Rawat 150 Ekor Anjing dan 2 Kucing

Biaya Perawatan Rp 25 Juta Perbulan

57
SAYANGI HEWAN TERLANTAR : Pengelola HOPE Shelter, Rachel Eirene dan suaminya Kelik Yuswantoro yang tergerak menyelamatkan hewan anjing dan kucing (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).
SAYANGI HEWAN TERLANTAR : Pengelola HOPE Shelter, Rachel Eirene dan suaminya Kelik Yuswantoro yang tergerak menyelamatkan hewan anjing dan kucing (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).

KEPEDULIAN Rachel Eirene dan suaminya Kelik Yuswantoro terhadap hewan, sudah tertanam sejak masih anak-anak. Apalagi keduanya adalah teman sekelas sejak SD hingga SMP.

Pengelola HOPE Shelter (shalter penyelamatan anjing dan kucing, red) ini, sejak kecil sudah memiliki hewan peliharaan. Rachel sejak kecil sudah memiliki 20-an ekor anjing, marmut, burung dara dan bebek. Sedangkan suaminya sudah memiliki 33 anjing, kelinci, burung dan sebagainya.

“Kalau sekarang, kebanyakan hewan yang kami selamatkan dari jalanan adalah anjing dan beberapa ekor kucing. Untuk masa pemulihannya beragam, tapi paling sering sekitar 2 bulan jika kondisi mereka bagus, sudah terlihat perubahannya. Namun beberapa di antaranya, kondisinya sudah parah akhirnya baru beberapa hari sudah meninggal,” kata Rachel Eirene kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (4/11) kemarin.

Adapun sumber dana penyelamatan hewan liar, diakui Rachel selain menggunakan dana pribadi juga dibantu donatur tetap dan tidak tetap. Sebenarnya biaya yang dibutuhkan memang sangat besar, kalau bantuan donatur tak mencukupi untuk biaya perawatan hewan-hewan yang ditolong tersebut, ia dan suaminya memenuhinya dengan cara jualan.

“Dalam setiap bulan, kami membutuhkan kurang lebih Rp25 juta untuk biaya operasional shelter hewan-hewan yang kami selamatkan dan rawat. Makanya kami perlu jualan,” sebutnya.

Pihaknya mengaku tergerak menolong hewan terlantar, khususnya anjing, berawal dari 1 tahun lalu, tepatnya Oktober 2016. Saat itu, sahabatnya memposting anjing tua yang ditemukan di sungai di daerah Semarang yang kondisinya buta dan badannya ada bekas sabetan bambu. Kemudian keduanya berunding dan memutuskan mengambil dan merawat anjing tersebut.

Ia masih ingat betul selama 2 bulan, anjing itu dirawat dan diberi nama Guffy. Namun suatu hari, tiba-tiba Guffy tidak mau makan dan lemas. Akhirnya segera dibawa ke dokter hewan, ternyata gagal ginjal karena faktor usia. “Sorenya saya ke klinik menjenguk Guffy, saya berdiam lama dan menangis di depan kandangnya. Saya katakan ke Guffy, kalau memang sudah tidak kuat, silahkan pergi, saya sudah ikhlas. Namun jangan khawatir, Guffy akan tetap saya bawa pulang dan dikuburkan di rumah. Dengan demikian, setiap hari Guffy masih bisa melihat saya,” kenang Rachel.

Anehnya, lanjut Rachel, saat ia menangis dan mencium kepala Guffy, dari mata Guffy yang buta ada airmata mengalir. Guffy menangis bersama dirinya. “Meski Guffy buta, dan selama 2 bulan bersama saya tanpa bisa melihat wajah saya, Guffy bisa mengenali suara saya. Akhirnya Guffy mati, sekitar pukul 8 pagi, pada 3 November 2016 lalu. Sejak saat itu, saya dan suami mendedikasikan hidup kami untuk menolong anjing dan kucing yang terlantar,” kenangnya penuh haru.

Menurutnya, banyak keistimewaan yang diperoleh dari merawat hewan terlantar. Di antaranya, secara psikis memperoleh suka cita karena bisa menolong dan merawat binatang yang terbuang dan cacat di masa tuanya. Ia merasakan, setelah hewan tersebut bisa sembuh dari sakitnya, itu bagian dari berkat Tuhan yang luar biasa.

Selain itu, lanjut Rachel, bisa menjadi contoh untuk banyak orang bahwa Tuhan menciptakan binatang sama seperti manusia yang punya rasa. Bahkan, hewan sangat setia dan tahu balas budi. Ia merasa dengan menolong hewan terlantar, bisa mengasah hati nurani untuk lebih peka dan bisa memiliki empati terhadap mahluk lain. “Hingga saat ini hewan, terutama anjing yang sudah kami selamatkan dan rawat jumlahnya sekitar 150 ekor dan 2 ekor kucing,” ujarnya.

Wanita kelahiran Jogjakarta, 9 Oktober 1980 ini mengakui, sebagian anjing yang sudah diselamatkan, kembali sehat dan tidak trauma, sebagian ada yang diadopsi oleh pecinta anjing. Namun untuk anjing yang tua dan sakit, tidak akan diadopsikan, melainkan langsung dirawat di HOPE Shelter.

“Untuk anjing yang trauma, kami rawat dulu sampai traumanya hilang dan bisa beradaptasi. Kami juga pernah menolong anjing yang mau disembelih, anjing yang disiksa pemiliknya, anjing yang dipukul di jalanan dan banyak lagi,” ungkapnya.

Baginya penghargaan yang sudah didapat dan terindah adalah anjing-anjing yang ditolong, bisa tahu dan jinak serta patuh kepada keduanya. Bahkan, anjing-anjing itu paham bahwa keduanya yang telah menyelamatkan. Untuk anjing yang diselamatkan, sebagian besar dari Semarang. Meski begitu, ada juga dari Slawi, Jogja, Solo, Boyolali, Klaten, Salatiga dan Bekasi.

“Anjing-anjing yang kami selamatkan ada yang bernama Kapuk dari Boyalali (pemiliknya meninggal dunia), Kimel dari Klaten sudah meninggal sampai transfusi darah dan banyak lagi,” sebutnya.

Ibu tiga anak yakni, Michael Handoko, Matthew Handoko dan Melinda Angienia Handoko ini merawatan hewan-hewan tersebut dengan penuh kasih sayang. Dengan memberikan makanan bergizi seperti dogfood, nasi dan kaldu daging. Sedangkan untuk anjing-anjing tua yang susah makan, biasanya langsung disuapi dengan cara dispet dengan makanan kaleng khusus.

“Kami juga memberikan mereka kalsium, vitamin dan penambah darah. Setiap 3 bulan sekali, kami beri obat kutu dan obat cacing. Selain itu, kami rutin vaksin dan terpenting anjing-anjing juga harus steril agar tidak beranak pinak,” ungkapnya. (jks/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here