Membumikan Ajaran Buddha

124
MERIAH: Kemeriahan acara pembukaan Swayamvara Tripitaka Gatha (STG) Nasional X Tahun 2017 di Taman Lumbini, Candi Borobudur, kemarin (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU).
MERIAH: Kemeriahan acara pembukaan Swayamvara Tripitaka Gatha (STG) Nasional X Tahun 2017 di Taman Lumbini, Candi Borobudur, kemarin (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU).

MUNGKID–Magelang menjadi tuan rumah Swayamvara Tripitaka Gatha (STG) Nasional X Tahun 2017, mulai 2 November hingga 5 November 2017. Sebanyak 1600 peserta dari 32 provinsi, ikut berpartisipasi mengikuti 12 cabang lomba.

Di antaranya, membaca Dhammapada, membaca Paritta, membaca Sutra/Mantra/Liam Keng/Dokyo Syodai, dan Dhammadesana Bahasa Indonesia. Juga membaca Dhammadesana Bahasa Mandarin, Dhammadesana Bahasa Inggris, Seni Kaligrafi, Solo Vokal Putri, Solo Vokal Putra, Paduan Suara, Cipta Tari Kreasi Buddhis, dan Barongsai. Ajang STG memperebutkan Piala Presiden.

Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saiffudin hadir secara khusus membuka kegiatan rutin tiga tahunan itu. Menag Lukman mengatakan, tujuan ajang STG, bukan hanya prestasi semata. Namun, ada yang lebih penting, yakni bagaimana membumikan Dharma ajaran Buddha. Dikatakan, STG adalah upaya umat Buddha untuk lebih mengakrabkan diri dengan kitab sucinya, Tripitaka.

“Hakikat STQ ini harus dipegang teguh, sehingga Buddha Dharma bisa dihayati, diresapi dan diamalkan,” kata Menag Lukma saat memberikan sambutan pembukaan STG Nasional ke-X, di Taman Lumbini, Candi Borobudur, Kamis (2/11) kemarin.

Menag berharap, umat Buddha, khususnya generasi muda mampu mewariskan nilai ajaran agama Buddha yang luhur dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, STG tahun ini mengambil tema “Melalui Swayamvara Tripitaka Gatha Kita Wujudkan Revolusi Mental Umat Buddha Indonesia yang Bhinneka”. Lukman menganggap, tema tersebut sangat relevan dengan kegiatan STG.

“Revolusi mental menjadi bagian tak terpisahkan (dari STG), karena ajaran Buddha hakikatnya bagaimana manusia bisa kembali ke jati diri kemanusiannya. Dan sesungguhnya, itulah esensi revolusi mental.”

Meski bukan umat mayoritas di Indonesia, Lukman mengapresiasi umat Buddha telah secara nyata berkontribusi mewujudkan Indonesia yang rukun dan harmonis. “Umat Buddha ikut merawat kedamaian di negeri ini,” ucapnya.

Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tripitaka Gatha (LPTG), Arief Harsono menambahkan, STG diselenggarakan untuk meningkatkan Bhakti (penghormatan) dan Saddha (keyakinan). Serta kecintaan umat Buddha terhadap Kitab Suci Tripitaka.

Ia memandang, acara ini penting dan harus berkelanjutan. Tujuannya, agar generasi muda umat Buddha semakin tangguh, memiliki kompetensi, dan toleran.

“Tantangan era globalisasi telah membuat kita larut dalam sekulerisme arus zaman yang begitu dahsyat. Anak-anak muda perlu dibimbing dan diarahkan, sehingga tidak terbawa arus yang menyesatkan,” ujarnya.

Perwakilan Panitia Pelaksana Jawa Tengah, David Hermanjaya menambahkan, peserta yang mengikuti STG berusia 19 tahun ke atas. Pihaknya mengusulkan, penyelenggaraan STG tiga tahun mendatang, usia 17 tahun bisa mengikuti.

Pantauan koran ini, kegiatan dibuka dengan defile kontingen peserta lomba dari seluruh Indonesia. Masing-masing kontingen menampilkan kekhasan daerahnya.

Kemudian ditampilkan tari kreasi dari Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia dan Majelis Niciren Syosu Buddha Dharma Indonesia. (put/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here