Petugas Kewalahan, Hendi Turun Tangan

Warga Serbu Pendaftaran Program UHC di DKK

761
SEMRAWUT: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi turun tangan di tengah antrian warga yang mendaftar program UHC di kantor Dinas Kesehatan Kota Semarang, kemarin (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang).
SEMRAWUT: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi turun tangan di tengah antrian warga yang mendaftar program UHC di kantor Dinas Kesehatan Kota Semarang, kemarin (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang).

SEMARANG Selang sehari program Universal Health Coverage (UHC) dijalankan, tepatnya tanggal 1 November lalu, Kantor Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, langsung diserbu ratusan warga Kota Semarang, Kamis (2/11). Mereka ingin mengurus syarat jaminan pengobatan gratis yang digulirkan Pemkot Semarang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan tersebut. Banyaknya pemohon membuat petugas DKK kewalahan. Antrian panjang pun terlihat di ruangan bagian pendaftaran yang kapasitasnya tidak terlalu besar.

Diketahui, program UHC ini berlaku bagi semua kalangan. Tidak hanya warga miskin, tapi meng-cover semua warga Kota Semarang yang akan berobat. Baik yang terdaftar dalam BPJS Kesehatan maupun belum. Bahkan warga yang menunggak BPJS dijamin berobat gratis di rumah sakit swasta atau milik pemerintah. Warga pun cukup menyertakan salinan KTP dan Kartu Keluarga (KK) Kota Semarang.

Namun seharusnya pendaftaran tersebut bagi warga yang tengah sakit. Untuk warga yang tidak sakit, hendaknya tidak melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat melakukan sidak juga terpaksa meminta warga yang masih sehat untuk pulang dan memprioritaskan warga yang sakit.

“Di sini belum ada speaker atau megaphone agar mereka bisa tersosialisasi dengan baik. Bahwa yang sehat tidak buru-buru mengurus, karena ini kita prioritaskan yang sakit dulu. Tidak ada batasan waktu karena berlaku seumur hidup. Masyarakat hari ini saya lihat banyak sehat cuma ingin mengurus kartu, saya rasa ini tidak perlu, kami akan jamin sepanjang di kelas 3,” ungkap Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi.

Hendi menambahkan, pihaknya akan melakukan evaluasi terkait ramainya antrian warga untuk mengurus UHC. Selain itu, pihaknya juga terus melakukan sosialisasi kepada warga mengenai program baru ini. Selain itu, pihaknya akan mengatur antrian lebih tertib dengan kartu antrian.

“Yang perlu digarisbawahi adalah UHC ini untuk seluruh masyarakat Kota Semarang. Tidak terbatas hanya warga miskin. Tidak hanya di RS pemerintah. Yang berobat di RS swasta juga akan dijamin. Kemudian, saya juga banyak ditanya, untuk persalinan bisa Pak Hendi? saya tegaskan, bisa,” katanya.

Endah, warga Perumahan Sinar Waluyo, Kedungmundu, mengaku sudah dua hari ini gagal mengurus UHC karena banyaknya antrian. Menurutnya, pihak DKK Semarang hendaknya memberikan dua antrian bagi warga. Yakni, warga yang sakit dan warga yang tidak sakit, sehingga pelayanan bisa cepat.

“Ini ruangannya juga kecil dan tidak mampu menampung pendaftar. Kalau disediakan ruangan lagi, dan dipisahkan mungkin bisa cepat,” ujarnya.

Pengantri lain, Jamiatun, warga Pudak Payung,  Banyumanik, mengatakan, jaminan kesehatan yang gratis akan membantu keluarganya, apalagi ia tidak terdaftar dalam peserta BPJS Kesehatan.

“Saya sudah antri sejak jam 07.00 pagi sampai pukul 11.00 siang belum dapat panggilan, padahal nomor antrian sudah dapat. Mau ngecek tidak boleh masuk ke dalam sama petugas. Saya memang tidak minat dengan BPJS Kesehatan, karena harus bayar per bulan, kan saya hanya buruh serabutan sama suami. Nah ini kan programnya Pak Wali gratis, makanya saya mau daftar. Katanya semua penyakit akan dijamin pemerintah,”kata Jumiatun.

Warga lainnya, Romadhon, yang ikut mendaftarkan anaknya yang sakit di Rumah Sakit Tugurejo ikut mengeluhkan antrian, dan sistem pemanggilan warga dari petugas. Meski syarat pendaftaran yang mudah hanya KK dan KTP asli warga Semarang, namun warga Kalirejo Mijen ini berharap agar pelayanan dari Dinas Kesehatan dapat diperbaiki. Utamanya, bagi warga yang menguruskan anggota keluarganya yang sakit diminta untuk didahulukan, mengingat adanya Program Jaminan Kesehatan ini sangat membantu warga kurang mampu seperti dirinya.

“Anak saya sakit kejang sejak sore kemarin, dan saat ini mau masuk ICU di RS Tugurejo. Saya di sini (Kantor Dinas Kesehatan) belum tahu harus bagaimana, apalagi tidak ada petugas bagian informasi. Saya tanya-tanya saja dengan warga lain yang sedang daftar. Mau masuk ke dalam tidak boleh sama petugasnya. Padahal ini saya butuh cepat,” keluhnya. (dit/zal/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here