Gereja Harus Punya Sense of Belonging

129
PAPARAN: Pdt Prof John Haba (tengah) dan Pdt Dr Djoko Prasetyo (paling kanan) saat memberikan pembahasan tentang hubungan gereja dan budaya (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PAPARAN: Pdt Prof John Haba (tengah) dan Pdt Dr Djoko Prasetyo (paling kanan) saat memberikan pembahasan tentang hubungan gereja dan budaya (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Ratusan pendeta anggota Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat  (GPIB) mengikuti acara Konsultasi Teologi GPIB 2017 dan Peringatan 500 tahun Reformasi Gereja “Ecclesia Reformata Samper Reformandaest” Mupel Jateng-DIJ, Mupel Jatim, Mupel DKI Jakarta, dam Mupel Jabar II, di Hotel Puri Garden Semarang, Selasa (7/11) siang.

Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB,  Pdt  Y Marlene Joseph mengatakan, jika kegiatan tersebut dalam rangka ulang tahun ke-69 GPIB, di mana digelar kegiatan reformasi gereja, bhakti sosial, konsultasi theologi, kegiatan penanam mangrove, serta ibadah syukur di Gereja Blenduk dan GPIB Jamaah Filadelfia.

“Kita juga melakukan rekonstruksi teologi misi gereja dengan memperbarui pelayanan dan kesaksian gereja.  Tujuannya, untuk mewujudkan misi Allah di tengah keberagaman masyarakat,” katanya.

Menurut  dia, posisi gereja di tengah masyarakat harus bisa membangun bangsa dengan landasan ideologi Pancasila. Tujuannya, untuk mewujudkan masyarakat damai dan sejahtera lewat kesepakan berbangsa dan bernegara.

Pdt Dr Djoko Prasetyo dalam pemaparannya mengatakan, di tengah ruang publik, gereja harus punya sense of belonging, rasa memiliki dan melindungi sesama, serta bertanggungjawab memajukan lingkungan sekitar. “Jadi, harus ada komunikasi antara gereja dan lingkungan sekitar,” ujarnya. (den/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here