Hendi: Pintar Saja Tidak Cukup

618
BERI MOTIVASI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat membuka pelatihan jurnalistik di SMA N 12 Semarang, kemarin. (Ist)
BERI MOTIVASI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat membuka pelatihan jurnalistik di SMA N 12 Semarang, kemarin. (Ist)

SEMARANG– Bangsa Indonesia saat ini membutuhkan pemuda yang pintar, cerdas dan peduli terhadap bangsanya. Bukan pemuda yang hanya sekadar mengandalkan penampilan fisik saja.

Hal itu dikatakan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat membuka acara pelatihan jurnalistik di SMA N 12 Semarang, Rabu (8/11).

“Hari ini, yang dibutuhkan oleh negara adalah orang-orang yang pintar, yang punya prestasi. Kalau perlu, difabilitaspun sepanjang dia cerdas, pintar, punya kepedulian, dia akan dibutuhkan negara. Hari ini, penilaian terhadap anak muda berubah secara fisik,” tegas Hendi, sapaan akrabnya.

Hendi juga menyatakan jika jenjang pendidikan formal dari TK, SD, SMP, SMA hingga kuliah tidak menjamin pemuda untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Pasalnya, perusahaan besar saat ini tidak hanya membutuhkan pemuda yang secara akademik mempunyai nilai yang bagus. Namun yang dicari adalah pemuda yang juga mempunyai prestasi dan ketrampilan lainnya.

“Hari ini yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan besar adalah anak muda yang secara akademik keren. Nilainya bagus-bagus tapi dia juga punya nilai tambah ketrampilan yang baik,” ujar wali kota.

Hendi pun membeberkan, ada empat golongan anak muda yang dinilainya tersesat akibat pergaulan bebas selama mengenyam pendidikan formal. Keempat kriteria pemuda itu tidak layak untuk ditiru oleh anak-anak muda sekarang. Pertama, anak muda tidak pintar dan tidak peduli. Anak muda itu biasanya mencari aktualisasi dirinya dengan hal-hal yang sesat.

Kedua, pemuda ingin cepat terkenal tapi dengan cara menggunakan narkoba dan menggelar aksi balap liar. Golongan ketiga, pemuda pintar tapi tidak peduli dengan bangsanya sendiri. Padahal bangsanya telah memberikan beasiswa ke luar negeri tetapi dia bertahan dan tidak ingin kembali ke negaraya sendiri untuk membangun bangsanya.

“Begitu lulus di Inggris, begitu lulus di Amerika, begitu lulus di Jerman tapi dia nggak mau pulang  di Indonesia? Kenapa? pasti gajinya lebih gede di sana. Dia lupa, bahwa kecil dia lahir di Indonesia, dia bernafas di Indonesia, dia diberi beasiswa oleh negara Indonesia dan dia tidak peduli pada saat Indonesia membutuhkan ilmunya. Itu namanya kelompok kedua,” ujarnya.

Jenis pemuda yang terakhir adalah, lanjut Hendi,  pemuda yang mempunyai kepintaran namun dirinya tidak peduli. Seorang anak muda yang dia ingin membangun bangsanya, ingin membangun kotanya tapi kemudian dia tidak punya kemampuan untuk membaca bahwa yang dia bantu keliru.

“Contohnya suka ngeshare-ngeshare berita hoax. Lho kamu kok ngeshare berita hoax? Saya ingin memberitahu yang lain. Bahwa Indonesia sedang begini-begini. Padahal itu tidak benar,” pungkas Hendi. (amu/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here