Memotivasi Gemar Membaca lewat Duta Baca

106
Oleh: H Subiyono SAg MPdI
Oleh: H Subiyono SAg MPdI

DI tengah  meningkatnya teknologi digital yang memberikan kemudahan dalam mengakses informasi secara cepat, membaca masih menjadi kebutuhan yang dinomorduakan. Adanya kata-kata bijak yang tertempel di berbagai sekolah/madrasah “Membaca, Membuka Dunia”, belum mampu mendobrak minat baca bangsa ini, sehingga minat baca di Indonesia dikenal masih rendah.

Fakta menunjukkan bahwa hasil survei internasional (PIRLS 2011, PISA 2009, dan 2012) yang mengukur  keterampilan membaca peserta didik, Indonesia menduduki peringkat bawah.  Dalam PIRLS 2011 International Results in Reading, Indonesia menduduki peringkat  ke-45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500. Sementara itu, uji literasi membaca dalam PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396, sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396.

Menjawab keprihatinan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,  telah mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Sebuah upaya menyeluruh untuk melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orangtua/wali murid) dan masyarakat, agar menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran.

Tidak cukup berhenti sampai di situ, untuk memperkuat GLS diterbitkanlah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.  Salah satu kegiatan yang ditegaskan dalam peraturan tersebut adalah, kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu pelajaran dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan tidak lain untuk menumbuhkan minat baca peserta didik, serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik.

Namun demikian, berbagai upaya yang dilakukan belum memberikan dampak yang signifkan terhadap peningkatan minat baca peserta didik, utamanya di jenjang SD/MI.  Peserta didik di jenjang ini, lebih suka bermain daripada membaca, kantin sekolah/madrasah lebih banyak dikerumuni daripada perpustakaan, sudut baca, dan tempat-tempat khusus untuk membaca, misalnya pondok baca ataupun taman baca. Beberapa SD/MI telah memiliki program wajib baca, namun kebanyakan peserta didik belum terpanggil untuk memenuhi program itu. Mereka dimanjakan dengan kondisi lingkungan yang jauh dari budaya membaca, tanpa adanya motivator dari kalangan peserta didik untuk gemar membaca.

Untuk itu, dibutuhkan model yang mampu memberikan contoh gemar membaca bagi teman sebaya di antara mereka. Untuk kepentingan ini, sekolah/madrasah dapat mengukuhkan duta baca cilik (DBC), dengan tujuan untuk memotivasi anak agar membaca dan meningkatkan kualitas pendidikan dengan program literasi.

DBC ini tidak asal ditunjuk tetapi melalui proses pemilihan yang dapat dilakukan oleh pengelola perpustakaan, dengan prosedur antara lain: Pertama,  waktu pelaksanaan selama 3 bulan. Kedua, peserta adalah peserta didik kelas 1 sampai 6, yang dibagi dalam dua kategori, yaitu kelas rendah (1-3) putra dan putri dan kelas atas (4-6) putra dan putri.  Ketiga, peserta didik akan dipilih sebagai “DBC” dengan ketentuan paling sering membaca buku di pondok baca/perpustakaan, dibuktikan dengan kehadiran di buku kunjung pondok baca/perpustkaan, serta dikuatkan dengan bukti fisik lainnya, yaitu berupa sinopsis sederhana di buku peserta.

Setelah terpilih, selanjutnya dikukuhkan oleh kepala sekolah/madrasah dengan menerbitkan surat keputusan yang bisa dibacakan pada upacara hari Senin. Sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi mereka, sekolah/madrasah dapat memberikan piala dan atribut khusus, yang akan senantiasa dipakai dalam melaksanakan tugasnya.

Adapun tugas khusus dari DBC, pertama, menjadi contoh bagi teman sebaya untuk gemar membaca, kedua, memotivasi dan mengkampayekan gemar membaca, dan ketiga, mengkoordinir mading sekolah/madrasah di pondok baca/perpustakaan. Dalam pelaksanaan tugasnya, mereka mendapatkan bimbingan dan arahan dari pengelola perpustakaan atau guru yang ditunjuk.

Bentuk bimbingan yang diberikan kepada DBC dapat berupa pendampingan dalam melaksanakan tugasnya, menumbuhkan rasa percaya diri bahwa dirinya adalah peserta didik hebat dalam ranah membaca, dan mengenalkan tokoh-tokoh dunia yang sukses melalui gemar membaca.

Dengan demikian, upaya meningkatkan gemar membaca di jajaran SD/MI dapat dittempuh melalui pembentukan DBC yang berperan sebagai peer leadership, sekelompok siswa yang mampu memberikan contoh perilaku gemar membaca. Adanya contoh riil yang diberikan oleh teman sebayanya, menjadikan peserta didik lainnya meniru perilaku baik yang telah dipraktikkan oleh temannya. Tentunya, sebelum perilaku gemar membaca di kalangan duta baca terbentuk, teladan guru dan kepala sekolah/madrasah dalam gemar membaca menjadi suatu hal yang utama dan penting untuk disuguhkan kepada peserta didik. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here