60 Dokter IDI Kendal Belajar Obat Herbal di Sido Muncul

169
Obat Herbal- Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Irwan Hidayat tengah memberikan penjelasan proses pembuatan obat tradisional atau jamu dihdapan 60 dokter IDI Kendal.(tya)
Obat Herbal- Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Irwan Hidayat tengah memberikan penjelasan proses pembuatan obat tradisional atau jamu dihdapan 60 dokter IDI Kendal.(tya)

SEMARANG – Industtri Jamu harus bisa memanfaatkan fasilitas dari kementerian kesehatan dengan adanya direktorat pelayanan kesehatan tradisional. Ini penting karena kebijakan tentang obat asli Indonesia kini mendapat perhatian dari pemerintah.

Penegasan ini dikemukakan Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Irwan Hidayat saat menerika 60 dokter dari Ikatan Dokter Indari (IDI) Kabupaten Kendal, di pabrik Sido Muncul, Bergas Ungaran. Para dokter ini disambut baik, dan Irwan merasa senang, karena para dokter ini maupu melihat langsung proses pembuatan obat tradisional (herbal) Tolak Angin.

“Kedatangan dokter ini untuk belajar tentang proses pembuatan obat herbal. Saya sangat senang para dokter ini datang ke pabrik, sehingga pandangan mereka tentang obat-obat alam akan berbeda, apalagi proses pembuatannya sangat hiegienis,” tutur Irwan.

Menyinggung soal pemerintah kini direktorat pelayanan kesehatan tradisional, mendapat dukungan dari PT Sido Muncul. Justru dengan kebijakan ini industri jamu harus dapat memanfaatkan fasilitas yang diberikan pemerintah, yakni scientifikasi jamu di Puskesmas.

“Saya berharap, dengan hadirnya jamu di Puskesmas insustri jamu dapat memanfaatkan fasilitas dari pemerintah tersebut. Hal ini dikarenakan jamu secara umum ini aman,” jelas Irwan yang pada kunjungan ini juga menghadirkan Prof dr Edi Dharmana SP Park selaku peneliti imunologi Herbal sekaligus guru besar UNDIP. Selain itu juga Hadir peneliti dari Universitas Sanata Dharma Ipang Junarko  yang melakukan penelitian tentang hasil uji toksisitas Tolak Angin.

Secara terpisah Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kemenkes RI , dr Ina Rosalina juga menyampaikan tentang “Kebijakan Obat Asli Indonesia”. Dijelaskan banyak sekali tanaman obat yang memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit. Namun untuk penggunaannya harus sesuai takarannya. Selain itu Ina juga menjelaskan tidak semua tanaman obat bisa dimanfaat, karena ada juga yang mengandung Narkoba, sehingga petugas dalam hal ini Puskesmas harus melakukan pendampingan.

Sementara itu Prof dr Edi Dharmana SP Park, mengungkapkan , untuk melakaukan penelitian obat herbal membutuhkan biaya yang besar, sehingga akan membuat harga obat herbal menjadi lebih mahal. Diakui obat obat kimi sangat mahal, namun dengan adanya obat herbal, diharapkan dapat menekan biaya obat.

Hal senada juga dikemukakan divisi hukum IDI Kendal, dr  Muhammad Thoha , obat herbal atau obat tradisional juga mampu mengurangi biaya obat farmakologi yang mahal. “Paling tidak adanya obat tradisional ini dapat menekan tingginya biaya obat obat kimia hanya akan menghabiskan devisa.  Padahal Indonesia memiliki khasanah bahan material obat yang demikian banyak yang cukup untuk menopang promotif kesehatan nasional,” tambahnya. (tya)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here