kita dengan cara melakukan kerja-kerja yang luar biasa untuk Indonesia ini, meskipun kita hanya orang biasa. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here