Ratusan Tumpeng Dikirab, Gunungan Diperebutkan

Tradisi Saparan di Lereng Merbabu

145
SAPARAN: Warga membawa tumpeng untuk dikirab dan dodoakan dalam tradisi Saparan di lereng gunung Merbabu. (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU)
SAPARAN: Warga membawa tumpeng untuk dikirab dan dodoakan dalam tradisi Saparan di lereng gunung Merbabu. (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU)

Tradisi Saparan di lereng gunung Merbabu, Kabupaten Magelang, masih begitu kuat. Ratusan warga, secara swadaya, membuat tumpeng sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

RATUSAN tumpeng milik warga dikirab dan didoakan bersama-sama. Prosesi arak tumpeng dan ingkung, dipimpin oleh seorang seniman bernama Agus Merapi. Membawa dupa, Agus berada di depan. Di belakangnya, ratusan ibu berjalan sembari membawa aneka gunungan tumpeng nasi dan sayuran.

Arak-arakan melewati jalan utama yang menghubungkan Magelang-Boyolali sampai perbatasan wilayah Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Warga lantas kembali lagi menuju kampung yang berada di kaki gunung Merbabu.

Usai diarak, tumpeng dan inkung yang jumlahnya sekitar 300-an itu, diletakkan di pertigaan jalan desa untuk kembali didoakan. Selesai doa, nasi tumpeng dan ingkung dimakan bersama-sama. Sedangkan untuk gunungan, direbutkan oleh warga, terutama anak-anak.

Kepala Dusun Sanden, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Padi, 33, mengatakan, tradisi Saparan digelar selama dua hari. Ada sekitar 300 ingkung, nasi tumpeng, dan jajan pasar. Saparan merupakan tradisi warga yang sudah dilakukan sejak nenek moyang. Malamnya, warga menggelar pertunjukan kesenian tradisional, Tayub. Panitia juga mendatangkan ledek dari Wonosobo.

Padi menyampaikan, tradisi Saparan digelar sebagai rasa syukur warga atas melimpahnya hasil panen sayur-sayuran yang selama ini menjadi penghasilan utama masyarakat setempat.

“Ini salah satu wujud syukur warga atas melimpahnya hasil tanaman sayuran. Karena setiap hari, sekitar 8 ton sayuran hasil panen warga, baik sayur wortel, kobis, tomat, cabai, dan sayuran lainnya,” katanya.

Kata Padi, mayoritas warga merupakan petani. Mereka menaman sayuran seperti wortel, kobis, kacang, cabai, dan tomat. “Warga kami ada sekitar 500 orang jiwa, dari 183 Kepala Keluarga (KK), mayoritas petani sayuran.”

Seniman yang juga pelaku ritual, Agus Merapi menambahkan, ritual Saparan sekaligus memperingati erupsi Merapi pada November 2010 silam. Harapannya, dengan kirab ini, selain menjaga tradisi, juga mengingatkan warga pada alam. Sebab alam telah memberikan manfaat besar bagi warga. “Melalui ritual ini, kita mengingatkan warga agar tetap menjaga dan melestarikan alam.” (vie/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here