Makan Diberi Warga, Sempat Viral di Medsos

Kisah Keluarga Imigran Afganistan yang 9 Hari Tinggal di Warung Bakso

146
MENGUNDANG IBA: Keluarga Muhammad Husain asal Afganistan yang sudah 9 hari tinggal di warung bakso dan mie ayam Jalan Sugriwo, Krapyak, Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENGUNDANG IBA: Keluarga Muhammad Husain asal Afganistan yang sudah 9 hari tinggal di warung bakso dan mie ayam Jalan Sugriwo, Krapyak, Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Keluarga asal Afganistan pencari suaka telantar di depan kantor Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang. Ia sempat viral di media sosial Facebook, karena tinggal selama 9 hari di warung bakso dan mie ayam kaki lima milik Sabar, di Jalan Sugriwo RT 9 RW 3, Kelurahan Krapyak, Semarang Barat.

JOKO SUSANTO

IMIGRAN asal Afganistan itu bernama Muhammad Husain. Ia sudah 9 hari tinggal di warung bakso dan mie ayam tersebut bersama istri dan ketiga putranya. Husain mengaku telah kehabisan ongkos, sehingga memanfaatkan warung kaki lima tersebut sebagai tempat istirahat bersama keluarganya. “Saya di sini  sudah 9 hari.  Tidurnya ya di tempat ini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pemilik warung bakso dan mie ayam, Sabar, mengatakan pengungsi asal Afganistan tersebut, yang bisa berbahasa Indonesia hanya anaknya yang paling besar, yakni Ahmad. Jika warungnya dibuka, kata dia, pengungsi tersebut langsung pergi ke pos kamling tak jauh dari lokasi. Sedangkan jika hujan turun, biasanya berteduh di rumah Budi, warga setempat, termasuk apabila mandi dan buang hajat.

“Kalau tidurnya kadang di warung saya, habis saya jualan. Jadi, kalau saya masih jualan, mereka cuma lihat-lihat dan pergi ke pos kamling, termasuk makannya seringnya dikasih sama warga,”ujar Sabar sambil menambahkan ia membuka warungnya pukul 09.00 hingga 20.30.

Ia mengatakan, keluarga asal Afganistan tersebut jarang mandi. Menurutnya, kejadian demikian sudah sering terjadi di wilayahnya. “Di sini (Krapyak, Red) sering ada demikian. Hari sebelumnya juga ada wanita ke sini, sambil nangis-nangis,”katanya.

Ny Jaelani, warga setempat, merasa iba dengan kondisi Husain dan keluarganya. Ia mengaku sempat  menawari untuk tinggal di halaman rumahnya, tetapi mereka tidak mau.  Ny Jaelani sendiri setiap hari memberikan makan sebagai ungkapan rasa kasihan. “Saya memberikan makanan kepada keluarga Muhammad Husein sebagai bentuk kemanusiaan dan tidak ada maksud lain,” ujarnya.

Kepala Rudenim Semarang, Rudi Faisal, mengatakan pihaknya telah memfasilitasi keberangkatan keluarga asal Afganistan ini ke Bogor pada Selasa (7/11) sekitar pukul 11.30, kemarin. Namun demikian, pihaknya mengaku tidak mengetahui mengapa keluarga itu bisa datang ke wilayahnya. Menurutnya, keluarga tersebut sengaja datang ke Semarang untuk mencari tempat tinggal, karena statusnya sudah menjadi pencari suaka.

“Ruang pengungsi di sini (Rudenim Semarang, Red) sudah penuh, makanya tidak kami terima, bukan mau telantarin mereka. Kalau diterima, nanti banyak yang datang, karena biasanya mereka saling berhubungan sesama pengungsi,” jelas Rudi Faisal saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya.

Diakuinya, keluarga asal Afganistan tersebut seminggu sebelumnya memang sudah datang ke kantornya. Ia mengatakan, kejadian demikian sudah keempat kalinya. “Dulu juga ada dari Afganistan, kalau yang kemarin ngakunya awalnya dari Bogor. Biasanya kalau kita terima pasti temannya pada datang, akhirnya kita tolak, kecuali ada pertukaran pengungsi, karena di luaran juga ada ribuan jumlahnya,”kilahnya.

Rudi mengatakan, saat ini jumlah pengungsi yang ditampung di Rudenim Semarang sebanyak 140 pengungsi, yang terdiri atas warga Afganistan, Somalia, Sudan, Iran, Pakistan, Srilanka, Vietnam dan Irak  “Jumlah tersebut termasuk balita dan anak-anak, makanya sudah membludak,”ujarnya.

Kepala Seksi Wasdakim (Pengawasan dan Penindakan) Kantor Imigrasi Klas I Semarang, Indarto, mengaku sempat kaget dengan informasi beredarnya warga Afganistan tersebut. Apalagi informasi awalnya disebutkan di depan Kantor Imigrasi. Tak heran jika usai salat subuh, ia langsung menelusurinya menggunakan sepeda motor, hingga menemukan warga Afganistan tersebut di depan Kantor Rudenim Semarang.

“Permasalahan keluarga asal Afganistan pencari suaka yang viral tersebut ditangani Rudenim. Kalau ke Imigrasi pasti juga kami arahkan ke Rudenim, hal itu sesuai perintah Perpres Nomor 125 Tahun 2016 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri,”jelasnya.

Kasi Kamtib Kantor Rudenim Semarang, Dwi Afandi Farid mengatakan, setelah dilakukan pengecekan dokumen yang tertera adalah pencari suaka yang diterbitkan oleh UNHCR yang berada di Jakarta dan status mereka diberikan akhir Juni 2017.  “Dari pengakuan mereka, sebelumnya tinggal di Bogor, namun kehabisan dana untuk mengontrak dan sebagainya,” katanya. (dilengkapi nur wahidi/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here