Masa Depan Video Game di Generasi Berikutnya

141
oleh: Radix W.P. (Line ID: ray-jp)
oleh: Radix W.P. (Line ID: ray-jp)

SEBAGAIMANA saya ramalkan setahun silam, 2017 menjadi tahun gemilang bagi video game konvensional. Tiga game kelas premium hadir. Zelda no Densetsu: Breath of Wild sudah terjual 4,7 juta kopi. Dragon Quest XI –versi PlayStation 4 dan versi Nintendo 3DS– menggebrak dengan tiga juta kopi pada dua hari pertama. Sekarang Super Mario Odyssey ini. Mesin Switch yang dirilis pada Maret lalu juga begitu laris hingga para petinggi Nintendo sedang cemas kekurangan stok untuk liburan akhir tahun nanti.

Segmentasi pasar antara game ponsel dan game konvensional makin terbentuk. Sebagian penggemar game yang awalnya beralih ke ponsel kembali melirik mesin game. Namun, selain catatan penjualan, ada hal yang menarik disimak dari ketiga game di atas. Ada pelajaran tentang regenerasi di sana yang bakal penting bagi kesinambungan bisnis video game.

Dragon Quest XI, sebagaimana seri-seri terdahulunya, masih dipegang tiga maestro gaek. Desainer Yuji Horii, ilustrator Akira Toriyama (yang juga dikenal lewat Dragon Ball), dan komposer Koichi Sugiyama (yang sudah mengerjakan musik anime dekade 1970-an). Ketiganya mampu menjaga agar para penggemar awal Dragon Quest yang sudah dewasa tetap menjadi pasar potensial sekaligus merengkuh pasar pemula. Langkah itu membuat serial Dragon Quest selalu laris, tetapi riskan jika satu di antara ketiganya suatu saat harus pensiun.

Nintendo ambil langkah berbeda. Untuk game sepenting Super Mario Odyssey, ternyata Shigeru Miyamoto tidak turun tangan. Sejak proyek Super Mario Sunshine, secara bertahap Miyamoto-sensei melepas perannya. Generasi yang lebih muda dipercaya sebagai produser dan sutradara. Kini generasi tersebut siap mengambil alih. Miyamoto-sensei hanya perlu memberikan masukan.

Melepas ke generasi muda bukannya tanpa risiko. Saat trio Hironobu Sakaguchi, Yoshitaka Amano, dan Nobuo Uematsu digantikan Tetsuya Nomura, pasar serial Final Fantasy guncang. Perubahan yang terlalu drastis membuat sejumlah seri baru ditinggalkan penggemar lamanya. Cara Nintendo menjalankan alih generasi bagi serial Mario dan Zelda no Densetsu yang tidak mencerabut pakem menjadi pelajaran bagi perusahaan game lain dalam mewujudkan transisi personel yang mulus. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here