Puluhan Warga Kemetul Blokade Pembangunan Tol

161
BLOKADE : Warga Desa Kemetul saat melakukan aksi blokade pembangunan tol ruas Salatiga–Boyolali menggunakan bambu, Selasa (7/11) kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BLOKADE : Warga Desa Kemetul saat melakukan aksi blokade pembangunan tol ruas Salatiga–Boyolali menggunakan bambu, Selasa (7/11) kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Puluhan warga Desa Kemetul Kecamatan Susukan memblokade pembangunan tol Semarang–Solo ruas Salatiga–Boyolali, Selasa (7/11) kemarin. Blokade tersebut sebagai aksi protes warga setempat terhadap pembangunan ruas tol karena tidak dibuatkan akses jalan menuju sawah mereka. Aksi blokade dilakukan dengan memasang pagar bambu.

Menurut Kades Kemetul, Agus sudibyo, sejak dimulainya pengerjaan proyek tol warga kehilangan akses jalan menuju sawah. Selain itu, tanaman mereka mengalami kerusakan. “Warga juga menemukan indikasi penyerobotan tanah warga oleh kontraktor,” ujar Agus.

Akibatnya, beberapa kendaraan berat tidak bisa masuk ke dalam lokasi proyek pembangunan tol. Dalam aksinya, warga menuntut dibuatkan akses jalan menuju sawah yang tertutup proyek jalan tol. Sedangkan saat ini, warga harus jalan memutar sejauh dua kilometer untuk menuju sawahnya.

Karena itulah, dalam tuntutannya, warga meminta ganti rugi dampak pembangunan jalan tol yang membuat produktivitas sawah seluas 32 hektare di sekitar proyek turun hingga 40 persen. “Kerugian warga mencapai Rp 400 juta akibat gagal panen,” tuturnya.

Kegagalan panenan warga disebabkan kurangnya irigasi dan debu yang merusak tanaman padi. Adanya indikasi penyerobotan tanah terlihat dari batas jalan tol dengan pagar sawah yang ternyata mundur. “Patok yang memasang dari kontraktor, kalau bisa dikembalikan seperti yang seharusnya,” ujarnya.

Akibat penutupan lokasi pembangunan tol sepanjang satu kilometer tersebut, pengerjaan proyek menjadi terhambat. Para pekerja proyek yang sedang menggarap pekerjaan tanah terpaksa meninggalkan lokasi. Sementara pihak kontraktor berusaha mengakomodasi keinginan warga. Ganti rugi pertanian dan penggantian akses jalan sedang dalam proses pembahasan.

Humas PT Waskita Karya, Wisnu Dwi Ananta sebagai kontraktor proyek mengatakan keputusan ganti rugi tersebut harus melalui mekanisme. Dimana pengajuan ganti rugi harus ke Solo Ngawi Jawa (SNJ). “Dari SNJ, baru ke kami. Dan kami pasti akan mengerjakannya,” ujarnya.

Diakuinya, hingga saat ini memang belum turun terkait dana ganti rugi tersebut. Wisnu mengklaim jika belum turunnya anggaran tersebut lantaran surat resmi dari Bupati Semarang belum dia terima. “Sudah ditindaklanjuti, cuma dari pihak pimpinan. Saya ini seksi. Dari induk belum ngasih jawaban ke kami. Sehingga masih dalam proses semua,” katanya.

Terkait mundurnya batas lahan, lanjutnya, pihak kontraktor sudah menegur subkontraktor yang memasang pagar melebihi patok batas tanah. Mereka juga siap membongkar pagar tersebut. Sementara warga akan terus bertahan menutup akses pembangunan jalan tol hingga ada kepastian mengenai tuntutan mereka. Warga siap membuka kembali akses, jika tuntutan mereka diperhatikan. (ewb/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here