Perkawinan Islam – Kristen

126

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh Bapak Dr. KH. Ahmad Izzuddin, M. Ag di Radar Semarang yang dimuliakan oleh Allah SWT. Seorang lelaki beragama Protestan kawin dengan seorang perempuan beragama Islam dengan cara Islam. Ketika itu mempelai lelaki lebih dahulu mengucapkan kalimat syahadat. Sekitar 20 tahun kemudian dan setelah memperoleh 5 orang anak, lelaki tersebut tetap beragama Protestan dan tidak pernah melaksanakan syariat Islam. Apakah perkawinan itu tetap sah atau dinyatakan batal menurut hukum ? Mohon jawaban dan penjelasannya. Terimakasih. Wassalamu’alaikum Wa rahmatullah wa barakaatuh

Kautsar, 085640730XXX di Kalipancur

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Bapak Kautsar di Kalipancur yang semoga selalu dimuliakan oleh Allah SWT. Perkawinan dalam pandangan Islam begitupun dalam pandangan hukum Negara kita baru dianggap sah apabila memenuhi rukun dan persyaratan yang ditetapkan agama. Salah satu persyaratan dalam ajaran Islam adalah bahwa suami yang ingin beristrikan wanita Muslimah haruslah Muslim pula. Keislaman seseorang ditandai dengan ucapan Syahadatain. Seorang yang tidak melaksanakan shalat atau tidak beruasa dan atau kewajiban – kewajiban lainnya, selama masih mengucapkan kalimat syahadatain, masih tetap dinilai menurut hukum sebagai Muslim, dan paling tinggi ketika itu dia dinilai sebagai Muslim yang berdosa. Kelak Tuhan akan memberikan balasan sesuai dengan sikap dan kelakuannya. Akan tetapi, kalau ditemukan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa dia telah keluar dari Islam, maka tentu saja ketika itu perkainannya dinilai tidak sah lagi dihadapan hukum.

Namun, di sini perlu dicatat bahwa perceraian dalam ketentuan hukum negara kita baru sah jika ditetapkan oleh pengadilan. Karena itu, untuk kasus yang dipertanyakan ini, sebaiknya dikemukakan di pengadilan. Di sana diputuskan apakah perkawinan dibatalkan oleh pengadilan karena alasan perbedaan agama, atau jatuh perceraian karena salah satu pihak mengajukan alasan yang dapat diterima oleh majelis hakim.

Demikian jawaban dan penjelasan dari saya, wallahu a’lam bisshowab. Semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. (*/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here