Tampil Beda, Hidupkan Kembali Disco 1990-an

Dwi Rendra Nugraha, DJ Musik Klasik di Kota Semarang

167
PERCAYA DIRI: Dwi Rendra Nugraha saat performa DJ musik klasik (ESTIKA WIDA/JAWA POS RADAR SEMARANG).
PERCAYA DIRI: Dwi Rendra Nugraha saat performa DJ musik klasik (ESTIKA WIDA/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Dwi Rendra Nugraha adalah salah satu penggiat musik yang mengembangkan disc jockey (DJ) musik klasik. Seperti apa?

ESTIKA WIDA

SEIRING berjalannya waktu, perkembangan musik semakin melaju pesat, dan alirannya pun beragam. Saat ini, musik yang sangat akrab di kalangan anak muda adalah musik beraliran Electronic Dance Music atau yang lebih dikenal dengan sebutan EDM.

Tak ayal, acara-acara musik yang beraliran EDM semakin merebak ,termasuk di Kota Semarang.  Dengan merebaknya acara-acara musik yang beraliran EDM, DJ pun mulai banyak bermunculan. Namun berbeda dengan Dwi Rendra Nugraha. Pria kelahiran Jakarta 22 tahun silam ini justru memilih untuk menjadi DJ musik klasik.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini memulai karir DJ-nya dari nol pada pertengahan 2013. Mulai dari mengumpulkan piringan hitam sampai membeli peralatan DJ sendiri.

“Awal mulanya jadi DJ tahun 2013, karena suka banget sih sama musik, eh sekarang jadi keterusan haha. Dulu dari nol banget dari ngumpulin piringan hitam sampai sekarang kebeli mixer sendiri,” jelas Rendra, sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Berawal dari keresahannya terhadap acara-acara musik yang selalu menyajikan musik EDM, Rendra yang saat ini masih berstatus mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) ini memilih untuk mengubah perspektif anak-anak muda  di Semarang dengan menyajikan musik klasik.

Iya, alasan aku buat gak pake lagu aliran EDM bukan maksud menggurui sih, tapi zaman dulu itu biasanya lagu-lagu yang dipake buat dancing itu lagu-lagu yang groovy atau yang iramanya enaklah bukan yang kayak EDM. Ya, iya sih emang enak, tapi gak semua lagu tuh bisa masuk gitu menurut aku sih,” ujarnya.

Rendra yang lebih dikenal dengan nama Rhymingpoint, telah manggung di beberapa event dan kafe yang ada di Semarang. Seperti di Rustico, Spiegel, A to Z, Clapper  dan di event-event pernikahan. Musik yang digunakan Rendra adalah musik-musik era 1970an – 1990an.

Selain untuk mengubah perspektif masyarakat, khususnya anak-anak muda, tujuan utama Rendra menjalankan hobinya adalah untuk menciptakan suasana baru di Semarang. Juga untuk menyajikan pilihan bagi penikmat musik yang ingin dance atau party.

“Lagu-lagu yang aku pake itu tahun 70-90an lah. Jadi, ya bisa kasih suasana baru kalau mau dancing itu gak melulu EDM kan. Kalau mau yang lebih santai dan hangat gitu bisa pake musik-musik yang groovy lah,” papar Rendra.

Saat ini, Rendra juga membuat project bersama temannya yang DJ juga, dengan memainkan lagu-lagu 1980an-2000an. Project ini telah berjalan sekitar satu bulan.

“Sekarang ada project ya bisa dibilang duo lah, sama temanku yang DJ  juga. Nama project-nya Sukaria. Kita mainin lagu-lagu tahun 80an-2000an, baru jalan sebulan sih ya doain aja lancar,” ucapnya.

Animo masyarakat Kota Semarang sendiri sangat baik, meski belum begitu banyak yang mengetahui DJ yang satu ini. Hal itu tidak pernah menyurutkan semangat Rendra. Ia menganggap apa yang dilakukan saat ini bisa dikembangkan lebih jauh lagi.

“Semoga ke depannya masyarakat Kota Semarang dan kota-kota lain bisa lebih terbuka wawasannya dan tidak terpaku dengan satu genre saja, khususnya genre EDM masa kini dan genre-genre yang kekinian lainnya,” harap Rendra. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here