Lumpuh, Tak Surutkan Semangat Wahyudi Mengajar

Kiprah ‘Pahlawan-Pahlawan’ Masa Kini

263
PEDULI SESAMA: Sugeng Nursito sedang mengukur kaki salah satu pasiennya untuk dibuatkan kaki palsu. (bawah) Wahyudi saat mengawasi anak didiknya di SLB C YPAC Semarang mengerjakan soal ujian. (Nur chamim/jawa pos radar semarang)
PEDULI SESAMA: Sugeng Nursito sedang mengukur kaki salah satu pasiennya untuk dibuatkan kaki palsu. (bawah) Wahyudi saat mengawasi anak didiknya di SLB C YPAC Semarang mengerjakan soal ujian. (Nur chamim/jawa pos radar semarang)

Tanggal 10 November diperingati sebagai hari pahlawan. Seiring dengan perkembangan zaman, penyebutan seseorang sebagai pahlawan pun mengalami pembaruan. Pahlawan masa kini bukan lagi mereka yang memanggul senjata dan berperang melawan penjajah. Tapi, sosok berprestasi yang mengharumkan nama negara, aktif dalam kegiatan kemanusiaan, maupun peduli dengan masyarakat sekitar pun layak disebut pahlawan masa kini.

WAHYUDI layak disebut pahlawan masa kini. Sehari-hari, dia menjadi guru SLB C di bawah naungan Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Jalan KH Ahmad Dahlan Semarang. Meski memiliki keterbatasan, yakni mengalami kelumpuhan sejak kecil, tak mengurangi semangat alumnus D3 Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini untuk mengabdi sebagai seorang pendidik. Ia menjadi guru dengan anak didik yang juga mengalami keterbatasan.

Ditemui Jawa Pos Radar Semarang kemarin (9/11), Wahyudi menceritakan perjalanan hidupnya yang cukup berliku. Ia mengaku, saat kecil sudah hidup susah. Sejak umur dua tahun, sudah dinyatakan oleh dokter mengalami kelumpuhan permanen. Tak hanya itu, saat duduk di bangku kelas 4 SD, ia harus kehilangan ayah tercintanya untuk selama-lamanya. Praktis, ia harus mandiri dalam mengejar cita-citanya.

“Awalnya saya terserang virus polio, karena dulu vaksin polio belum banyak, makanya saya tidak diimunisasi. Pertama kali saya mengalami gejala panas tinggi, kemudian setelah dibawa ke dokter, akhirnya dinyatakan lumpuh, padahal saat itu usia saya baru 2 tahun,”kenang Wahyudi.

Begitu divonis lumpuh, pria kelahiran Semarang, 23 November 1961 ini sempat down.  Ia sempat kehilangan rasa percaya diri. Untuk bangkit dari keterpurukan itu, Wahyudi membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun. Apalagi sejak ayahnya meninggal dunia, ia yang getol mengiginkan sekolah, sempat terhenti sejak lulus SD. Penyebabnya, sang ibu sudah tak mampu lagi membiayai sekolahnya.

Meski begitu, semangat Wahyudi menuntut ilmu tak pernah surut. Sekalipun kondisi kakinya lumpuh dan ketiadaan biaya, ia tetap melanjutkan pendidikan. Ia mencari biaya sekolah sendiri, termasuk untuk biaya makan sehari-hari.

“Itulah masa-masa pahit saya. Begitu lulus SD, saya langsung kerja di YPAC, tapi saya tetap diperbolehkan sekolah di luar. Saya bersyukur karena Tuhan memberikan jalan, saya sering mendapat beasiswa dari SD, SMP, SMA hingga kuliah,”katanya.

Alumni SMP-SMA Ksatrian 1 Semarang ini mengaku, benar-benar bisa menerima keadaan dan dirinya tepatnya usai lulus kuliah. Ia mengaku sejak SMP hingga SMA terus berjuang dan seolah-olah hidup yang dijalaninya terasa pahit, karena beban yang dipikulnya saat itu terlalu berat untuk anak seusianya.

“Saya betul-betul lepas dari orangtua ketika ayah meninggal, apalagi saya lahir bukan dari orangtua berada. Saya juga sangat beruntung bisa bekerja di YPAC, karena waktu itu saya boleh bekerja, nyambi sekolah hingga kuliah, jadi gaji bisa saya tabung untuk biaya sekolah,”ungkapnya.

Pria yang sudah mengabdikan diri sebagai guru selama 30 tahun lebih di YPAC Semarang ini mengaku, dirinya bisa bangkit tidak lepas dukungan orangtua dan teman-temannya di YPAC. Di yayasan ini, ia bisa berkumpul dengan orang-orang yang berkebutuhan khusus. Kakinya yang lumpuh total, juga bukan menjadi akhir segalanya. Saat ini, ia sudah bisa berjalan dengan dibantu kruk (tongkat). Sedangkan kalau hujan menggunakan kursi roda. Ia juga sudah bisa mengendarai sepeda motor roda tiga.

“Motor roda tiga itu jadi mobilitas utama, makanya sangat menolong. Kalau sekarang, selain ngajar di YPAC, saya juga nyambi memberikan les privat gitar klasik untuk orang-orang normal. Kadang satu jam diberi Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu. Dulu waktu masih kecil, saya juga pernah ikut les musik,”beber pria yang tinggal di Jalan KH Ahmad Dahlan 4, RT 007 RW 005, Kelurahan Pekunden, Kecamatan Semarang Tengah ini.

Wahyudi mengaku, mulai bekerja di YPAC sejak 1979. Saat itu, dikatakannya baru mendapat honor Rp 50 ribu setiap bulannya, dengan modal awal melamar menggunakan ijazah SD. Pertama, ia bekerja sebagai teknisi operator sound system saat ada yang menyewa gedung. Kemudian pindah di bagian panti karya kelas keterampilan, berlanjut bagian wisma bhakti gedung pertemuan yang disewakan untuk umum.

Sedangkan saat ini, Wahyudi di bagian pendidikan menjadi guru sejak 2007. Ia juga bersyukur karena lolos mengikuti sertifikasi guru. Wahyudi juga pernah menempuh pendidikan anak luar biasa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) selama 2 minggu, yang merupakan program pemerintah untuk kesetaraan pengajar.

Adapun alasannya bersedia bekerja di YPAC, karena dirinya merasa senasib dengan anak-anak yang mengalami keterbatasan. Ia merasa sejak kecil sudah bergelut dengan kecacatan, sehingga ingin berbuat sama dengan sesama penyandang disabilitas. Ia juga merasa dihargai saat mengajar kepada sesama penyandang cacat. Menurutnya, mengajarkan pendidikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus, ada hal-hal tertentu yang bisa dipetik sebagai pelajaran

“Salah satunya, saya kadang-kadang harus mengulang-ulang terus materi pelajaran. Memang kadang jenuh, tapi tetap harus terus bersabar, kalau nggak sabar, pasti stres. Biasanya hari ini diterangkan mudeng, besok anak-anak bisa lupa, makanya ada nilai pelajaran bersabar,”ungkapnya.

Selain sebagai guru, Wahyudi juga menjadi atlet catur. Ia pernah meraih juara II tingkat Jawa Tengah dalam Pekan Olahraga Catur pada 1980. Bersama timnya, Wahyudi juga pernah meraih juara Harapan III tingkat Jateng dalam kegiatan ekspo Hasil Penyandang Disabilitas, Hipenca ke-19. Ia sudah menikah pada 10 Oktober 2010 lalu dengan Supartinah.

Wahyudi menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat luas agar bersedia menerima orang-orang seperti dirinya yang cacat. Sedangkan ke sesama penyandang cacat, ia berharap semuanya tetap semangat mengejar cita-cita, dengan berjuang keras, disiplin, dan tetap percaya diri. Baginya, kedisiplinan adalah hal utama yang harus dipertahankan dan dijalankan.

Kepala SLBC YPAC Semarang, Tugimin, menilai Wahyudi adalah sosok pendidik yang penuh tanggungjawab. Ia melihat disiplinnya tinggi, karena begitu jam masuk sudah stanby. Begitu pula saat pulang, semua sesuai waktu. Ia merasa Wahyudi adalah salah satu motivator hidupnya, karena sekalipun lumpuh, namun semangatnya sangat luar biasa.

Tugimin juga menyebutkan, di sekolahnya ada 34 guru dan Tata Usaha (TU), dengan jumlah siswa 138 anak, yang terjauh dari Demak. Untuk sekolahnya sendiri menerima siswa yang berkebutuhan khusus kategori tunagrahita (keadaaan keterbelakangan mental, Red) dan tunadaksa (cacat fisik), dengan jam belajar dari pukul 07.00 pagi 18.00 sore. Ia berpesan apabila ada anak berkebutuhan khusus dalam keluarga, jangan sampai malu, apalagi ditutup-tutupi. Menurutnya, anak berkebutuhan khusus adalah ciptaan Tuhan yang terbaik.  “Siswa maupun alumni kami juga ada yang berhasil meraih 2 emas dan 1 perak serta 1 perunggu, waktu itu tampil dalam kegiatan ASEAN Para Games 2017 ,” kata Tugimin.

Pahlawan Bagi Disabilitas

Memiliki latar belakang pendidikan ahli madya ortotik prostetik, Sugeng Nursito kemudian membuka praktik mandiri untuk pembuatan kaki dan tangan palsu bagi penyandang disabilitas.

Saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Sugeng mengaku memulai usahanya pada 2012. Awalnya, ia hanya bekerja seorang diri hingga selang satu tahun berjalan, Sugeng kewalahan. “2013 itu mulai kewalahan karena banyak pasien, kemudian saya rekrut dua orang sampai sekarang belum tambah,” ujarnya.

Kliniknya yang berada di Jalan Berlian IV Nomor 12, Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik kini setiap bulan rata-rata melayani pembuatan 25-30 alat bantu bagi penyandang disabilitas. Jumlah tersebut, menurut Sugeng, tidak pasti, bisa lebih namun juga bisa kurang.

“Yang pasti dari Januari hingga sekarang ini ada terus, karena kan banyak orang yang kena diabetes harus diamputasi sampai bayi yang lahirnya prematur,” terang pria kelahiran Banyumas 10 April 1987 ini.

Penambahan pegawainya tersebut diikuti peningkatan produk buatan yang dihasilkan. Jika sebelumnya ia hanya membuat kaki dan tangan palsu, setelah ada penambahan pegawai juga membuat alat untuk penderita skoleosis dan masih banyak lagi.

“Kebetulan juga klinik saya sempat diajak kerja sama dengan badan zakat, salah satunya IZI yang waktu itu bikin program 1.000 kaki palsu,” ujarnya.

Selama 5 tahun memiliki klinik ortopedi, Sugeng mengaku tak jarang ia harus tombok karena pasien yang tidak jadi beli atau tidak bisa membayar pesanan kaki/tangan palsu bikinannya.

“Itu sebelum kita pakai sistem down payment (DP), jadi banyak yang udah pesan trus tidak diambil. Ya, kita memahami, mungkin dia ada masalah finansial mungkin juga pindah dari Semarang,” bebernya.

Terhitung mulai 5 Agustus 2017 lalu, klinik yang sebelumnya bernama Promedik Ortotik Prostetik ini telah berbadan hukum yang sah dan berganti nama menjadi PT Prostetik Medika Utama. Bahkan, usahanya tersebut kini menjadi satu-satunya distributor perusahaan Blackspot di Inggris yang memiliki produk Endolight untuk bahan-bahan pembuatan ortopedi, yang ada di Indonesia.

“Selain itu kami juga rutin mengadakan pembagian kaki/tangan palsu gratis baik di awal bulan maupun akhir bulan, supaya semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama,” tutupnya. Selain memiliki klinik tersebut, Sugeng merupakan Aparatur Sipil Negara di RSUP dr Kariadi sejak tahun 2009, di bidang yang sama, yakni perpalsuan tangan dan kaki. (tsa/jks/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here