Melirik Pendidikan Kaum Difabel

27
Oleh: Yuli Handayani, S.Pd, M.Si.
Oleh: Yuli Handayani, S.Pd, M.Si.

VLOG Presiden Joko Widodo saat berbincang dengan Surya Sahetapy, penyandang difabel tuli, dalam acara Hari Kopi Internasional menjadi viral. Ada tiga poin  menarik dari perbincangan Presiden yang akrab disapa Jokowi dengan Surya Sahetapy. Pertama tentang harapan beliau agar kesempatan kerja dan fasilitas umum bagi kaum difabel lebih ditingkatkan. Kedua, pernyataan beliau bahwa keterbatasan bukan halangan untuk berkreasi dan yang ketiga, adalah apresiasi Surya Sahetapy terhadap Presiden Jokowi yang peduli dan terbuka untuk menuju Indonesia  ramah terhadap disabilitas.

Difabel adalah istilah yang meliputi gangguan, baik fisik maupun nonfisik, sehingga mengakibatkan keterbatasan seseorang dalam beraktivitas. Penggunaan  kata ini sengaja dibuat dengan tujuan untuk memperhalus sebutan bagi seluruh penyandang cacat. Adanya anggapan bahwa kaum difabel sebagai kaum lemah, tidak punya kemampuan menolong dirinya dan dianggap aib dalam keluarga, mendorong banyak orang tua menyembunyikan anak difabel dari pergaulan. Inilah faktor yang mengakibatkan kaum difabel semakin terpuruk, krisis kepercayaan diri dan terkucilkan dari pergaulan masyarakat. Padahal, sebagai manusia mereka mempunyai hak yang sama dengan orang normal, termasuk hak di bidang pendidikan.

Pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya mengakomodasi keberagaman peserta didik. Munculnya lembaga-lembaga pendidikan dengan berlatarbelakang perbedaan agama, etnis,  bahkan perbedaan kemampuan baik secara fisik maupun mental menunjukkan adanya pengkotak-kotakan dalam pendidikan. Selama ini, peserta didik difabel disediakan ‘kotak khusus’, yaitu di Sekolah Luar Biasa (SLB). Secara tidak langsung, langkah ini justru akan berdampak pada terhambatnya proses saling mengenal antara peserta didik difabel dengan nondifabel. Di SLB, peserta didik difabel hanya akan berkutat dengan sesama difabel, demikian juga dengan peserta didik nondifabel yang bersekolah di sekolah umum. Dengan kondisi seperti itu, mana mungkin peserta didik nondifabel bisa belajar memahami teman-teman penyandang disabilitas? Maka tidaklah mengherankan bila dalam interaksi sosial di masyarakat,  kaum difabel tergambarkan sebagai beban bagi masyarakat. Padahal sebenarnya merekapun mempunyai potensi dan keunikan yang dapat diberdayakan.

Surya Sahetapy,  adalah penyandang disabilitas tuli, putra dari pasangan Ray Sahetapy dan Dewi Yull. Meski mengalami keterbatasan dalam pendengaran (tuna rungu), Surya Sahetapy mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional dengan prestasinya menyabet gelar juara ketiga dalam Kompetisi Global IT for Youth with Disabilities di Thailand pada tahun 2013 dan menjadi wakil Indonesia dalam Mason Global di USA. Penyandang disabilitas tidak butuh untuk dikasihani. Keikhlasan untuk menerima mereka lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya, serta tidak menganggap mereka sebagai aib, sangat diperlukan untuk membangun rasa kepercayaan diri.

Munculnya konsep pendidikan inklusi memberi angin segar bagi masa depan penyandang difabel. Dalam Convention on the Rights of Person with Disabilities and Optional Protocol yang disahkan pada Maret 2007 disebutkan bahwa setiap negara berkewajiban untuk menyelenggarakan sistem pendidikan inklusi di setiap tingkatan pendidikan. Tujuannya antara lain untuk mendorong terwujudnya peran serta difabel dalam kehidupan masyarakat.

Tidak ada seorang pun yang menginginkan terlahir sebagai difabel, maka sebagai wujud rasa syukur atas kesempurnaan fisik dan mental kita, mari tumbuhkan kepedulian kita untuk turut mewujudkan terpenuhinya hak-hak pendidikan kaum difabel secara proporsional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here