Pasang Surut Horor Indonesia

145

BELAKANGAN, jagat sinema Indonesia kembali diramaikan film-film horor buatan anak bangsa. Beberapa judul film bahkan sukses jadi box office, seolah memecahkan keraguan bahwa sineas lokal nggak mampu membuat film horor berkualitas. Yep, dunia film horor Indonesia emang punya sejarah pasang surut. Pernah berjaya, pernah pula dianggap sebelah mata. Simak lagi yuk timeline film horor Indonesia dari waktu ke waktu! (nen/c14/nrm)

Periode 1980-an
Takuti Penonton dengan Cita Rasa Lokal

Walau teknologi pembuatan film nggak secanggih sekarang, film horor ikonik justru berderet loh pada periode ini! Sebut aja Ratu Ilmu Hitam (1981), Nyi Blorong (1982), dan Malam Satu Suro (1988). Ketiganya dibintangi Suzanna, sang ratu film horor Indonesia. Seolah nggak cukup, sederet judul seperti Pengabdi Setan (1980) dan Malam Jumat Kliwon (1986) juga makin membuktikan kejayaan film horor pada periode ini.

Menurut Fauzan Abdillah, sineas sekaligus representatif Indonesia di ajang International Film Business Academy Busan, film-film horor pada periode ini punya karakteristik menonjol. Yakni, selalu menunjukkan ciri-ciri lokal dan kedaerahan. ’’Ada eksplorasi terhadap khazanah budaya dan kepercayaan lokal Indonesia,’’ terang Fauzan.

Itulah yang bikin film horor periode 1980-an superseram dan gampang melekat di benak penonton. Kerennya lagi, kekuatan tersebut ditambah dengan penonjolan sisi teknis yang oke. ’’Ciri khas lain berada dari sisi teknis. Misalnya, penonjolan make-up, lighting, hingga sound effects,’’ jelas Fauzan.

Widiih, pantas aja ya film horor zaman dulu selalu sukses bikin merinding!

 

Periode 2000–2010
Horor yang Dibumbui dengan Muatan Seksual

Pada era ini, rupanya terdapat penurunan kualitas film horor Indonesia. Sebab, begitu banyak film yang nggak menonjolkan sisi horor, tapi justru menegaskan unsur bermuatan seksual. Judul-judul kayak Tali Pocong Perawan (2008), Suster Keramas (2009), hingga Dendam Pocong Mupeng (2010) makin membuktikan fakta tersebut. Alhasil, pada periode ini, film horor sempat dianggap sebelah mata oleh masyarakat Indonesia. Kalau ngomongin film horor, pasti deh stigma mesum yang bakal lebih dulu muncul.

Menurut Fauzan, banyaknya muatan seksual yang justru lebih ditonjolkan daripada kesan seram membuat film horor pada era ini kurang mendapat apresiasi. ’’Sineas yang baik tidak akan menggarap tema seperti itu,’’ tuturnya.

Dia pun mengakui kemungkinan bahwa film horor dewasa hanya dibuat untuk menarik massa dan keuntungan sebanyak-banyaknya. ’’Penurunan kualitas film horor Indonesia disebabkan banyak faktor. Salah satunya adalah kurangnya kreativitas,’’ ujar Fauzan.

Siapa yang juga sempat skeptis sama film horor Indonesia pada era ini?

Periode 2014–Sekarang
Kualitas yang Kembali Tumbuh

Eits, jangan berkecil hati dulu. Sebab, pada periode 2014–sekarang, film horor Indonesia terbukti mulai menunjukkan tanda kebangkitan kualitas! Hal itu tecermin dari munculnya film-film horor hit seperti Mall Klender (2014), Danur (2017), hingga Pengabdi Setan versi remake (2017). Canggihnya teknologi pembuatan film, kreativitas yang tinggi, sekaligus referensi film horor yang makin kaya bikin film horor Indonesia kembali digemari di negeri sendiri. Yippee!

Menurut Fauzan, plot film horor Indonesia yang semula mudah ditebak dan repetitif kini makin kompleks dan unpredictable. ’’Contohnya, Pengabdi Setan (2017). Joko Anwar tidak hanya menonjolkan karakter kuat pada hantu, tapi juga budaya yang dekat dengan masyarakat. Dia juga sukses memunculkan permainan simbol mistis yang kuat pada penonton,’’ ungkap Fauzan.

Apalagi, masyarakat pada era sekarang udah makin kritis dalam memilih tontonan. ’’Ada kebutuhan bagi mereka untuk menyaksikan tontonan yang berkualitas. Alhasil, para sineas sekarang berlomba-lomba menyajikan karya yang berkualitas,’’ tutur Fauzan.

Semoga momen ini jadi penanda bangkitnya perfilman horor Indonesia ya. We’ll wait and see!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here