RSUD Layani Pasien Cuci Darah 

Miliki Unit Hemodialisa, Tidak Perlu ke Semarang

155
BEZUK PASIEN : Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono MMR didampingi Direktur RSUD Sunan Kalijaga dr Deby Armawati, SpM dan Kepala BPJS Kesehatan Kantor Cabang Semarang dr Bimantara menjenguk pasien gagal ginjal yang sedang terapi cuci darah di unit hemodialisa, kemarin (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
BEZUK PASIEN : Sekda Pemkab Demak dr Singgih Setyono MMR didampingi Direktur RSUD Sunan Kalijaga dr Deby Armawati, SpM dan Kepala BPJS Kesehatan Kantor Cabang Semarang dr Bimantara menjenguk pasien gagal ginjal yang sedang terapi cuci darah di unit hemodialisa, kemarin (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

DEMAK-Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sunan Kalijaga Demak secara resmi telah mengoperasikan unit hemodialisa. Sudah ada beberapa pasien gangguan gagal ginjal yang telah menjalani terapi cuci darah di unit hemodialisa tersebut.

Demikian disampaikan Direktur RSUD Sunan Kalijaga, dr Deby Armawati, SpM di sela penandatanganan kerjasama pelayanan hemodialisa antara RSUD Sunan Kalijaga dengan BPJS Kesehatan, kemarin.

Menurut dr Deby, saat ini 4 mesin hemodialisa dioperasikan. Untuk memaksimalkan pelayanan terhadap pasien, unit tersebut akan ditambah hingga 11 mesin hemodialisa. “Alhamdulillah, 4 unit mesin sudah beroperasi dan telah melayani beberapa pasien,” katanya.

Unit ini ditangani oleh konsultan, yaitu dr Lestariningsih (ahli penyakit dalam) dari RSUP dr Kariadi Semarang. Sedangkan, untuk penanggung jawab unit adalah dr Diana (ahli penyakit dalam) serta dr Tri Uni dokter umum bersertifikat sebagai pelaksana.

Sekda Pemkab Demak, dr Singgih Setyono MMR mengatakan bahwa dengan adanya konsultan di unit hemodalisa tersebut, maka standar pelayanan dan pengoperasian unit ini dapat dipenuhi. Dengan demikian, pelayanan terhadap pasien dapat dilakukan lebih optimal, berjalan efektif dan efisien.

“Mari pelayanan dokter dan perawat ditingkatkan. Jaga kepercayaan pasien. Adanya unit hemodialisa ini merupakan upaya pemerintah daerah khususnya RSUD mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” kata dr Singgih.

Pelayanan hemodialisa dinilai penting karena penderita gagal ginjal sekarang mirip fenomena gunung es. Kepala BPJS Kesehatan Kantor Cabang Semarang, dr Bimantara menyampaikan, bahwa penderita gagal ginjal meningkat terus. Bahkan, BPJS mencatat penderita gagal ginjal ada sekitar 22 ribu kasus setiap bulan. Banyaknya penderita gagal ginjal yang menjalani cuci darah juga tampak di RSUP dr Kariadi Semarang. Dengan kondisi seperti ini, pelayanan BPJS terhadap pasien gagal ginjal pun juga meningkat.

”Dengan adanya unit hemodialisa di RSUD Sunan Kalijaga ini, maka pasien gagal ginjal dari wilayah timur Kudus-Demak dan sekitarnya bisa menjalani cuci darah di rumah sakit ini. Tidak perlu jauh jauh ke Semarang lagi,” katanya.

Menurut dr Bimantara, banyaknya pasien gagal ginjal sekarang ini dimungkinkan pola hidup yang salah atau justru terapi obat yang membawa pasien mengalami gagal ginjal. Sebab, 33 persen pasien yang dilayani BPJS adalah mereka yang telah mengalami gagal ginjal kronis (katastropi). “Untuk pelayanan hemodialisa ini, pendataan pasien harus pakai teknologi finger print (pemindai sidik jari) sehingga pelayanan lebih optimal,” jelasnya. Penggunaan finger print ini dinilai penting untuk menghindari klaim BPJS yang tidak sesuai kenyataan. Misalnya, pasien tidak datang untuk cuci darah tapi justru diklaimkan ke BPJS. (hib/sct/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here