Kiai Jangan Dijadikan Alat Legitimasi Pilgub

185

UNGARAN –Kiai dan santri diharapkan tidak dijadikan alat legitimasi elit politik jelang Pilgub Jateng 2018 mendatang. Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Ungaran Samsul Ridwan mengatakan, jelang momen pilkada, para santri dan kiai kerap dimobilisasi untuk mendukung calon tertentu.

“Jangan mengeksploitasi nilai-nilai egaliter pada sosok kiai dan santri untuk mendulang suara pada untuk Pilkada serentak 2018 maupun Pemilu serentak 2019,” ujar Samsul, Kamis (2/10).

Dikatakannya, pesantren, termasuk kiai dan santri, selalu menjadi objek politik menjelang perhelatan politik baik Pemilu Kepala Daerah (Pemilukada), maupun pemilihan umum dan pemilihan presiden. “Kadang-kadang foto bareng kiai dieksploitasi, seolah-olah kiai mendukung si A, si B, sehingga nama kiai tercemar,” ujarnya.

Sebaliknya, ia meminta penyelenggara pemilu untuk memberdayakan entitas pesantren agar menjadi subjek pemilu. Ketua Sekretariat Nasional Perlindungan Anak (Seknas PA) ini mengapresiasi langkah jajaran Bawaslu Jawa Tengah yang telah menggandeng pesantren sebagai bagian dari pengawasan partisipatif dalam menghadapi tahun politik ini.

Seperti diketahui, Bawaslu Jawa Tengah Rabu (1/11) menggelar kegiatan ‘Sosialisasi Pengawasan Pesantren : Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati serta Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2018’ di Hotel Wujil Ungaran. Kemudian pada Kamis (2/11), Panwaslu Kabupaten Semarang juga menggelar Sosialiasi Pengawasan Partisipatif untuk Pemilihan Gubernur 2018 dan Pemilu 2019 di Hotel C3 Ungaran. Salah satu peserta dalam sosialisasi adalah dari kalangan pesantren di Kabupaten Semarang.

“Kegiatan-kegiatan semacam ini diharapkan bisa menjadi media untuk menyadarkan pada pesanten agar tidak mau menjadi objek, tapi sebagai subjek,” katanya. Selain itu, komunitas santri dan pesanten harus mulai cerdas terhadap politik. (ewb/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here