Lima Petinggi BKK Pringsurat Diperiksa

226
PIDSUS: Suheli (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU).
PIDSUS: Suheli (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU).

TEMANGGUNG—Kasus dugaan penyelewengan dana perusahaan yang terjadi di Tour and Travel PD Bhumi Phala Temanggung (pengelola wisata Pikatan Water Park), diduga kuat terkait kasus yang membelit PD BKK Pringsurat.

“Persoalan PD Bumi Phala Wisata dipastikan terkait dengan PD BKK Pringsurat,” kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Temanggung, Fransisca J, melalui Kasi Pidsus Kejari Temanggung, Suheli, di kantornya, Rabu (1/11) kemarin.  Sebab, lanjut Suheli, peminjaman uang sebesar Rp 500 juta yang dilakukan oleh mantan Direktur PD Bhumi Phala Temanggung, RTK (Raharja Tri Kumuda) di PD BKK Pringsurat, tanpa melalui prosedur.

Peminjaman tidak melalui prosedur tersebut, sambung Suheli, diduga bisa terjadi karena adanya penyalahgunaan wewenang di pihak PD BKK Pringsurat. Karena itu, kata Suheli, jika nantinya kasus di PD BKK Pringsurat dibuka, maka RTK selaku mantan direktur dan Indriyani selaku Manajer Keuangan PD Bumi Phala Wisata akan diperiksa penyidik.

“Indriyani dianggap bertanggung jawab, karena yang berperan menandatangani peminjaman uang di luar prosedur tersebut. Sedangkan RTK merupakan  pihak yang meminjam duit tersebut,” beber Suheli.

Suheli menjelaskan, kasus hukum di PD BKK Pringsurat, saat ini sudah masuk tahap penyidikan. Sebanyak lima saksi sudah diperiksa. Untuk diketahui, PD BKK Pringsurat merupakan BUMD patungan milik Pemprov Jateng dan Pemkab Temanggung. BKK Pringsurat saat ini tengah terbelit masalah serius, kesulitan likuiditas. Kolapsnya BKK Pringsurat diduga akibat penyalahgunaan wewenang sejumlah oknum di internal BPR tersebut.

Siapa saja kelima orang yang sudah diperiksa terkait kasus PD BKK Pringsurat? Suheli mengatakan, kelimanya dari  unsur pimpinan PD BKK Pringsurat. Yakni, Harno Susanto, Muhammad Saefudin, Eriska, Gatik Candra, dan Dwi Adian.

“Memang belum ditentukan tersangka untuk kasus  PD BKK Pringsurat. Sekarang sudah penyidikan. Kami sudah periksa lima leader sebagai saksi, tunggu saja perkembangan berikutnya,” pungkasnya.

Seperti diberitakan koran ini, Kejaksaan Negeri (Kejari) Temanggung, resmi menahan mantan Direktur Perusahaan Daerah (PD) Bhumi Phala Temanggung  RTK (Raharja Tri Kumuda). RTK tak sendiri. Ia ditahan bersama mantan Kepala Unit (Kanit) Tour and Travel PD Bhumi Phala, HW (Harya Wiraputra). PD Bhumi Phala merupakan BUMD milik Pemkab Temanggung yang mengelola objek wisata keluarga wahana air Pikatan Water Park.

“Pak RTK dan HW hari ini (kemarin, red) kita tetapkan sebagai tersangka. Keduanya diduga menyelewengkan dana perusahaan (pengelolaan dana tour and travel),” ucap Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Temanggung, Fransisca Juwariyah, kemarin petang.

Perempuan ramah yang intim disapa  Sisca ini membeber, pada 2015, PD Bhumi Phala membentuk unit perusahaan (anak perusahaan), yakni tour and travel, dengan menunjuk seorang Kanit. Tugas Kanit,  mengurus operasional. Nah, pada kurun waktu 2016-2017, terjadi ketidakberesan manajemen keuangan yang dilakukan oleh Kanit.

“Sebagian besar pengguna jasa telah melakukan pelunasan (tour and travel) melalui rekening BNI (lewat Kanit) selaku pemegang tabungan. Namun, Kanit sering mengambil uang tanpa izin induk perusahaan (PD Bhumi Phala). Setiap habis perjalanan (trip), dia selalu mengambil uang (kas bon) dengan dalih uang muka  biaya operasional,” beber Kajari Sisca.

Sisca menyampaikan, karena pengambilan uang dilakukan terus-menurus, membuat seluruh keuntungan yang diperoleh unit tour and travel, menjadi tidak jelas. Padahal,  semua pengguna jasa telah membayar luas.  “Kerugian uang perusahaan mencapai Rp 662 juta. Sore ini  juga (kemarin), kedua tersangka akan kami titipkan ke Rutan Kelas II B Temanggung. Selanjutnya, dilakukan sidang Tipikor di Semarang,” kata Sisca.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Temanggung Suheli menambahkan, uang yang tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh Kanit Tour and Travel sebanyak Rp 662 juta. Lantas, apa yang dilakukan oleh RTK? “Untuk menutup uang tersebut, mantan direktur mengambil kredit dari BKK Pringsurat tanpa agunan.” (san/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here