Warga Sudah Terdaftar UHC, RS Jangan Kekurangan Tempat

139
PROGRAM UHC : Sejumlah petugas DKK Semarang melayani warga pendaftar program UHC di kantor DKK Semarang (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PROGRAM UHC : Sejumlah petugas DKK Semarang melayani warga pendaftar program UHC di kantor DKK Semarang (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG-Nur Qoyum, 40, warga Tambak Mulyo RT 4 RW 15 Kelurahan Tanjung Mas, Semarang mengaku ingin segera mendaftar program Universal Health Coverage (UHC). Yakni, program yang diluncurkan sejak 1 November 2017 oleh Pemerintah Kota Semarang bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan jaminan pelayanan kesehatan secara gratis di Kota Semarang ini. Jumat (3/11) kemarin, ia kembali antre untuk mendaftar UHC di kantor Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang di Jalan Pandanaran, Kota Semarang sejak pukul 08.00.

“Kamis (2/11) kemarin, saya sudah mengantre sejak pukul 07.00 hingga 15.00, namun belum terlayani. Hari ini (kemarin, red), saya mengulangi antre. Pukul 14.00 masih menunggu. Mendaftarnya sebetulnya mudah, tapi menunggu panggilan ini yang lama banget,” kata Nur, ditemui Jawa Pos Radar Semarang, di kantor DKK Semarang.

Dia mengaku mendaftarkan Kartu Keluarga (KK) yang berjumlah enam orang. Ia sendiri mengaku tidak sakit, tapi anggota keluarga ada yang sedang sakit. “Mumpung ada layanan kesehatan gratis. Program ini sangat baik sekali, sehingga warga miskin seperti kami ini tidak mengeluarkan biaya berobat. Sangat membantu warga miskin,” katanya.

Begitupun Romdonah, 57, warga Tambak Lorok Semarang, ia mengaku antre sejak pukul 08.00, hingga pukul 14.00 baru terlayani. “Kesulitan mendaftar sebenarnya tidak ada. Hanya saja karena banyaknya warga yang mendaftar menjadi lama, kami tadi datang bersama tetangga,” katanya.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang, Supriyadi meminta kepastian mengenai kesiapan pihak rumah sakit (RS) terkait tindaklanjut program UHC. “Jangan sampai, ketika warga sudah ter-cover jaminannya (kesehatan, red) dengan program UHC, tapi rumah sakit malah kekurangan tempat rawat inap kelas III. Sebab masih ada beberapa RS di Semarang yang belum siap untuk ketersediaan ruang rawat inap kelas III,” katanya.

Maka dari itu, lanjut dia, perlu adanya komitmen dari RS untuk bekerja sama dengan Pemkot Semarang dalam program UHC. Terutama terkait kesiapan infrastruktur untuk rawat inap kelas III harus benar-benar dipastikan. “Jangan sampai kemudian ada pasien yang ditolak RS karena alasan ruang kelas III sudah penuh atau alasan klasik lainnya,” katanya.

Untuk itu, kata dia, seluruh RS di Semarang, baik milik pemerintah maupun swasta harus bekerja sama dan mendukung penuh program UHC sebagai tanggung jawab sosial. “Apalagi Pemkot Semarang sudah menganggarkan Rp 75 miliar tahun ini untuk program UHC. Maka semua RS mestinya harus bekerjasama karena mereka berlokasi di Semarang. Tanggung jawab sosial harus diutamakan daripada komersial,” katanya.

25 Rumah Sakit Siap Layani UHC

Kepala DKK Semarang, Widoyono mengatakan pelayanan UHC per hari ini (kemarin, red) berjalan dengan baik. “Sudah jauh lebih baik, jumlah pendaftar menurun dibanding hari kemarin. Salah satunya karena berita di media memberitahu bahwa yang sehat tidak usah datang dulu, karena kami memprioritaskan yang sakit dulu,” katanya.

Pihaknya mengaku telah melakukan antisipasi untuk menangani pelayanan pendaftar yang jumlahnya membeludak. “Antisipasinya, kami melakukan penambahan petugas pelayanan. Hari ini turun sekitar 50 persenan, hanya kurang lebih 120-an pendaftar,” katanya.

Pihaknya juga mengaku akan segera memanggil para direktur rumah sakit untuk membahas kesiapan fasilitas ruang rawat inap atau tempat tidur layanan kelas III di semua rumah sakit di Kota Semarang. “Minggu depan, kami akan mengundang semua direktur rumah sakit untuk membicarakan hal ketersediaan tempat tidur terutama kelas III,” katanya.

Saat ini, kata dia, ada sebanyak 25 rumah sakit yang telah bekerjasama dengan Pemkot Semarang, yang menyediakan ruang kelas III untuk pelayanan kesehatan gratis ini. “Totalnya kurang lebih 800 tempat tidur kelas III. Hanya ada satu rumah sakit yang masih dalam proses bergabung, yakni RS Columbia Asia Semarang,” katanya. (amu/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here