Laju Kendaraan Sangat Kencang, Jatingaleh Butuh JPO

Keberadaan JPO, Dibutuhkan Tapi Kurang Dirawat

165
BAHAYA BAGI PEJALAN KAKI : Kawasan Flyover Jatingaleh membutuhkan JPO, meski sudah dilengkapi dua terowongan bagi pejalan kaki untuk menyeberang yang letaknya jauh (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BAHAYA BAGI PEJALAN KAKI : Kawasan Flyover Jatingaleh membutuhkan JPO, meski sudah dilengkapi dua terowongan bagi pejalan kaki untuk menyeberang yang letaknya jauh (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) merupakan hak pejalan kaki. Sayangnya, banyak JPO yang sudah ada, kurang terawat dan kurang dimaksimalkan. Bahkan, di Jatingaleh yang arus lalu lintasnya padat dan kerap terjadi kecelakaan, justru belum dilengkapi JPO.

ARUS lalulintas yang padat di kawasan Flyover Jatingaleh, sangat berbahaya bagi para penyeberang jalan dari arah utara menuju selatan ke arah Pasar Jatingaleh. Di daerah tersebut, kerap terjadi kecelakaan lalulintas, sehingga meresahkan masyarakat sekitar. Tak sedikit, masyarakat yang menginginkan adanya JPO di daerah tersebut.

Salah satu pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan di wilayah tersebut, Kartika, 25, warga Jangli mengatakan, kawasan Jatingaleh ini tidak ramah bagi para pejalan kaki yang hendak menyeberang. Pasalnya, para pengendara mobil maupun sepeda motor, baik yang dari arah bawah (Kota Semarang, red) menuju ke arah atas (Tembalang, red) memacu kendaraannya sangat kencang.

“Dulu disitu memang ada JPO, tapi orang tidak mau pada naik ke JPO, karena jembatannya dari kayu dan kayunya pada reyot sehingga takut ambruk. Kayunya sudah lapuk,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (4/11) kemarin.

Menurutnya, kawasan Flyover Jatingaleh tersebut harus segera dipasang JPO seperti yang dulu ada di dekat Kesatrian. JPO tersebut dibuat dengan bahan beton, sehingga lebih kuat dan tidak mudah rusak. Jangan sampai menunggu ada korban kecelakaan lagi. “Tapi jangan terus JPO-nya ditutup sama baliho raksasa, orang yang mau lewat kan jadi takut kena palak, karena tidak kelihatan dari bawah,” ujarnya.

Berbeda dengan Kartika, salah seorang juru parker, Andri mengatakan, bahwa JPO tidak begitu diperlukan. Sebab, sudah tersedia terowongan di sebelah atas yang dapat dimanfaatkan pejalan kaki untuk menyebrang di bawah flyover. “Kan sudah dibikinkan terowongan di sisi utara. Mungkin pejalan kaki kurang mengerti dan lebih suka mengambil jalan pintas,” katanya.

Diakuinya, kebanyakan orang memang enggan berjalan sedikit lebih jauh untuk melewati terowongan dan memilih melintasi bagian tengah dari seberang Pasar Jatingaleh atau dekat masuk pintu tol.

Sependapat dengan juru parkir, Setyo Nugroho warga setempat pun mengatakan bahwa terowongan tersebut jauh lebih aman digunakan oleh pejalan kaki untuk menyeberang daripada melewati ruas Flyover Jatingaleh yang dilalui oleh kendaraan berkecepatan tinggi.

“Setahu saya, Flyover Jatingaleh ada 2 terowongan untuk pejalan kaki, jadi penyeberang harus tahu biar tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Mungkin pemerintah atau petugas berwenang harus bikin sosialisasi biar banyak yang tahu,” kata dia.

Kendati begitu, sebagian warga di kawasan Jatingaleh menyatakan bahwa infrastruktur baru di Kota Semarang ini masih menyisakan masalah. Selain fasilitas penyeberangan, warga juga mengeluhkan drainase fly-over yang sangat buruk sehingga sering tergenang ketika dilanda hujan deras. “Selain fly-over, itu lho di tengah-tengah kalau habis hujan, pasti banjir. Mosok infrastruktur baru bisa sampai begitu, harus lebih diperhatikan lagi lah,” tandasnya. (tsa/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here