Dahlan Ajak Mahasiswa Fleksibel Hadapi Masa Depan

54
BERIKAN APRESIASI : Prof Dr (HC) Dahlan Iskan mendapatkan penjelasan dari Ketua CBIOM3S, Dr Rifky Ismail ST MT tentang proyek penelitian Undip dalam pengembangan dan pembuatan kaki palsu, sendi panggul hingga tangan bionic untuk para difabel, Sabtu (4/11) kemarin. Inzert : Apresiasi yang tinggi terhadap program CBIOM3S diabadikan Dahlan Iskan lewat tulisan tangganya (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BERIKAN APRESIASI : Prof Dr (HC) Dahlan Iskan mendapatkan penjelasan dari Ketua CBIOM3S, Dr Rifky Ismail ST MT tentang proyek penelitian Undip dalam pengembangan dan pembuatan kaki palsu, sendi panggul hingga tangan bionic untuk para difabel, Sabtu (4/11) kemarin. Inzert : Apresiasi yang tinggi terhadap program CBIOM3S diabadikan Dahlan Iskan lewat tulisan tangganya (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG–Generasi muda Indonesia saat ini, diminta lebih fleksibel dalam menghadapi masa depan dan segala perubahannya. Cepat atau lambat, peralihan dari tenaga manusia ke tenaga mesin akan segera terjadi.

“Generasi muda mulailah fleksibel dalam menghadapi masa depan,” kalimat tersebut berulangkali disampaikan Prof Dr (HC) Dahlan Iskan, Menteri BUMN ke-7 era Presiden Susilo Bambang Yudoyono saat memenuhi undangan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) dalam Seminar Nasional bertema Indonesia Emas 2045 : Saatnya Pemuda Berkarya! di gedung Pascasarjana Undip Tembalang, Sabtu (4/11) kemarin.

Mantan CEO Jawa Pos dan Jawa Pos Group ini menambahkan bahwa pada 2045, Indonesia bisa jadi menjadi salah satu negara yang tenaga kerjanya lebih banyak menggunakan mesin daripada manusia. “Nah kita sebagai manusia harus pasang badan selalu,” ungkap pria kelahiran Magetan, Jawa Timur, 66 tahun silam yang juga pernah ganti hati.

Menurutnya, mahasiswa harus bisa memotret masa depan. Sebab, salah satu yang bisa disadari adalah masa depan merupakan satu hal yang paling adil. Mengapa? Sebab semua orang memiliki ketidaktahuan yang sama akan masa depan masing-masing. “Karena itu, sebagai manusia dituntut untuk siap dan fleksibel untuk menjadi apa di masa depan yang tidak diketahui itu,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, ia menerima sejumlah pertanyaan dari mahasiswa yang hadir menjadi peserta. Di antaranya pertanyaan mengenai kesiapan Indonesia menghadapi perubahan dari sudut pandangnya. Lalu seperti apakah pemimpin Indonesia saat ini dalam mendorong perubahan?

Menurut Dahlan, pemimpin sebaiknya memimpin perubahan, bukan menjadi penghambat dari perubahan. Karena perubahan akan terjadi dan pasti menang. Sehingga siapa yang menghambat, hanya akan bisa membuat bangsanya terlambat.

“Musuh utama dari kemajuan dan perkembangan sebuah bangsa adalah kemiskian. Oleh karena itu, program-program yang mengacu pada pengentasan kemiskinan harus lebih diutamakan. Hanya orang yang tidak miskin, yang bisa mengantisipasi perubahan,” terangnya.

Tak hanya itu, sempat salah satu mahasiswa melemparkan tanya terkait ketakutannya yang hingga saat ini belum memiliki cita-cita. Serta kekhawatirannya untuk bersekolah hingga ke luar negeri. Mahasiswa tersebut mengaku gusar, jika saat ia kembali ke Indonesia, justru tidak bisa berkembang lantaran kurangnya sumber daya. “Anda, yang tidak punya cita-cita itu nggak masalah. Masih normal. Bahkan ada keunggulan tertentu, karena lebih fleksibel.

Karena yang punya cita-cita, terkadang lebih ngotot untuk mengejar cita-citanya,” selorohnya diikuti tawa mahasiswa.

Dahlan dengan gayanya, mampu membius puluhan mahasiswa untuk bisa lebih positif dan bersemangat dalam menghadapi masa depan. Mahasiswa yang telah dibekali oleh ilmu, kepintaran dan pemikiran logis serta metodologi dan sistematika, sudah cukup untuk menghadapi masa depan. “Kalian yang muda-muda ini, sebaiknya menjadi pelopor. Sering saya katakan yang penting anda punya niat baik, itu cukup. Karena, semua bermula dari niat baik,” tutupnya.

Sebelum mengisi seminar nasional Mechanical Education Fair 2017 yang mengambil tema Indonesia Emas 2045: Saatnya Pemuda Berkarya!, Dahlan menyempatkan diri bertemu salah satu dosen Teknik Undip yang memimpin proyek penelitian dengan target penyandang disabilitas. Adalah Center for Bio Mechanics, Bio Materials, Bio Mechatronics and Bio Signal Processing (CBIOM3S) yang berada di bawah naungan Undip. Proyek ini merupakan penelitian, pengembangan, dan pembuatan kaki palsu, sendi panggul buatan hingga tangan bionic untuk para difabel.

“Saat ini yang sedang dikembangkan adalah Albiondi Bionic Hand, kaki puma atau kaki untuk pelari. Pemasaran produknya sudah kami kerjasamakan dengan sejumlah rumah sakit di antaranya RSND Undip, RSUP dr Kariadi, RS Ramelan Surabaya hingga RS TNI AL,” papar Ketua CBIOM3S, Dr Rifky Ismail ST, MT kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Doktor lulusan perguruan tinggi di Belanda ini, secara detail menjelaskan kepada Dahlan mengenai proses kerja hingga sejauh mana penelitian yang dikembangkannya bersama tim sejak Juni 2015. Dahlan sangat mendukung apa yang dikerjakan oleh Rifky dkk. Ia menyampaikan kepada Rifky untuk tetap berkarya dan bermanfaat bagi bangsa. “Saya berterimakasih kepada panitia, kegigihan dan kerja kerasnya sangat saya apresiasi. Makanya saya tidak sungkan untuk hadir satu hari menyempatkan diri ke Semarang,” tandasnya. (tsa/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here