Menggapai Mimpi di Kota yang Tidak Kenal Kata Sepi

105
BROOKLYN BRIDGE : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, mengunjungi Brooklyn Bridge (Jembatan Brooklyn) karya arsitektur dari abad ke-19 (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).
BROOKLYN BRIDGE : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, mengunjungi Brooklyn Bridge (Jembatan Brooklyn) karya arsitektur dari abad ke-19 (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).

Oleh : Asip Kholbihi

“A hundred times have I thought New York is a catastrophe, and fifty times: It is a beautiful catastrophe” – Le Corbusier.

NEW YORK, sebagaimana kutipan seorang tokoh masyhur di bidang perencanaan kota dan arsitektur modern, Le Corbusier, menampilkan dirinya sebagai sebuah kota yang kompleks. Kota metropolitan dengan berbagai keangkuhan dan kesibukannya yang tidak semua orang bisa menyesuaikan diri, namun dengan kecantikannya pula orang akan betah untuk berada di kota pusat ekonomi dunia itu. Di sisi lain dari keruwetan lalu lintas kendaraan pribadi dan taksi kuning khas New York dan hiruk pikuk aktivitas New Yorkers, keanggunan tiap sudut blok kota yang ikonik dan harmonis seakan menjadi pembenar dari pandangan arsitek Swiss tersebut. Dan saya beserta rombongan mendapat kesempatan untuk mengunjungi kota yang menjadi salah satu aglomerasi perkotaan terpadat di dunia dengan jumlah penduduk mendekati angka 24 juta jiwa.

Masih dalam ikhtiar untuk memperkenalkan potensi nusantara khususnya batik pewarna alam ke benua merah khususnya Amerika Serikat, kunjungan beberapa hari di Washington DC dilanjutkan ke prospek pasar yang lain di New York, di mana berbagai event bisnis yang sering digelar di kota tersebut dapat menjadi peluang. Diskusi dengan para pelaku bisnis dari Indonesia yang bergerak di bidang terkait dengan dimediasi oleh pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia di New York menjadi agenda utama yang dilaksanakan. Dari event organizer, pelaku industri broadcasting dan perfilman, sampai penggiat batik ikut terlibat aktif dalam mendukung keinginan besar dari Kabupaten Pekalongan. Program-program strategis pun telah dirumuskan dan melahirkan komitmen bersama untuk menindaklanjutinya dengan mengoptimalkan segala sumber daya yang tersedia.

Beranjak dari diskusi di Gedung Konsulat Jenderal RI, kami juga menyempatkan diri mengunjungi Indonesian Fashion Gallery (IFG), sebuah galeri di salah satu sudut strategis di Est 31st Street di Manhattan, New York yang menjadi showcase produk-produk fashion dari para desainer Indonesia. Berada di kota yang menjadi pusat industri global fashion dunia, keberadaan galeri ini menjadi pintu masuk bagi Batik Pekalongan untuk menginfiltrasi dan mengambil peran dalam arena mode busana dunia. Dengan menjual konsep produk batik yang menonjolkan aspek ramah lingkungan, saya yakin batik Pekalongan akan menemukan ruangnya di kancah internasional.

Masih sambil meresapi makna dari kutipan Le Corbusier, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri blok-blok simetris yang membentuk Kota Bagian (Borough) Manhattan, salah satu dari lima kota bagian yang membentuk City of New York. Jalan-jalan kecil pemisak blok (street) yang berjumlah ratusan dan memotong beberapa jalan yang lebih besar (avenue) menjadi tempat kehingarbingaran lalu lalang kendaraan dan on-street parkingyang seakan tidak meninggalkan celah kosong untuk satu mobil pun. Ya, di kota dengan type seperti Manhattan yang menjadi kota bagian tersibuk di NewYork, memiliki mobil pribadi bagi warga kota adalah keniscayaan, tapi mencari slot parkir adalah sebuah perjuangan!

Sebuah kesempatan besar bagi Penulis untuk meluangkan sedikit waktu mengeksplore sudut-sudut Kota Manhattan dengan beragam kemegahan dan keunikan yang ditawarkan di dalamnya. Empire State Building, gedung pencakar langit setinggi 443 m dan menjadi gedung dengan arsitektur terfavorit di Amerika Serikat serta menjadi background dari berbagai karya sinema produksi Hollywood menjadi objek yang tidak bisa luput dari pengamatan kami. Pun dengan Time Square, satu persimpangan jalan di tengah Kota Manhattan yang sangat ikonik dan masyur di seluruh jagad. Papan-papan reklame digital berukuran raksasa yang tidak pernah meredup sinarnya seakan menjadi magnet bagi jiwa para pengunjung dan pejalan kaki di atas pedestrian yang dibuat sangat lebar dan nyaman. Freedom Tower atau dengan nama lain One World Trade Center yang dibangun untuk menggantikan kemegahan Gedung World Trade Center yang hancur Tahun 2001 juga sangat eye-catching dengan “kesombongannya” yang menjulang setinggi 541 meter dan menjadi bangunan tertinggi di Kota Big Apple.

Masih dari kawasan Manhattan, langkah kami menuju titik tengah kota yang merupakan hamparan hijau seluas 340 hektare yang di atas peta membentuk persegi empat simetris dan dibatasi blok-blok kota. Sebuah taman kota yang sangat luas dan menjadi penyeimbang dari hiruk pikuk aktivitas urban yang ada di sekelilingnya. Tidak akan cukup rasanya waktu satu hari dihabiskan untuk mengeksplore tiap sudut taman yang dikelola dengan profesional oleh Central Park Conservancy yang bekerja sama dengen pemerintah kota.  Hamparan rumput  bak permadani, pohon-pohon hijau yang meneduhkan, danau yang luas di tengah taman, plaza, kebun binatang, jogging track, dan alunan musik jazz di resto dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit Manhattan menjadi tempat yang sempurna bagi New Yorkers dan wisatawan untuk “bersembunyi” dari modernitas metropolitan. Sebuah kontras yang membentuk harmoni kota.

Satu lagi spot penting di New York yang dapat kami singgahi di sela-sela waktu kunjungan ini adalah sebuah mahakarya struktur dan arsitektur dari abad ke-19, Brooklyn Bridge (Jembatan Brooklyn). Sebuah jembatan dengan panjang total 1.825 m yang menghubungkan dua kota bagian di New York city : Manhattan dan Brooklyn. Diresmikan Tahun 1883 dengan desain konstruksi berbentuk suspension/cable-stay hybrid dan merupakan jembatan suspensi terbesar di dunia, jembatan ini menjadi salah satu landmark paling masyur dari Kota New York yang tidak pernah sepi pengunjung. Salah satu keunikan yang membuat jembatan ini menjadi ikonik di samping dua menara batu dengan model Gotiknya, adalah jalur pedestrian yang menggantung di atas kepadatan jalur kendaraan. Keindahan jembatan dan panorama Kota Manhattan dan Est River pun dapat dinimati secara maksimal oleh pengunjung yang mencapai jutaan orang setiap tahunnya.

Sebuah perjalanan yang singkat namun memberikan banyak referensi bagi saya untuk menumbuhkan ide-ide baru pembangunan, tentunya dengan skala dan sumber daya yang sesuai dengan kondisi di tanah air. Think globally act locally, rasanya sangat relevan untuk diterapkan, terutama bagi para pengambil kebijakan pembangunan di daerah seperti saya. Selalu ada ilmu dan pengetahuan di luar rumah kita dan selalu ada manfaat bagi orang yang mau belajar dan membuka cakrawala dunia. Pada akhirnya saya berharap bahwa setiap ilmu pengetahuan dan pengalaman baru yang saya peroleh bisa membawa keberkahan bagi masyarakat yang saya pimpin. Amien…. (*/thd/adv/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here