Anak Muda Diajak Kampanye Antikorupsi yang Kekinian

130
GERAKAN KAUM MUDA : Syarif Prasetyo saat memberikan paparan di hadapan siswa SAKSI angkatan I untuk jadwal pertemuan kedua di Gazebo depan perpusataan gedung pusat Unnes, Minggu (5/11) (Joko susanto/jawa pos radar semarang).
GERAKAN KAUM MUDA : Syarif Prasetyo saat memberikan paparan di hadapan siswa SAKSI angkatan I untuk jadwal pertemuan kedua di Gazebo depan perpusataan gedung pusat Unnes, Minggu (5/11) (Joko susanto/jawa pos radar semarang).

SEMARANG – Materi tentang “Cara Sosialisasi, Kampaye, dan Propoganda kepada Masyarakat untuk Menanamkan Sikap Antikorupsi” dikupas tuntas dalam pertemuan kedua Sekolah Anti Korupsi (SAKSI) yang diadakan Penghubung Cabang (PC) Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Dalam sekolah berkonsep alam tersebut pengajar yang dihadirkan adalah calon doktor lingkungan Undip, Syarif Prasetyo. Acara digelar di Gazebo depan perpusataan gedung pusat Unnes, Minggu (5/11).

Syarif Prasetyo dalam paparannya mengatakan, perubahan paradigma anak muda dalam menyikapi kasus korupsi di negeri ini sudah semakin berkembang dan lebih kreatif. Karena pada era sebelumnya sebagian besar generasi muda khususnya mahasiswa cenderung menyuarakan pendapat mereka lewat orasi dan demonstrasi. Maka pandangan anak muda sekarang sudah lebih kreatif.

“Sekarang banyak yang secara cerdas mampu menggambarkan curahan hati, tentang kasus korupsi melalui meme atau tulisan-tulisan nyinyir yang mampu menarik perhatian dan menggerakkan pikiran banyak pembaca,” kata Syarif yang juga aktifis pengiat antikorupsi Jateng ini.

Dia mengatakan, kemampuan untuk mempengaruhi masyarakat lewat tulisan sekarang ini tidak hanya mampu dilakukan oleh para jurnalis saja. Melainkan masyarakat umum, termasuk anak muda sepertinya sudah mampu melihat peluang tulisan sebagai media yang mampu menggerakkan masyarakat secara masif.

Menurutnya, kini bukan lagi saatnya bagi generasi muda untuk berpangku tangan dan memasrahkan masa depan bangsa kepada anggota dewan terhormat yang hanya duduk di singgasana. Ia mengatakan, bukan menjadi rahasia lagi karena mereka terlena dan lebih suka disebut sebagai anggota dewan terhormat dari pada wakil rakyat. “Bagaimana tidak, tindakan dan keputusan mereka yang cenderung membela kepentingan golongan atau partai politik. Untuk itu, kini saatnya bagi kita melakukan tindakan kekinian,” ujarnya.

Artinya, lanjut Syarif, tindakan kekinian itu bisa dilakukan sesuai bidang yang disukai. Ia mencontohkan, jika gemar membuat video dan menjadi YouTuber maka tidak susah untuk membuat video yang menyuarakan dukungan ke KPK, Polisi, kejaksaan maupun advokat, yang merupakan penegak hukum di Indonesia. Selain itu bisa juga diposting dalam poster ke media sosial yang dimilikinya. Menurutnya, gerakan kampanye kekinian tersebut akan lebih mampu diterima oleh anak muda secara masif dibandingkan orasi dan demonstrasi yang cenderung berujung anarki dan kekerasan. “Bermain kata-kata dengan kombinasi gambar, ide, dan kreativitas yang bagus akan mampu menghasilkan bahan kampanye yang jauh lebih dramatis,” ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator PC GMPK Unnes, Fika Roffiudin Izza mengatakan, semangat antikorupsi merupakan semangat yang harus dikobarkan dalam hati semua warga Indonesia. Menurutnya, upaya menumbuhkan semangat antikorupsi harus dihidupkan dalam diri semua orang. Khususnya generasi muda karena merekalah yang nanti akan menggantikan generasi tua sebagai pemimpin negeri ini. (jks/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here