Saat Nge-DJ Pernah “Ditawar’ Om-Om Rp 6 Juta

Ceicilia Novita Prameswari, Advokat yang Juga Disc Jockey (DJ)

154
BEDA PROFESI: Ceicilia Novita Prameswari (dua dari kanan) saat mendampingi Theodorus Yosep Parera dalam acara seminar di kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES). (kanan) Ceicilia Novita Prameswari saat tampil nge-DJ. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BEDA PROFESI: Ceicilia Novita Prameswari (dua dari kanan) saat mendampingi Theodorus Yosep Parera dalam acara seminar di kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES). (kanan) Ceicilia Novita Prameswari saat tampil nge-DJ. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Dua profesi yang dijalani Ceicilia Novita Prameswari ini cukup unik. Ia tidak hanya seorang advokat, namun juga berprofesi sebagai disc jockey (DJ). Seperti apa?

JOKO SUSANTO

 CEICILIA Novita Prameswari kerap mendampingi perkara hukum baik pidana umum maupun kasus korupsi yang dialami kaum marjinal. Saat ini, ia aktif di kantor Law Office Yosep Parera and Partners. Vita –sapaan akrabnya—telah lulus ujian sebagai pengacara di organisasi Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) dan lulus Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA). Ia tinggal menunggu penyumpahan di Pengadilan Tinggi (PT) Jateng.

Selain menjadi advokat, gadis kelahiran Semarang, 28 November 1990 ini cukup popular sebagai DJ di Kota Lunpia. Profesi itu ia jalani sejak masih kuliah di Fakultas Hukum (FH) Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang.

Di hiburan malam, Vita populer dengan nama DJ Queen Viee. Ia pernah tampil di sejumlah klub dan kafe, di antaranya Liquid, E-Plaza, SLS Solo, Residance, 123 Novotel, X-Point dan lainnya. Putri bungsu dari 2 bersaudara pasangan Joko Soehardjono dan Maria Sulistyaningrum ini mengaku biasanya ia menggunakan mekanisme kontrak selama 1 bulan dan terkadang sekali event dalam pertunjukannya. Ia juga mengaku merupakan tipikal wanita yang suka musik, sehingga apabila ingin tidur harus terlebih dahulu mendengarkan musik.

Ia mengaku, belajar nge-DJ pada 2013 di RED DJ Jalan Erlangga Semarang selama 3 bulan. Setelah itu, DJ wanita ini tampil perdana di Kafe Vegas Plampitan.  “Saya memang suka dunia musik, makanya daripada joget-joget doang kalau ke klub, mending aku di atas sebagai pemandu musiknya. Dari situlah, saya mulai belajar nge-DJ,” kenang Vita kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (6/11).

Setelah memiliki kemampuan nge-DJ, sejumlah tawaran job pun datang. Apalagi DJ wanita dinilai langka. “Kali pertama tampil cuma diberi honor Rp 300 ribu, waktu itu seneng banget, perlahan ada yang kontrak selama 1 bulan diberi honor RP 750 ribu per hari. Pernah juga sehari tampil di event dapat Rp 1,8 juta bersih, hotel dan sebagainya ditanggung panitia,”kenangnya.

Alumni FH Untag 2015 ini bersyukur dari jerih payah tersebut, honornya bisa ditabung. Ia mengaku bukan tipikal gadis yang mudah menghabiskan duit. Vita juga senang setiap tampil menggunakan kostum bebas.

Dia mengaku pernah memiliki pengalaman tak terlupakan saat tampil nge-DJ tanpa didampingi sahabatnya. Saat itu, ada seorang pria dewasa alias om-om datang langsung ke hadapan panggung DJ. Tanpa rasa sopan, om-om itu langsung ‘menawar’ dirinya Rp 4 juta hingga naik menjadi Rp 6 juta dengan isyarat jari.

“Awalnya aku ndak ngeh tentang tawaran itu, baru saya tanya MC. Ternyata bapaknya itu kalau mabuk memang suka nawar-nawar cewek. Di situlah aku sampai drop dan jengkel. Usai acara aku langsung merenung, ternyata dunia malam sampai mengerikan begitu,”kenangnya.

Perlahan-lahan ia mulai bisa menerima hidup di dunia hiburan malam. Baginya terpenting saat manggung, harus bisa mengontrol saat ada tawaran minum (alkohol, Red), karena ia memang berpegang teguh saat di atas panggung tidak akan pernah minum. Namun begitu usai acara, untuk menghormati fans biasanya ia bersedia minum walau sedikit, dan tetap selalu mengontrol agar tidak sampai mabuk.

“Kalau tampil di panggung, kemudian mabuk pasti musik yang akan didengerkan ndak pas dan pasti berantakan. Makanya, kalau diajak minum, saya menolak halus. Kalau dikasih minum botol atau gelas kecil saya katakan nanti saja usai acara, yang penting tetap jaga keramahan dengan pengunjung,”katanya.

Bukan hanya itu saja, pengalaman lain yang dirasakan Vita adalah pernah ada razia Polisi Militer (PM) di klub tempatnya perform, hingga semua aktivitas musik langsung berhenti, dan semua pengunjung kalang kabut. Sama juga ketika ada razia Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jateng, saat itu juga lampu langsung dinyalakan.

Ia mengaku, setiap kali tampil, sekitar 1 jam. Dalam dunia malam, diakuinya, pandangan negatif dari masyarakat memang selalu ada. Sehingga ia selalu berpedoman dalam hidup tetap selalu berbuat baik. Ia menilai, sebenarnya, setiap orang tidak perlu jadi DJ sekalipun, juga banyak tercebur dalam dunia narkoba, termasuk hamil duluan, sehingga menurutnya semua tetap kembali kepada individunya.

“Nanti dilihat saja ending-nya. Saya sampai sekarang juga masih steril, sekalipun masyarakat banyak mengecap buruk tentang DJ. Tapi wajar saja namanya kerja dunia malam secara refleks pasti ada tanggapan negatif, terpenting semua kembalikan ke individu masing-masing,”tandasnya. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here