Awal Pembelajaran Menyenangkan, Ciptakan Kelas Humanis

157
Oleh : Sutartiatun SPd
Oleh : Sutartiatun SPd

“ANAK-anak, siapa yang tadi malam melihat berita di televisi?” tanya Bu Tatik  suatu pagi di kelas VIIIA. Sepertiga lebih dari siswa di kelas itu mengacungkan tangannya seraya mengatakan “Saya,Bu!”

“Aku tiap malam juga nonton Dangdut Akademi, Bu,” jawab Wiwik.

“Betul sekali, aku juga senang sekali melihat acara itu,” kata Bu Tatik. Sebagian siswa yang lain mengiyakan dan mulai ramai saling membicarakan satu sama lain tentang lomba dangdut akademi. Selanjutnya Bu Tatik sekilas membicarakan tentang lomba nyanyi dangdut itu secara umum dengan tujuan memberikan informasi  bagi mereka yang kebetulan tidak menonton.”Siapa diantara kalian yang suka menyanyi Dangdut?”tanya Bu Tatik. Semuanya terdiam, tak ada yang berani menjawab.Sekarang mari kita bersama-sama pelajari tentang lagu Dangdut!”

Ilustrasi di atas merupakan cuplikan tentang suasana awal pembelajaran Seni Budaya yang terjadi di kelas VIIIA. Bu Tatik akan menyampaikan materi tentang lagu dangdut. Beliau sengaja  mengawalinya dengan sebuah pertanyaan yang menarik dan menyenangkan. Dan pertanyaan tersebut memang sangat terkait dengan pengalaman yang dimiliki siswa mengingat berita dan acara tersebut memang masih hangat dikabarkan dalam berbagai media saat itu. Orang bilang memulai sesuatu merupakan hal yang tersulit dalam suatu proses.Mungkin ada benarnya. Sering kali dijumpai seseorang  yang akan melakukan sesuatu pekerjaan  merasa kesulitan  sehingga membutuhkan waktu berpikir yang cukup lama untuk memulai.

Proses pembelajaran terdiri atas tiga bagian, yakni pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup. Antara bagian satu dengan bagian yang lain memang saling mendukung. Kegiatan pembukaan atau disebut juga dengan kegiatan pendahuluan adalah suatu upaya untuk mencapai suasana atau kondisi siap dalam belajar sebelum memasuki tahap kegitan inti pembelajaran. Kegiatan pembukaan dalam pembelajaran termasuk kedalam kategori persiapan awal (pra-intructional) menuju pada kegitan inti.

Apersepsi

Di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sering dijumpai bagian apersepsi. Guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa. Guru mengabsen siswa. Hal itu muncul hampir pada setiap bagian apersepsi. Dari sejumlah rencana pembelajaran yang pernah dijumpai, sebagian besar demikian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, apersepsi adalah pengamatan secara sadar  tentang segala sesuatu dalam jiwanya sendiri yang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima ide-ide baru. Apersepsi yang baik haruslah dapat memunculkan konflik kognisi pada siswa. Konflik kognisi inilah yang dimanfaatkan dalam pembelajaran. Apersepsi yang baik adalah apersepsi yang sesuai dan relevan dengan materi yang hendak disajikan, mampu membawa konsentrasi siswa menuju ke suatu pokok permasalahan yang akan disajikan secara halus dan tak  tersadari oleh siswa, mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan baik bagi siswa maupun bagi guru itu sendiri.

Jenis-jenis kegiatan yang harus dilakukan untuk menciptakan kondisi siap pada diri peserta didik dalam pembelajaran: pengondisian pembelajaran (conditioning), menumbuhkan perhatian dan motivasi, menciptakan sikap yang mendidik, menciptakan kesiapan belajar siswa, menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis, melaksanakan kegiatan apersepsi: a. mengecek kehadiran siswa; mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang lalu dan mengaitkan dengan materi yang akan dipelajari; menyampaikan tujuan/kompetensi yang harus dicapai dari materi yang akan dipelajari; menjelaskan kegiatan-kegitan pembelajaran yang harus dilakuakan oleh siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Mengkonfirnmasikan manfaat apa yang akan didapat setelah siswa mempelajari materi atau bahan ajar yang akan disampaikan.

Mengingat pentingya kegitan awal pembelajaran dengan langkah-langkahnya, maka seorang guru wajib hukumnya melaksanakan kegitan awal yang baik dengan melihat materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk ini tentu tidak bersifat paten atau kaku, melainkan bersifat fleksibel.Seorang guru dapat melakukan apersepsi berdasarkan inovasinya dan kreativitasnya sendiri,disesuaikan dengan pokok permasalahan yang akan disajikan dalam kegiatan inti. Adapun bentuk-bentuk apersepsi yang dapat digunakan selain menanyakan pelajaran yang lalu antara lain; bercerita, nyanyian, permainan, tayangan gambar, tayangan foto, atau benda apa saja yang memungkinkan dapat digunakan dan relevan dengan pokok permasalahan materi yang hendak disajikan.

Salah satu teknik apersepsi yang bisa dilakukan adalah Fun Story atau cerita lucu. Fun story yang disampaikan oleh guru pada 5 menit sebelum belajar dimulai akan dapat membuat otak anak siap untuk belajar. Dengan cerita lucu anak akan merasa relaks dan senang yang ditandai dengan rona wajah yang ceria, tersenyum, bahkan tertawa. Munif Chatib menyebut kondisi tersebut sebagai Zona Alfa. Kondisi alfa adalah tahap paling iluminasi (cemerlang) proses kreatif otak seseorang. Yaitu, ketika sel-sel saraf seseorang melakukan tembakkan impuls listrik secara bersamaan dan juga istirahat secara bersamaan sehingga timbul keseimbangan yang mengakibatkan kondisi relaksasi seseorang (Munif, 2011:90).

Mengingat betapa penting dan bermaknanya sebuah awal pembelajaran dalam menentukan keberhasilan, maka kiranya perlu sekali guru merancangnya dengan baik dan menarik. Yakinlah bahwa sesungguhnya siswa sangat menanti perbedaan suasana pembelajaran dari seorang guru. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here