Mario Unjuk Gigi di Switch

124

PADA 1996, Nintendo merilis Super Mario 64. Game tersebut merupakan debut Mario dalam grafis 3D setelah merajai genre action 2D sejak 1985. Ketika itu dunia game mengalami euforia 3D dengan ditandai hadirnya mesin Sony PlayStation. Nintendo menjawab tantangan dengan mesin baru Nintendo 64 yang tentu harus disertai game 3D yang representatif.

Misi berat itu diserahkan kepada Shigeru Miyamoto, perancang game dan mesin andalan Nintendo. Dalam proyek Super Mario 64, dia menjadi produser, sutradara, sekaligus desainer. Dia melahirkan kembali Mario dengan konsep baru. Dalam versi 2D, Mario menghadapi aneka rintangan. Di versi 3D, titik beratnya adalah eksplorasi. Rintangan yang dihadapi tidak terlalu banyak, tetapi pemain harus memutar otak dan mengerahkan kelincahan jari untuk membawa Mario ke tempat-tempat baru.

Super Mario 64 sukses besar. Hingga 2003, tercatat penjualan 11 juta kopi. Nintendo pun mengusung konsepnya untuk Super Mario Sunshine (mesin GameCube) dan dua seri Super Mario Galaxy (mesin Wii). Kini, dengan hadirnya mesin baru Nintendo Switch, Mario kembali bertualang di dunia 3D lewat Super Mario Odyssey.

Sebagaimana Super Mario 64 dulu, Super Mario Odyssey dibebani misi berat. Belakangan, bisnis video game konvensional tersaingi oleh game ponsel. Nintendo sempat mengalami penurunan penjualan saat mesin Wii U kalah oleh Sony PlayStation 4. Bersama Zelda no Densetsu: Breath of the Wild yang dirilis beberapa bulan silam, Super Mario Odyssey tidak hanya diharapkan mengangkat pamor Nintendo, tetapi juga menarik kembali minat masyarakat dari game ponsel.

Zelda no Densetsu: Breath of the Wild menjalankan misinya dengan baik sebagai pembuka jalan, mendorong banyak orang membeli mesin Switch. Super Mario Odyssey meneruskan prestasi tersebut dengan meraih penjualan dua juta kopi pada tiga hari pertama. Angka yang spektakuler untuk game yang eksklusif di satu mesin game saja. Apa resep suksesnya?

Super Mario Odyssey menampilkan petualangan di berbagai daerah. Kuppa, sang antagonis, diceritakan hendak menikahi paksa Putri Peach. Tentu saja, Mario berusaha mencegahnya, mengejar dengan menaiki pesawat bernama Odyssey. Di setiap daerah, tugas utama Mario adalah mengumpulkan ikon berbentuk bulan sabit. Mengumpulkan jumlah tertentu ikon tersebut memungkinkan Odyssey menuju daerah baru.

Kali ini Mario ditemani makhluk bernama Cappy yang menyatu dengan topinya. Topi itu punya fungsi tambahan berupa menyerang musuh dan menjadi pijakan ketika dilemparkan. Jika Mario memasang topi tersebut ke aneka musuh atau objek lainnya, jiwa Mario merasuk dan mampu mengendalikannya. Serupa dengan game Meiwaku Seijin: Panic Maker (Amerika: Under the Skin), pemain bisa menjalankan peran-peran berbeda. Jadi katak, peluru meriam, hingga dinosaurus raksasa. Sebagian memungkinkan Mario mencapai tempat-tempat baru. Sebagian lagi memudahkan menyerang musuh.

Banyak hal lain yang mampu dilakukan Mario di tengah petualangan. Misalnya, mengumpulkan koin khusus yang dapat digunakan untuk belanja kostum-kostum baru. Ada juga segmen di mana Mario bertualang sebagaimana dalam game 2D, bisa sambil mengenakan kostum baru. Ada fitur memotret adegan kapan saja yang hasilnya bisa diputar dalam sudut mana pun. Jika pemain memiliki teman, controller kedua dapat digunakan kapan saja untuk mengendalikan Cappy.

Menyelesaikan game itu tidak terlalu sulit. Anak kecil ataupun orang dewasa yang jarang bermain game pun bisa. Namun, untuk menemukan semua ikon bulan dan koin khusus, dibutuhkan kecakapan kelas pemain pro. Pendeknya, Super Mario Odyssey cocok bagi siapa pun sekaligus menjadi satu lagi alasan untuk membeli mesin Switch. (c14/ray)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here