Dampingi Warga Manfaatkan Toga

PKU Tim Fikes UM Magelang

96
PENGABDIAN: Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UM Magelang melakukan pendampingan dan pengoptimalam tanaman obat keluarga di Desa Sumberrejo, Mertoyudan. (HUMAS UM MAGELANG)
PENGABDIAN: Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UM Magelang melakukan pendampingan dan pengoptimalam tanaman obat keluarga di Desa Sumberrejo, Mertoyudan. (HUMAS UM MAGELANG)

MUNGKID—Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang melakukan pendampingan dan inovasi pemanfaatan tanaman obat keluarga (toga) di Desa Sumberrejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Di desa ini, banyak masyarakat memilih toga sebagai obat penyembuh sakit.

Melalui Program Kemitraan Universitas (PKU)— program yang didanai oleh universitas—dosen Fikes UM Magelang, Widarika Santi H, M.Sc., Apt dan Tiara Mega K.,M.Sc, Apt melakukan kegiatan pengabdian. Tepatnya, pemberdayaan masyarakat Kelurahan Sumberejo dalam pemasyarakatan dan penggunaan tanaman obat keluarga sebagai alternatif terapi.

“Kegiatan pengabdian ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan maupun keterampilan masyarakat Kelurahan Sumberrejo akan macam tanaman obat keluarga dan pemanfaatannya,” kata Tiara, salah satu dosen Tim Pengabdi.

Menurut Tiara, kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui dua tahapan: penyuluhan dan praktik. Pelaksanaan kegiatan berdasarkan kesepakatan dengan pihak Kelurahan Sumberrejo, yang diikuti 38 peserta ibu–ibu PKK.

Tahap pertama, 9 September 2017. Yaitu, pelaksanaan penyuluhan tentang toga disertai pembagian modul tentang pemanfaatan toga, dengan memperhatikan dosis yang tepat serta bagian tanaman yang digunakan sebagai pengobatan. “Materi penyuluhan dari Tim Pengabdi meliputi pengetahuan tentang aneka jenis tanaman obat dan khasiatnya. Serta, pengolahan tanaman obat menjadi bahan minuman seperti jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka,” beber Tiara.

Sedangkan praktik pemanfaatan toga sebagai minuman herbal, dilaksanakan pada 14 Oktober 2017. Materi praktik pada sesi ini, peserta melakukan praktik pengolahan toga sebagai minuman herbal. Masih menurut Tiara, kemampuan peserta dalam penguasaan materi melalui uji prestest (sebelum proses pelatihan) dan postest (setelah pelatihan selesai) dapat dikatakan baik, 85 persen. “Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan pengetahuan dari peserta tentang toga dan khasiatnya. Serta, cara pengolahan toga sebagai minuman herbal, setelah dilakukan pelatihan.”

Pemberdayaan ibu–ibu rumah tangga di Kelurahan Sumberrejo dalam pemanfaatan toga, diharapkan dapat terwujud dengan baik. Yakni, melalui pemberian beberapa contoh tanaman obat yang dapat dibudidayakan di lokasi pengabdian. “Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut, diharapkan UM Magelang turut berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat terutama dalam penggunaan obat herbal sebagai alternatif terapi.”

Kegiatan tersebut, sambung Tiara, juga sebagi upaya mendukung pemerintah dalam mendorong peran aktif masyarakat dalam mengembangan kesehatan tradisional. Dikatakan, secara keseluruhan kegiatan pelatihan dapat dikatakan baik dan berhasil. Ini dapat diukur dari target jumlah peserta pelatihan mencapai 80 persen. “Selain itu, kegiatan pengabdian tersebut selaras dengan visi Prodi Farmasi S1, yakni Farmasi Bahan Alam.” (vie/sct/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here