Disperindag Sidak Produsen Mainan Anak

138
SIDAK SNI: Tim dari Disperindag Jateng ketika menggelar sidak SNI di pabrik mainan anak milik Muhammad Sahlan di LIK Bugangan, Kaligawe (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).
SIDAK SNI: Tim dari Disperindag Jateng ketika menggelar sidak SNI di pabrik mainan anak milik Muhammad Sahlan di LIK Bugangan, Kaligawe (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah industri mainan anak terkait kualitas Standar Industri Nasional (SNI). Jika tidak lolos SNI, bisa dipastikan produk tersebut berbahaya karena mainan anak sarat dengan bahan kimia.

Mainan anak, terutama untuk di bawah usia 3 tahun, harus dipastikan aman dari bahan kimia berbahaya. Pasalnya, anak di bawah 3 tahun kerap menggigit mainan. Jaminan keamanan itu bisa lewat SNI untuk memastikan bahan baku yang digunakan, aman untuk anak.

Disperindag Jateng mendatangi salah satu industri mainan anak di LIK Bugangan, Kaligawe, Semarang, Kamis (2/11) siang. Di pabrik yang memproduksi mainan anak berupa bola dan balon aneka bentuk dari plastik.

Pemilik pabrik, Muhammad Sahlan mengaku telah mengantongi SNI untuk semua jenis produksinya. Dia pun bisa memperlihatkan semua sertifikat SNI kepada petugas Disperindag Jateng yang tengah melakukan sidak.

“Saya tidak berani kalau tidak SNI. Saya sadar, mainan plastik ini mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi anak kalau tidak sengaja masuk mulut,” terangnya.

Dia mengakui, untuk bisa mendapatkan stempel SNI, butuh bahan baku kualitas tinggi. Praktis, ongkos produksinya pun lebih mahal. Padahal dua tahun terakhir ini, permintaan mainan anak merosot drastis.

Untuk menyiasati keterpurukan penurunan omzet itu, Sahlan kekeuh tidak menurunkan kualitas. Dia tetap menjaga sertifikasi SNI di setiap jenis produksinya. “Hanya ukuran yang dikurangi. Yang tadinya mungkin diameter 10 sentimeter, jadi 8 sentimeter. Untuk memangkas ongkos produksi tanpa menurunkan kualtias,” bebernya.

Kepala Seksi Standarisasi Industri Disperindag Jateng, Noer Aziz mengakui, SNI memang membengkakkan ongkos produksi. Sebab, bahan baku yang digunakan, harus sesuai dengan standar kualitas minimal. Tapi itu memang wajib dipegang pengusaha agar produksi dalam negeri berdaya saing tinggi.

“Itu sesuai Undang Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, serta Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 24 Tahun 2013 tentang Pemberlakukan SNI wajib untuk mainan anak,” tegasnya. (amh/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here