Ajak Masyarakat Tanam Tanaman Obat Bermedia Wayang

Kreatif dan Peduli, Mahasiswa Undip Kampanyekan Bayangkura

62

Kreativitas memang tidak ada batasnya. Seperti yang dilakukan Syahilla Efriana bersama teman-temannya, mahasiswi FKM Undip. Mereka berupaya memperkenalkan tanaman obat kepada masyarakat dengan cara yang cukup kreatif. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

SYAHILLA dan teman-temannya menggunakan media tanam tanaman obat dalam bentuk yang tidak biasa. Ia membuat boneka sebagai media tanam untuk membangkitkan ketertarikan masyarakat, terutama anak kecil. ”Kami membuat tokoh wayang seperti Arjuna, Srikandi dan beberapa lainnya. Boneka wayang ini, kami buat dengan menggunakan serbuk kayu gergaji,” jelas Syahilla kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Syahilla melihat bahwa tanaman obat dan wayang, keduanya mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Tanaman obat, kata Syahilla, yang dulunya sering digunakan untuk menjaga kesehatan, kini telah digantikan dengan obat-obatan kimia. Padahal, tanaman obat, dengan kealamiannya memiliki berbagai kelebihan.

Hal yang sama juga terjadi pada wayang. Banyak yang lebih mengidolakan tokoh pahlawan fiktif dari luar negeri dibandingkan dari Indonesia sendiri. ”Wayang itu sudah diakui oleh UNESCO. Tapi anak-anak Indonesia saat ini lebih mengenal dan lebih hafal tokoh fiktif barat daripada Gatotkaca,” tegasnya.

Untuk lebih mudah dikenal, Syahilla dan kawan-kawan membubuhkan nama Bayangkura pada produk yang ia kembangkan. Dijelaskan olehnya, Bayangkura merupakan singkatan dari Boneka Wayang Holtikultra Biofarmaka. “Nama itu kami pilih karena kami rasa mudah diingat,” kata perempuan yang kini tengah fokus menyelesaikan studinya.

Beberapa tanaman obat yang diperkenalkan oleh Syahilla dan teman-temannya dengan boneka wayang ini di antaranya ada Wheatgrass, Oregano, Parsley, Basil Red Leaved. Semuanya dikemas dalam bentuk boneka wayang yang terlihat lucu dan menggemaskan. ”Pengembangan tanaman obat dalam bentuk wayang ini kami harapkan dapat kembali menghidupkan rasa cinta masyarakat Indonesia kepada kebudayaan Indonesia. Selain itu, kami berupaya membiasakan masyarakat untuk kembali menggunakan tanaman obat yang lebih alami,” harap mahasiswi yang dalam pembuatan boneka ini dibantu teman satu timnya Deo Reynaldo Alwi, Dinda Fidela Putri, Yanu Andria Sucianto dan Diina Ul Qoyyima. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here