Tanam Jambu dalam Planter Pot, Warna Buah Hijau, Rasanya Manis

Budidaya Jambu Madu di Desa Boyolali Jadi Potensi Unggulan Kabupaten Demak

127
SIAP PANEN : Camat Gajah Agung Widodo bersama Senen, pembudidaya jambu madu menunjukkan buah jambu yang siap panen. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIAP PANEN : Camat Gajah Agung Widodo bersama Senen, pembudidaya jambu madu menunjukkan buah jambu yang siap panen. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Potensi unggulan di wilayah Kabupaten Demak kini tidak hanya jambu merah delima dan jambu citra. Sekarang warga mulai membudidayakan jambu madu dengan citarasa manis dan segar. Yang menarik, tanaman tersebut cukup ditanam diplanter bag atau pot dilahan tidak produktif. Seperti di pekarangan sekitar rumah warga. Seperti apa?

WAHIB PRIBADI, Demak

Jambu madu warna hijau berasa manis ini awalnya dibudidayakan di Desa Boyolali, Kecamatan Gajah. Kini, budidaya tersebut dikembangkan di desa lainnya. Seperti Desa Surodadi, Tambirejo, Mlatiharjo, Wilalung dan desa lainnya di wilayah Kecamatan Gajah.

Sekretaris Desa (Sekdes) Boyolali, Senen, mengungkapkan, budidaya jambu ini bermula ketika awal 2016 lalu, ia dikenalkan dengan pupuk organik mikrogogle (migo) oleh Prof Ali Zumasyhar asal Demak yang saat itu bekerja di Kementerian Desa (Kemendes). Melalui kelompok Binagro Nusantara, pupuk organik yang dikenalkan tersebut bisa digunakan untuk pemupukan pohon jambu madu dalam pot dengan hasil yang maksimal.

Karena penasaran, akhirnya Senen mencoba mempraktikkan sendiri. Ada 50 batang pohon yang ditanam. Pohon jambu madu ditanam di dalam planter bag atau pot, kemudian diletakkan untuk mengisi lahan rumah yang kosong. Dalam jangka waktu antara 8 hingga 9 bulan, pohon jambu tersebut sudah mulai berbuah. Pupuk cair organik pun digunakan untuk memupuk tanaman jambu ini.

Selain pemupukan, juga dilakukan penyemprotan sehingga aman dari hama, termasuk lalat buah. Secara teknis, tanaman selalu disiram tiap hari dan dipupuk serta disemprot seminggu sekali. Lantas, saat berbuah, jadilah buah jambu organik.

“Pupuk organik ini berguna menetralisasi residu atau sisa sisa kimia yang ada dalam tanaman. Sedangkan, planter bag atau pot yang dipakai sebagai media tanaman, bisa untuk mengendalikan tanaman serta panen, ” ujar Senen, pria kelahiran Demak, 10 Maret 1970 ini.

Saat panen, setiap pohon bisa menghasilkan 2 hingga 3 kilogram jambu madu dengan produktivitas mencapai tiga kali dalam setahun. Agar besaran buah bisa optimal, bisa dilakukan penyiangan (pengurangan) buah. Dengan demikian, ada keseimbangan antara daun dan buah. Pengurangan jumlah buah dapat dilakukan sebelum dilakukan pembungkusan dengan plastik. Karena ujicoba selama setahun itu dinilai berhasil, maka Senen menyiapkan lahan seluas 1 bahu untuk ditanami jambu madu.

“Masih dalam persiapan penataan lahan. Penambahan tanaman ini saya lakukan, karena permintaan atau pesanan buah jambu madu ini makin banyak. Selain itu, agar dapat mencukupi permintaan konsumen, kami membentuk komunitas penanam jambu madu. Dengan demikian, setiap ada permintaan dalam jumlah besar dapat dipenuhi,” katanya.

Permintaan buah jambu tersebut rata-rata 1 hingga 2 kuintal perbulan. Buah jambu madu ini di tingkat petani dihargai Rp 20 sampai Rp 25 ribu perkilogram. Sedangkan, di tingkat konsumen, bisa Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu per kilogram. Harganya lebih mahal dibandingkan jambu merah delima atau citra yang hanya sekitar Rp 13 sampai Rp 15 ribu perkilogram.

Dengan potensi tersebut, Desa Boyolali akan disulap menjadi sentra produk unggulan jambu madu. “Desa Boyolali kami jadikan desa wisata agro jambu madu. Mereka yang ingin studi banding bisa langsung datang ke desa kami ini. Dalam setahun terakhir, sudah banyak yang studi banding atau belajar menanam pohon jambu madu ini,” katanya.

Menurutnya, selain melayani buah jambunya, Senen juga melayani pembelian batang pohon jambu madu. “Untuk bibit jambu ini disuplai dari Jogjakarta,” imbuh dia. Untuk bibit pohon jambu dengan planter bag ukuran kecil dijual Rp 60 ribu dan untuk ukuran besar dijual Rp 130 ribu.

Kasi Pemberdayaan Masyarakat (Permas) Kecamatan Gajah, Istichari menambahkan bahwa untuk mengembangkan budidaya jambu madu ini, telah dilakukan semacam pilot project di desa-desa di wilayah Kecamatan Gajah. Satu desa ada 1 RW yang dijadikan contoh. Warga diberi 2 bibit jambu. Tujuannya, jika berbuah bisa menambah pendapatan keluarga. ”Pohon jambu cukup ditanam di dalam pot dan ditempatkan di lahan kurang produktif sekitar rumah atau pekarangan,” kata Istichari yang juga ikut membudidayakan jambu madu di sekitar rumahnya ini.

Camat Gajah, Agung Widodo mengatakan bahwa desa desa yang mengembangkan budidaya jambu madu ini difasilitasi dengan pelatihan penerapan teknologi tepat guna. Pelatihan untuk memberdayakan masyarakat ini menggunakan dana desa (DD).

“Dengan demikian, harapannya bisa menambah kesejahteraan masyarakat. Jambu madu yang mudah perawatannya ini bisa menjadi produk unggulan Kecamatan Gajah. Sebelumnya, di Kecamatan Gajah dikenal ada beras organik di Desa Mlatiharjo. Sekarang jambu madu organik,” katanya.

Bupati Demak HM Natsir mengatakan bahwa berbagai potensi yang ada dapat dikembangkan termasuk jambu madu tersebut. “Demak dikenal dengan jambu merah delima dan citra. Selain itu, ada belimbing asli Demak serta banyak potensi lainnya yang terus kita gali,” katanya. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here