1,5 Bulan, Kebut 3 Raperda

133

MAGELANG – Meski menyisakan masa kerja tahun 2017 kurang dari 1,5 bulan, DPRD Kota Magelang terus mengebut pembuatan rancangan peraturan daerah (raperda). Dewan optimistis bisa menuntaskan tiga dari lima pembahasan raperda yang diajukan eksekutif.

Ketiga Raperda yang ditargetkan bisa selesai tahun ini adalah Raperda Penanggulangan HIV/AIDS, Raperda tentang Kepariwisataan, dan Raperda tentang Inovasi Daerah. “Terkait raperda yang sudah masuk dalam pembahasan, sudah dibentuk panitia khusus (pansus) dan kami berharap, bisa tuntas akhir tahun 2017 nanti,” kata Ketua DPRD Kota Magelang Budi Prayitno, Selasa (7/11).

Udi, panggilan akrab Budi Prayitno, menjelaskan, Raperda Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Magelang dirasakan sangat mendesak sehingga harus selesai dalam sisa waktu 1,5 bulan terakhir. Raperda Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Magelang ini akan menjadi bahasan intensif Pansus IX yang diketuai oleh Aktib Sundoko. Produk hukum ini akan menitikberatkan upaya pencegahan dan juga mampu melindungi hak-hak para penderita HIV/AIDS.

Dijelaskannya, berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kota Magelang, di Kota Magelang terpantau ada 112 penderita HIV sejak 2004 silam. Untuk terus mengurangi jumlah penderitanya, dewan dan Dinas Kesehatan telah berupaya dengan cara sosialisasi, edukasi, dan salah satunya memproduksi payung hukum perda ini. “Selama ini stigma masyarakat terhadap penderita HIV itu harus dikucilkan, karena kalau tidak, bakal menular. Padahal itu persepsi yang sangat salah. Mestinya mereka tidak dikucilkan, tapi diberdayakan, dimanusiakan, mereka punya hak yang sama,” papar Udi.

Dengan adanya perlindungan hukum kepada penderita, menurut Udi, secara otomatis pemerintah menjamin segala aktivitas mereka termasuk berhubungan dengan perekonomian yang bersangkutan. Sebab selama ini, ada stigma bahwa penderita HIV/AIDS berbahaya dan dikucilkan sehingga rata-rata penderita malu dan tidak mau berobat.

“Perda ini sebagai dasar perhatian pemerintah setempat agar mereka merasa percaya diri di masyarakat, dan kerahasiaan mereka tetap terjaga. Kalau misalkan ada yang positif, mereka tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Mereka selama ini menghindar karena merasa dikucilkan,” kata Udi. (cr3/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here