Mendidik Karakter Melalui Film Sejarah

46
Oleh : Surya Puji Hastuti, SPd.I
Oleh : Surya Puji Hastuti, SPd.I

PENDIDIKAN karakter sangat penting dilakukan dan ditingkatkan. Mengingat dewasa ini, terjadi banyak pelanggaran nilai dan norma di lingkungan masyarakat. Mulai dari kenakalan remaja, free sex di kalangan remaja, tawuran pelajar/mahasiswa, bahkan korupsi terjadi dimana-mana, maupun berita fitnah (hoax) merajalela lewat sosial media (sosmed). Itu semua menjadi permasalahan krusial yang harus segera ditangani oleh pihak-pihak yang kompeten.

Banyaknya pelanggaran nilai dan norma yang menimpa kita, salah satunya dikarenakan kurangnya jiwa nasionalisme pada generasi muda. Di era globalisasi yang semua serba terbuka, semua hal bisa masuk dan terserap begitu mudah tanpa ada filter yang bisa menjadi penghalang. Akibat dampak buruk (globalisasi), tentu juga masih banyak dampak baik yang menyertainya.

Pendidikan karakter, adalah salah satu taktik dan strategi yang diterapkan pemerintah, khususnya oleh Dinas Pendidikan. Strategi tersebut dengan memasukkan Pendidikan Karakter melalui kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan Kurtilas. Harapannya, dengan pendidikan karakter akan menghasilkan output generasi-generasi muda yang lebih baik dari sebelumnya.

Bicara pendidikan karakter, terdapat perbedaan antara KTSP dan Kurtilas. Pada KTSP ada 18 point karakter yang harus diterapkan pendidik dalam proses pembelajaran, yaitu: religius, toleransi, jujur, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai pestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial dan lingkungan, serta tangguung jawab. Ke-18 karakter tersebut diharapkan bisa terintegrasi menjadi ciri dan budaya sekolah (satuan pendidikan). Sedangkan untuk Kurtilas, 18 karakter yang ada di KTSP diubah menjadi 5 point yaitu: religius, Nasional, mandiri, gotong royong dan integritas. Kelimanya merupakan penggabungan dari 18 karakter yang ada di KTSP.

Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran memberikan kontribusi terhadap efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran. Berbagai hasil penelitian pada intinya menyatakan bahwa berbagai macam media pembelajaran memberikan bantuan sangat besar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran. Namun demikian, peran tenaga pengajar juga menentukan efektifitas penggunaan media dalam pembelajaran. Peranan tersebut tercermin dari kemampuannya dalam memilih media yang digunakan. Karena hal tersebut dapat menentukan kemajuan suatu pembelajaran terhadap peserta didik.

Media pembelajaran diklasifikasikan menjadi tiga macam, yakni media visual, media audio dan media audio-visual. Ketiga penggolongan ini dijabarkan lebih lanjut oleh Sulaiman dalam Rayandra Asyhar menjadi sepuluh macam, yaitu: 1) Media audio: media yang menghasilkan bunyi, misalnya audio cassete tape recorder, dan radio. 2) Media visual: media visual dua dimensi dan media visual tiga dimensi. 3) Media audio-visual: media yang dapat menghasilkan rupa dan suara dalam suatu unit media. 4) Media audio motion visual: penggunaan segala kemampuan audio dan visual ke dalam kelas, seperti televisi, video tape/ cassete recorder dan sound-film. 5) Media audio still visual: media lengkap kecuali penampilan motion/geraknya tidak ada, seperti sound-filmstrip, sound-slides, dan rekaman still pada televisi.

Lalu 6) Media audio semi-motion: media yang berkemampuan menampilkan titik-titik tetapi tidak bisa menstransmit secara utuh suatu motion yang nyata. Misalnya: telewriting dan recorded tele writing. 7) Media motion visual: silent film (film-bisu) dan (loop-film). 8) Media still visual: gambar, slides, filmstrips, OHP dan transparansi. 9) Media audio: telepon, radio, audio, tape recorder, dan audio disk. (10) Media cetak: media yang hanya menampilkan informasi yang berupa simbol-simbol tertentu saja dan berupa alphanumeric, seperti buku-buku, modul, majalah dan lainnya.

Akhir-akhir ini banyak diperbincangkan dan menjadi pro dan kontra tentang pemutaran film G 30 S PKI. Baik pihak yang pro dan konta, tentu saja memiliki alibi yang berbeda. Tentu saja perlu kita sikapi dengan bijak tanpa mengait-kaitkan dengan politik, SARA dan unsur-unsur lainnya. Sebagai pendidik, kita harus bersikap netral demi tujuan yang lebih baik.

Sebenarnya banyak sekali metode dan media yang bisa digunakan dan diterapkam untuk meningkatkan nasionalisme. Salah satunya dengan pemutaran film-film bertema sejarah. Tentu saja tidak hanya film yang menceritakan tentang G 30 S PKI, tetapi masih banyak film lain yang perlu diperlihatkan kepada peserta didik dan generasi muda lainnya. Dengan mengetahui pengorbanan para pahlawan yang begitu besar, yang mengorbankan jiwa maupun raganya, tentu saja akan membangkitkan jiwa patriotisme pada generasi muda.

Tugas pembinaan generasi penerus bangsa merupakan kewajiban kita semua bukan sebagai pengajar saja, masyarakat, orang tua, dan semua instansi yang kompeten. Khususnya Dewan Pers maupun yang terlibat dalam penyiaran di pertelevisian nasional, harus berperan nyata dengan menyetop program-program yang merusak generasi muda dan yang tidak sesuai dengan budaya kita, dengan mengganti film-film yang bertema sejarah, kehidupan, perjuangan, keindahan alam Indonesia dan sebagainya. Dengan begitu, acara-acara yang disuguhkan bisa bermanfaat dan membangkitkan semangat dan jiwa nasionalis, cinta tanah air dan bangsa, dan bangga menjadi warga negara Indonesia. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here