Jateng Zona Merah Banjir-Longsor

134
WASPADA BENCANA : Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng, Hadi Santoso bersama Kepala PUSDA-PA Jateng, Prasetyo Budi Yuwono dalam Dialog Bersama Parlemen Jawa Tengah. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
WASPADA BENCANA : Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng, Hadi Santoso bersama Kepala PUSDA-PA Jateng, Prasetyo Budi Yuwono dalam Dialog Bersama Parlemen Jawa Tengah. (MIFTAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – DPRD meminta Pemprov Jateng maupun pemerintah kabupaten/kota lebih waspada menghadapi musim penghujan. Sebab, saat ini 30 daerah di Jateng rawan bencana baik bencana banjir maupun longsor. Dewan meminta upaya antisipasi sejak dini agar bisa meminimalisir atau bahkan bisa menekan korbannya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng, Hadi Santoso mengatakan Pemprov harus memetakan benar-benar daerah rawan bencana. Dengan begitu, antisipasi bisa dilakukan sejak dini. “Jateng masuk zona merah banjir dan longsor, ini harus menjadi perhatian serius,” katanya dalam Dialog Bersama Parlemen Jawa Tengah dengan tema “Pengendalian Banjir di Jawa Tengah” di Hotel Pandanaran, kemarin.

Ia menambahkan, bencana banjir saat ini terus mengalami pergeseran dari tahun ke tahun. Dulu banjir sering terjadi di daerah bawah atau cekungan, tetapi sekarang justru menyebar. Salah satu penyebabnya karena sumber resapan air yang mulai berkurang akibat pembangunan yang semakin gencar. “Harus ada upaya yang konkret agar bencana banjir dan tanah longsor tidak menjadi tradisi di Jateng,” tambahnya.

Dia tak menampik jika Pemprov maupun kabupaten/kota terus berupaya mengatasi persoalan tersebut. Diantaranya dengan membangun embung sebagai penampung air serta pengerukan sungai agar bisa menampung debit air sebagaimana mestinya. Tetapi berbagai upaya itu masih belum maksimal, mengingat kesadaran masyarakat akan sadar bencana juga masih minim. “Masyarakat harus diajak agar bisa sadar bahaya bencana, misalnya dengan jangan membuang sampah sembarangan dan menjaga kelestarian alam,” ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Air (PUSDA-PA) Jateng, Prasetyo Budi Yuwono mengaku sudah memetakan daerah rawan bencana. Setidaknya ada 30 daerah yang rawan banjir maupun longsor. Mulai dari Cilacap, Kebumen, Perworejo, Solo Raya sampai Demak dan Semarang. “Sebagian besar karena sedimentasi sungai yang tinggi. Makanya kami terus melakukan upaya dengan pengerukan dan memperbanyak kawasan resapan air,” tambahnya.

Ia menambahkan, perubahan tata guna lahan juga menyebabkan banjir dan bencana tanah longsor. Ia mengajak masyarakat tidak tutup mata melihat berbagai kondisi bencana yang terjadi. Masyarakat harus bisa menjaga dan melestarikan alam secara bersama. “Kami juga mengajak untuk resik kali dan memperbanyak drainase, sehingga resapan air banyak dan bisa menyerap air lebih besar,” tambahnya. (fth/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here