Tidak Didukung Ortu, Rela Ngontrak

Lebih Dekat dengan Orang-Orang yang Peduli Satwa Liar

63
PENOLONG KUCING : Ambhita Meditria Andamari yang kini menekuni kegiatan cat rescue atau penolong kucing, bersama kucing peliharaannya (DOKUMEN PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).
PENOLONG KUCING : Ambhita Meditria Andamari yang kini menekuni kegiatan cat rescue atau penolong kucing, bersama kucing peliharaannya (DOKUMEN PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).

Modernitas yang individualistik, tak selalu menjadikan masyarakatnya hanya mementingkan diri sendiri. Ternyata masih banyak yang memiliki kepedulian, bahkan peduli dengan binatang jalanan seperti kucing dan anjing yang kelaparan, sakit dan tak memiliki tempat berteduh. Seperti apa? 

AMBHITA Meditria Andamari, yang kini menekuni kegiatan cat rescue atau penolong kucing. Semula dirinya tidak pernah terlintas untuk menjadi seorang relawan seperti saat ini. Justru ketertarikannya terhadap kucing, setelah melihat postingan dari sosial media tentang penyelamatan hewan terlantar.

“Ketika kali pertama melihat postingan di sosial media, saya mulai kagum dan terinsipirasi untuk menyalamatkan hewan yang terluka, sakit ataupun terlantar. Saya merasa, jadi penolong kucing itu sangat mulia. Hingga akhirnya mengisnpirasi saya, padahal saya semula bukan orang yang suka atau penyayang kucing,” katanya wanita kelahiran Semarang, 12 Agustus 1993 ini.

Lulusan S1 Perikanan Undip ini mengaku jika suatu hari ia menemukan kucing yang terejabak di parit 2016 silam, akhirnya kucing tersebut ia adopsi dan diberi nama Amoy. “Dari menemukan Amoy itulah, saya mulai menyelematkan kucing lain yang sedang terluka di jalanan untuk dirawat,” jelas perempuan yang akrab disapa Bhita ini.

Lambat laun, Bhita terus melakukan aksi sosialnya. Terus menampung dan merawat kucing yang ia temukan. Sayangnya, niat baik Bhita tidak diamini oleh orang tuanya, hingga akhirnya ia mencari tempat kontrakan khusus untuk kucing yang ia temukan. Saat ini, dirinya sudah menampung 20 kucing dari jalanan, mulai dari yang sakit, terluka hingga korban tabrak lari. “Setelah sehat, kemudian saya posting di Instagram. Kalau ada yang mau mengapdopsi lewat @amcatrescue,” paparnya.

Bhita mengaku sempat mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan, saat mengendarai mobil tiba-tiba ada seekor kucing kecil berhenti di depan mobilnya. Kemudian kucing tersebut ia ambil, ternyata kondisinya sangat lemah. Ia pun membawanya ke klinik, namun sayang kucing tersebut akhirnya meninggal.

Sementara itu, untuk dalam mengadopsi kucing yang ditampung Bhita, tidaklah sulit. Calon pemilik baru, harus mengirim foto KTP, adopter sudah kerja/sekolah/mahasiswa, tinggal mengontrak atau sendiri atau ikut orangtua (orangtuanya setuju atau tidak, red), lingkungannya mendukung atau tidak, pendapatan sebulan bisa mengkafer atau tidak untuk mengurusi kucing. Ia tidak ingin, kucing-kucing tersebut jatuh ke tangan orang yang tak bertanggung jawab. “Saat ini, saya berharap pengadopsi kucing berkurang. Ternyata menampung kucing, bukan satu-satunya jalan. Satu-satunya jalan untuk menolong kucing jalanan, ya dengan disterilkan, kemudiann dikembalikan lagi ke alamnya,” tuturnya.

Bitha sendiri, dalam kesehariannya sebelum berangkat bekerja, sekitar pukul 05.30 sudah keluar dari rumah untuk street feeding, yakni memberi makan kucing-kucing jalanan yang ada disepanjang jalan arah menuju kantor tempatnya bekerja. Sementara setelah pulang bekerja, ia langsung mengurus kucing-kucingnya yang ada di rumah kucing. “Street feeding berkeliling jalan dan pasar Banyumanik untuk memberi makan malam kucing-kucing jalanan,” ucapnya.

Jangan heran, setiap berangkat kerja, Bhita selalu membawa tas yang berisi P3K, makan, vitamin, obat, dan minyak ikan untuk kucing-kucing jalanan yang sedang butuh pertolongan pertama. Misalnya sakit, namun tidak terlalu parah, kelaparan dan sebagainya. Letak kontrakan khusus kucing sendiri jaraknya tidak jauh dari tempat tinggalnya, hal ini sengaja dilakukan agar dirinya dapat terus memantau kucing-kucing yang ia ambil dari jalanan. Kadang Bhita juga tidur di rumah kucing, apabila ada kucing yang sedang sakit dan membutuhkan perhatian ekstra.

“Saya menyadari, harus seimbang hubungan sosial antara kepada manusia dan sosial ke hewan. Harus membagi waktu ke teman, keluarga, dan diri saya sendiri. Jadi kepedulian saya terhadap kucing, tidak lantas melupakan keluarga, teman-teman, dan diri saya sendiri. Saya ingin agar hidup saya dapat berguna bagi mahluk hidup lainnya,” jelasnya.

Saat ini, keutuhan finasial Bhita dalam merawat kucing, sebagian dibantu oleh para donator. Donatur pertamanya di bulan Oktober 2016, mengirim uang hingga seterusnya sampai sekarang. “Namanya Mbak Rejeki, dia donatur pertama saya. Sampai saat ini, ada juga donatur lain yang selalu mengirim bantuan ke saya. Bahkan saya tidak mengenal mereka itu siapa,” ungkapnya.

Bhita juga tidak tinggal diam. Saat ini, dirinya terus mencari informasi tentang klinik steril murah. Dengan begitu, dirinya saat menangkap kucing-kucing jalanan, bisa dibawa ke klinik untuk disterilkan. “Karena kucing tidak langsung dilepaskan begitu saja, harus dirawat dahulu di rumah sekitar dua harian, lalu dilepaskan lagi ke jalanan tempat asalnya,” katanya.

Dalam sebulan, uang yang ia keluarkan tidaklah kecil. Setiap bulan ia menghabiskan 28 kg makanan untuk kucing yang ia pelihara, sementara untuk street feeding menghabiskan 60 kg pakan perbulan. “Kucing yang sudah disterilkan saat ini, sebanyak 44 kucing. Minimal perbulan total pengeluaran menghabiskan uang Rp 7 juta untuk keperluan makan dan pengobatan kucing,” paparnya.

Lain halnya dengan Shandy yang dikenal sebagai ibunya kucing liar. Predikat itu diberikan kepadanya, karena alumnus SMAN 1 Semarang ini, hobi mengadopsi kucing liar. Setiap melihat ada kucing tanpa tuan, Shandy langsung membawanya pulang ke rumah. Dibersihkan, diberi makan, pokoknya dirawat dengan penuh kasih sayang. Tak heran jika kucing liar yang awalnya agresif, jadi jinak di tangan Shandy.

Dia mengaku tidak tega melihat kucing liar. Terutama yang sedang sakit, kurus, bulunya berantakan, dan tidak punya tempat nyaman untuk sekadar tidur siang. “Nggak tega melihatnya. Rasanya ingin nangis,” ucapnya.

Sejak kecil dia mengaku sudah jatuh cinta dengan kucing. Karena itu, jika melihat ada kucing yang tak terurus, hatinya langsung tergerak ingin merawatnya. “Apalagi kitten (anak kucing, red) tanpa induk,” imbuhnya.

Baginya, semua makhluk hidup punya hak untuk mendapatkan tempat yang layak. Begitu juga soal kasih sayang. “Kucing liar itu kasihan. Cari makan saja susah sampai harus mengais sampah. Kalau mau cari makan di rumah orang, malah diusir, ditendang, dipukul, sampai disiram. Kan kasihan,” paparnya.

Dari rasa iba itu, kini Shandy punya puluhan kucing peliharaan di rumahnya. Ada yang dikandang. Saban pagi dan sore, memberi makan dan membersihkan kadang pun jadi aktivitas rutin Shandy.

Nyaris sama dengan Kalih R Gusti. Dokter penyuka kucing ini kerap tak tega melihat kucing tanpa tuan. Hanya saja, dia tidak bisa mengadopsinya karena rentetan pertimbangan. “Memelihara kucing itu dilematis. Soalnya, kucing tidak boleh serumah dengan manusia. Kucing membawa parasit yang bisa membuat orang jadi sakit. Tapi kalau dipelihara, masa harus di luar rumah. Kan kasihan juga,” paparnya.

Atas alasan itu, Kalih memutuskan untuk sekadar memberi makan kucing. Jika ada kucing yang datang ke rumahnya, selalu diberi makan dan diajak becanda. Tidak lupa dielus-elus agar kucing merasa diterima. Kalih punya tips sendiri ketika memberi makan agar kucing bisa jinak. “Intinya, kalau ngasih makan jangan dilempar. Kalau saya, makannya tetap tak pegang. Seperti menyuapi. Sampai tangan dijilat-jilat agar tahu bau saya. Diajak ngobrol juga bisa mengenal suara,” tuturnya.

Menurutnya, kucing seperti manusia. Kalau disayang, pasti akan balik sayang juga. “Dari semua orang di rumah, kucing selalu apal dengan saya. Kalau saya panggil, biasanya mau datang. Sudah hapal dengan suara saya,” bebernya. (den/mg46/amh/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here