GIF Berbau Pornografi Kesalahan Operator

186

SEMARANG – Baru-baru ini publik di media sosial (medsos) ramai menyoal adanya konten gambar animasi GIF di WhatsApp (WA) Sebetulnya WhatsApp telah lama menyediakan konten gambar GIF ini sebagai pendukung fasilitas tambahan untuk chatting. Tujuannya agar memudahkan komunikasi pengguna dan lebih ekspresif.

Namun belakangan ini fitur tersebut diketahui menyediakan konten berbau pornografi dan dianggap meresahkan warga. Pengguna tinggal mengetik kata kunci, misalnya menuliskan kata ‘sex’, maka akan muncul berbagai macam gambar bergerak dalam format GIF yang berbau seks’. Gambar tersebut langsung bisa dibagikan ke pengguna WA lain atau ke grup WA.  Hal ini mendapat respons masyarakat secara beragam. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) diminta tegas dan cepat menindaklanjuti kasus tersebut dengan pemblokiran.

“Kominfo sebaiknya tegas, langsung blokir. Kalau mereka ingin membuka lagi, silakan ke Indonesia biar mereka paham hukum di negara kita,” kata Pakar Teknologi Informasi Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Sholichul Huda, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (6/11).

Dikatakanya, Kominfo pastinya memang hanya memantau lalu lintas dan fitur dari WhatsApp. Artinya, berhubungan dengan konten, biasanya mereka bertindak kalau ada laporan, karena mereka tidak mengawasi operasional WhatsApp sampai detail. “Kecuali kalau itu tampak mencolok pasti akan ditegur atau diblokir karena melanggar Undang-Undang Pornografi. Ya, ini pasti kesalahan operatornya sendiri,” ujarnya.

Penyelesaiannya, kata Huda, Kominfo bisa segera melakukan tindakan tegas. WhatsApp perlu ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia. “Permasalahannya, konten ini sebetulnya kan sudah ada lama dan tidak menjadi masalah. Karena selama ini jarang orang memakai WhatsApp sampai menemui animasi porno. Begitu ada yang tahu langsung disebarkan lewat WhatsApp dari grup ke grup,” katanya.

Dikatakannya, sebetulnya konten seperti GIF tu dipandang pornografi bagi negara Asia, tetapi bagi negara pembuat WhatsApp sendiri itu bukan masalah. “Ini untuk pembelajaran semua pembuat aplikasi medsos, sebaiknya yang dibuat bisa diterima oleh adat semua masyarakat di dunia. Saya yakin dia membuat konten itu karena ingin menang dalam persaingan merebut pengguna medsos lainnya. Mereka tahu, bahwa konten itu tidak baik untuk anak, sehingga fiturnya di sembunyikan,” ujarnya.

Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, mengatakan, pemerintah dalam hal ini Kemenkominfo seharusnya segera melakukan tindakan cepat. “Kemenkominfo harus segera menutup konten-konten yang membahayakan bagi generasi bangsa ini,” katanya.

Dia mengimbau agar para orang tua lebih berhati-hati mendampingi anak-anaknya di tengah era teknologi seperti saat ini. “Kewajiban orang tua untuk dapat mengawasi dan mengadakan pendampingan terhadap anak-anak yang bermain gadget. Orang tua harus bisa memantau konten-konten yang dibuka oleh anaknya. Termasuk memberikan pemahaman kepada anaknya. Selain itu juga para guru untuk memberikan arahan dan pembelajaran bagi siswanya,” pesannya.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kota Semarang, Nana Storada mengatakan,  pihaknya masih terus mengikuti perkembangan dan arahan dari Kemenkominfo. “Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang atau provinsi, serta Kemenag untuk memberi sosialisasi terhadap para siswa. Tujuannya, agar siswa dapat memilah informasi di era digitalisasi untuk kegiatan positif,” katanya.

Pihaknya mengaku mendorong Kemenkominfo untuk secepatnya bertindak sebagaiman yang telah disampaikan di sejumlah media. “Sekali dilihat bisa tersimpan di handphone anak-anak. Karena itu, agar orang tua dan guru di sekolah mengecek dan meminta membersihkan file-file tersebut apabila ada yang menyimpan,” ujarnya. (amu/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here