Bidan Sri Isbandiyah, Pengabdian Tanpa Batas Waktu

115
Sri Isbandiyah. (ISTIMEWA)
Sri Isbandiyah. (ISTIMEWA)

BIDAN Sri Isbandiyah bekerja dengan hati nurani. Tak mengenal waktu siang, sore, maupun malam hari,  wanita 60 tahun ini melayani masyarakat dari kampung ke kampung dan tak terhitung. Mulai menangani peristiwa remaja melahirkan bayi hasil hubungan gelap, hingga tengah malam dijemput mobil patroli polisi.

Nenek lima cucu ini sebetulnya telah purnatugas sejak 2013 silam. Namun kebiasaannya menolong orang yang membutuhkan, terutama proses melahirkan, tidak bisa ia tinggalkan. Akhirnya, hingga saat ini, ia masih terlibat aktif praktik mandiri di kediamannya di Wonolopo RT 3 RW 9 Kecamatan Mijen, Semarang.

Tentu selama puluhan tahun mengabdikan diri melayani masyarakat, Isbandiyah memiliki segudang pengalaman. Berbagai kejadian pernah dialaminya. Bidan memang bersentuhan dengan masyarakat di level paling bawah. Kasus-kasus melahirkan pernah ia tangani dengan penuh kehati-hatian.

“Pernah suatu ketika, ada seorang wanita remaja datang periksa pagi pukul 10.00. Dia mengeluh sakit dan berdarah di bagian tertentu. Ternyata setelah saya periksa, dia hamil. Saya tanya jawabnya hamil empat bulan. Tapi saya cek, kok sudah cukup umur kehamilannya. Lalu saya beritahu mbak ini mau melahirkan. Lho, dia malah marah-marah. Saya tanya ‘kamu datang sama siapa? Dia menjawab sama kakak,’. Pukul 11.00, ternyata benar sudah ada tanda-tanda akan melahirkan. Saya minta kapada orang yang disebut kakak tadi, untuk mengambil peralatan bayi, kain dan lain-lain di rumah. Ternyata dia datang dengan membawa peralatan kain yang dibeli dari toko,” ceritanya.

Isbandiyah curiga, namun ia harus segera menyelesaikan tugasnya untuk membantu proses kelahiran bayi tersebut, dan akhirnya lahir dengan selamat. Setelah melahirkan, kecurigaannya terjawab ternyata wanita tersebut melahirkan bayi dan mengaku belum pernah menikah.

“Ternyata dia hamil di luar nikah. Pagi-pagi, bayinya ada yang ambil. Dia mengaku saudaranya yang tidak punya anak. Karena sudah sehat, keesokan harinya wanita yang habis melahirkan itu ganti pakaian dengan mengenakan jins layaknya remaja biasa,” katanya.

Dia mengaku tak habis pikir, peristiwa melahirkan seperti itu dianggap biasa saja. Padahal, melahirkan bagi masyarakat normal menjadi peristiwa yang luar biasa dan patut disyukuri. “Dia biasa-biasa saja. Saya juga enggak habis pikir, bagaimana mungkin dia bisa pintar menyimpan kehamilan selama 9 bulan. Mungkin setiap harinya pada saat hamil perutnya diikat menggunakan kain semacan kendit. Itu terjadi di tahun 2007,” kenangnya.

Namun demikian, Isbandiyah tak membedakan siapa pasien yang datang. Karena siapapun yang membutuhkan pertolongan harus diberikan pertolongan. Ia juga tidak pernah mematok biaya selama melayani warga yang benar-benar membutuhkan. “Niatnya ya menolong bagi yang tidak mampu. Ya, semampunya saja,” katanya.

Dalam kesempatan lain, ia mengaku kaget lantaran tengah malam mendadak didatangi orang membawa mobil patroli polisi di rumahnya. “Saya takut, ada mobil patroli datang tengah malam. Saya dibawa mobil patroli untuk di bawa ke rumahnya dia, melewati kampung-kampung. Ternyata sesampai di rumahnya, kondisi istri orang tersebut akan melahirkan. Bahkan bayinya sudah kelihatan. Ternyata orang yang datang itu adalah seorang satpam, yang meminjam mobil patroli polisi karena istrinya akan melahirkan,” ujarnya.

Meski sudah purna tugas, hingga sekarang ia mengaku masih melayani masyarakat dengan praktik mandiri di rumahnya. “Masih membantu masyarakat secara rutin, merawat lansia, ibu hamil, pengecekan tensi, merawat bayi sehat dan seterusnya. Sebagai seorang bidan harus ikhlas menjalankan tugas kemanusiaan secara profesional,” katanya. (amu/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here