Ditunggu, Pergerakan Partai Dominan

133

SEMARANG – Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang memiliki kursi terbatas di DPRD Jateng, tampaknya masih menunggu pergerakan ‘partai dominan’ untuk menentukan langkah pada Pilgub Jateng 2018. Terlebih saat ini belum ada satu pun partai yang menurunkan rekomendasi.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Jateng, Rinto Subekti mengaku, pihaknya masih melihat perkembangan politik di Jateng. Dia menilai, atmosfer politik di Jateng tergolong unik karena hanya segelintir sosok yang berani vulgar mendeklarasikan sebagai bakal calon gubernur. “Mungkin karena posisi petahana yang sampai sekarang masih menduduki peringkat tertinggi dalam survey,” ucapnya, Senin (6/11).

Diakui, Demokrat juga masih menunggu waktu yang pas untuk memunculkan nama yang bakal diusung dalam bursa Pilgub Jateng. “Kami belum mengusulkan nama dari kader internal. Juga belum memutuskan akan mengusung nama yang sudah muncul seperti Sudirman Said, Marwan Jafar, atau Ferry Juliantono,” paparnya.

Keputusan mengusung calon gubernur lanjutnya, akan ditentukan setelah Demokrat menjalin koalisi politik. Pasalnya, Demokrat tidak punya cukup kursi di DPRD Jateng untuk mengusung calon sendiri. Artinya, butuh kesepakatan dengan koalisi dalam menentukan nama yang bakal diusung. “Kami sudah menjalin komunikasi dengan semua partai. Terutama Gerindra, Golkar, dan tidak menutup komunikasi dengan PDI Perjuangan,” tegasnya.

Setali tiga uang, Ketua Desk Pilkada DPW PAN Jateng, Wahyudin Noor Aly menjelaskan, pihaknya belum memastikan siapa yang bakal diusung dalam Pilkada Jateng. Entah dari kader internal atau eksternal. “Kalau soal peluang, Sudirman Said sudah berkomunikasi langsung dengan DPP,” bebernya.

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan DPW PAN tetap mengajukan calon dari kader internal. Proses penjaringan bakal dilakukan untuk diusulkan di tingkat DPP. “Sementara ini, kami masih menjalankan tugas dari DPP. Yaitu memantau siapa saja yang sering turun langsung ke masyarakat untuk melakukan sosialisasi,” terangnya.

Mengenai upaya koalisi, pria yang akrab disapa Goyud ini mengaku sudah cukup mengerucut berkomunikasi dengan parpol lain. Terutama yang punya sedikit kursi di DPRD Jateng. Seperti Gerindra, PKS, dan PKB. “Saya rasa yang tak punya cukup kursi akan menjalin koalisi. Kalau tidak begitu kan tidak bisa ikut mengusung calon. Kalau di tingkat DPP, komunikasi juga dengan PDI Perjuangan,” imbuhnya.

Sementara itu, pengamat politik dan pemerintahan Undip, Muhammad Yulianto menilai, partai yang tak punya cukup kursi bakal bergabung untuk mengusung calon alternatif. Mereka punya peluang dan otoritas untuk menjadi pemain utama dalam Pilgub Jateng. “Meski tak punya banyak kursi, mereka bisa bergabung untuk mengajukan calon alternatif,” ungkapnya.

Calon itu, lanjutnya, tidak harus dari internal salah satu partai. Bisa juga mengambil sosok dari luar Jateng yang dianggap punya kompetensi, kualitas, dan kapasitas untuk menjadi pemimpin Jateng. Apalagi, nama-nama yang muncul sekarang memang bukan dari Jateng. (amh/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here