86 Tanah Wakaf Terdampak Tol Belum Diganti

159

SEMARANG-Tanah wakaf yang terkena dampak proyek tol Batang-Semarang dan Salatiga-Mantingan, belum sepenuhnya diganti pemerintah. Terhitung ada 86 bidang tanah wakaf berupa masjid, musala, dan makam. Keberadaan tanah wakaf tersebut antara lain pada ruas Batang-Semarang I, Batang-Semarang II, Batang-Semarang III, Semarang-Salatiga, Salatiga-Boyolali, Solo-Mantingan I, dan Solo-Mantingan II. Jumlah total lahan mencapai 43.343 meter persegi.

Kepala Badan Wakaf Jateng, Noor Achmad,¬†menjelaskan, sesuai UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf diatur bahwa harta wakaf tidak boleh disita, dijaminkan, dihibahkan, dijual, diwariskan, atau dialihkan dalam bentuk tujuan lain. “Itu dijelaskan di pasal 40,” jelas Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI ini, Senin (6/11).

Di pasal 41, lanjutnya, disebutkan, kecuali untuk kepentingan umum. Sedangkan pada pasal 41 ayat 2, meski untuk kepentingan umum harus ada izin tertulis dari menteri dan Badan Wakaf Indonesia. Tapi hingga saat ini, lanjut Noor Achmad, yang juga menjabat Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), belum ada pengajuan dari pihak manapun ke badan wakaf. Padahal banyak tanah wakaf yang sudah digali untuk pembangunan proyek tol.

Sedangkan pada pasal 41 ayat 3, juga dijelaskan bahwa harta wakaf yang diperuntukkan untuk kepentingan umum wajib ditukar dengan harta benda yang bermanfaat. Nilai tukarnya pun harus sekurang-kurangnya sama. “Proses-proses ini semua belum dilakukan. Kami berharap agar segera diselesaikan,” harapnya.

Dia pun mengimbau pada pelaksana proyek jalan tol untuk segera menyelesaikan persoalan tersebut. Sebab, jika hal itu tidak segera diselesaikan, berarti akan melanggar undang undang. “Bagi yang sudah dibongkar harus segera diganti. Kita memaklumi prosesnya berjalan dulu nggak apa-apa, asal segera dicari gantinya,” tuturnya.

Dia mewanti-wanti, agar persoalan mengenai tanah wakaf bisa lebih berhati-hati. Karena tanah tersebut merupakan amanat dari pemberi wakaf yang harus tetap ada. “Nampaknya, kami menduga, pihak pelaksana proyek jalan tol juga nggak paham soal ini,” katanya.

Di lain pihak, Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah untuk Pembangunan Jalan Tol Batang-Semarang II, Sriyono, mengatakan, di wilayahnya terdapat 14 tanah wakaf yang terkena dampak pembangunan jalan tol. Dari jumlah tersebut, 12 bidang di antaranya sedang proses pemberian lahan calon pengganti dan sudah divalidasi.

“Kalau yang di Kota Semarang tidak ada persoalan. Dua minggu berturut-turut ini kami sudah rapat koordinasi dua kali dengan pihak-pihak terkait. Para nadhir wakaf sudah bisa memahami karena sudah dicarikan lahan pengganti, dan mereka juga sudah cocok,” ujar Sriyono, yang juga Kepala BPN Kota Semarang ini.

Sedangkan tanah wakaf yang sebelumnya berdiri bangunan musala maupun masjid yang sudah tidak dipergunakan untuk tempat ibadah, sebagian para nadhir sudah mengizinkan untuk dibongkar. Secara bersamaan, proses pembangunan tempat ibadah yang baru sedang berjalan.

“Sementara untuk dua tanah wakaf, masih minta persetujuan nadhir-nya. Kamis mendatang kami akan rapat koordinasi dengan semua pihak untuk duduk bersama,” katanya.

Di wilayahnya, sejauh ini ke-12 tanah wakaf terdampak jalan tol semuanya bersertifikat, dan sudah diukur luasannya, sudah dihitung nilai bangunan dan tanahnya melalui tim appraisal. “Jadi, tinggal pelaksanaan pembangunan saja,” cetusnya. (amh/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here