Manajemen Konflik Adalah Peletak Dasar Kepemimpinan

Kapolres Magelang Kota, AKBP Kristanto Yoga Darmawan, S.IK, M. Si

172
AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU
AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU

Tingginya intensitas kinerja kepolisian dalam menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat, menuntut profesionalisme. Setiap anggota kepolisian harus bisa bersikap tegas, sekaligus lembut dalam menciptakan kamtibmas.

SATU sisi, terkadang, kepolisian harus berhadapan langsung dan bergesekan dengan masyarakat dalam berbagai peristiwa khusus, seperti unjuk rasa.

Beberapa kasus yang melibatkan oknum polisi, membuat Polri terus berbenah dan menggeser paradigma lama. Polisi humanis, hingga saat ini, menjadi patokan seorang anggota kepolisian. Selain itu, anggota kepolisian juga dituntut mampu mengelola manajemen konflik.

“Manajemen konflik sangat bermanfaat ketika saya bertugas di Jakarta. Sebagaimana diketahui, Jakarta semua aspek kehidupan ada di sana, baik perekonomian, sosial budaya hingga politik. Sehingga saya belajar banyak di sana saat bertugas di Polda Metro Jaya, karena rutinitas dan tingginya intensitas kinerja kepolisian,” terang Kapolres Magelang Kota, AKBP Kristanto Yoga Darmawan, S. Ik, M. Si.

Selama bertugas di Jakarta, pria yang akrab disapa Kristanto ini terbiasa menangani unjukrasa. Karena tugasnya mengamankan demonstrasi, maka kepolisian pun mengubah menjadi mengelola unjukrasa.

Mengelola unjukrasa, artinya menurut Kristanto, ketika suatu unjukrasa bukan dianggap sebagai hal menakutkan—sementara Polri memiliki peran selain melindungi peserta unjukrasa—juga harus melindungi apa yang menjadi objek dari unjukrasa.

“Dan, bagaimana peran Polri dalam mengubah kegiatan demonstrasi atau unjuk rasa itu untuk tidak destruktif menjadi konstruktif. Ini yang menjadi pegangan saya selama di Jakarta dan akan saya tularkan kepada anggota di kepolisian Magelang Kota,” jelas lulusan Akpol tahun 2000 yang pernah bertugas ke Belanda tersebut.

Mantan presenter NTMC Korlantas Polri yang hobi lari dan menulis itu menyampaikan, anggota Polri dituntut mampu mengelola potensi atau peristiwa dengan manajemen psikologis secara tepat, yaitu manajemen konflik.

“Prinsip saya kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Ini yang akan saya tularkan kepada anggota. Karena jika semua aspek itu terpenuhi, Insya Allah baik tanggung jawab secara moral kepada Allah SWT dan masyarakat yang kita ayomi, pasti akan diberikan kemudahan dan kelancaran,” terang suami Elvita Khairani, mantan announcer terkenal dari salah satu stasiun televisi swasta nasional tersebut. (agus.hadianto/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here