Angkat Potensi Desain Komunikasi Visual

137
UNIK : Salah satu peserta pameran tampak mendesain stan dengan kaleng kerupuk agar lebih menarik perhatian pengunjung yang datang (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).
UNIK : Salah satu peserta pameran tampak mendesain stan dengan kaleng kerupuk agar lebih menarik perhatian pengunjung yang datang (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Lulusan jurusan atau program studi desain komunikasi visual (DKV) memiliki tantangan yang besar dalam dunia kerja. Padahal peluang dalam dunia kerja terbuka lebar. Mereka pun unjuk gigi dalam acara Kriyasana Mahasiswa Desain Grafis Indonesia (KMDGI) di UTC Hotel, Kamis (2/10).

Ketua Panitia Acara KMDGI, Stefanus Agusta Cahyandra mengatakan acara yang digelar dua tahunan tersebut diisi dengan berbagai acara seperti workshop dengan mengundang 20 pembicara profesional di bidang desain dan komunikasi visual. Selain itu juga digelar pameran karya video dan instalasi terkait DKV, exhibition serta screening. “Acara ini diikuti oleh seluruh mahasiwa DKV se-Indonesia. Disini kita juga melakukan diskusi hingga memamerkan karya, total saat ini ada 47 karya yang dipamerkan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menerangkan saat ini adalah kesempatan mahasiswa DKV untuk unjuk gigi di dunia kerja. Pasalnya potensi yang ada sangat besar, terlebih masuk dalam pasar bebas yang membuat peluang cabang karya dari jurusan DKV bisa bersaing. “Kreativitas kita saat ini dibutuhkan untuk bersaing dalam bekerja, atau bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri dengan mewujudkan ekonomi kreatif,” jelasnya.

Sementara itu, Prasetyo Reza salah satu peserta pameran dari Jurusan DKV Stikom Surabaya mencoba mengangkat potensi kuliner yang ada di kawasan Dolly. Kawasan bekas lokalisasi tersebut sangat jarang dikunjungi wisatawan karena image negatif yang selama ini terlanjur melekat. “Kami coba gambarkan toples kerupuk berkuran besar yang di dalamnya adalah makanan. Disitu kami gambarkan semua proses pembuatan kuliner disana. Harapannya tentu image negatifnya bisa hilang,” tambahnya.

Menurut dia, desain toples kerupuk khas warteg yang diusung bisa menggambarkan citra kuliner, Di dalam toples kerupuk tersebut, pengunjung pun bisa melihat proses pembuatan kuliner yang ada di kawasan Dolly yang sangat higienis dan sehat. “Dengan diangkatnya UMKM disana, kami harap angka prostitusi di Dolly tidak akan tumbuh kembali, karena warga punya penghasilan tetap,” tandasnya. (den/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here