Gagasan School Well Being di Madrasah

171
Oleh: Fatchul Achyar SPd
Oleh: Fatchul Achyar SPd

HASIL pengamatan di lapangan, banyak peserta didik di madrasah yang bermasalah, atau melakukan perilaku menyimpang. Seperti siswa yang malas belajar, tidak mengerjakan PR, membolos, membentuk genk dan berbuat gaduh di kelas, terlambat masuk kelas, berpakaian tidak sesuai dengan ketentuan, dan tidak konsentrasi pada pelajaran, yang berdampak pada nilai raport yang rendah atau prestasi yang kurang.

Kesejahteraan siswa di sekolah (school well being), merupakan masalah yang jarang diperhatikan pendidik. Karena banyak pendidik yang memaknai, kesejahteraan hanya dari terpenuhinya sandang dan pangan para peserta didik. Padahal, peserta didik di era sekarang dihadapkan pada situasi kehidupan yang kompleks, penuh peluang dan tantangan, serta ketidakmenentuan. Diperlukan berbagai kompetensi hidup, agar peserta didik dapat berkembang secara efektif, produktif dan bermartabat serta bermaslahat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Madrasah sebagai salah satu wadah yang dapat membantu peserta didik dalam mengembangkan berbagai kompetensi hidup yang dimilikinya. Dalam menciptakan school well being, diperlukan sebuah sistem layanan pendidikan di sekolah yang tidak hanya mengandalkan layanan pembelajaran mata pelajaran/bidang studi dan manajemen, namun diperlukan juga layanan khusus yang bersifat psikoedukatif melalui layanan bimbingan dan konseling.

Dalam konsep school well being, terdapat empat komponen kebutuhan dasar yang harus dipenuhi yaitu: having, loving, being dan health. Jika komponen-komponen tersebut tidak ada di sekolah, dapat menyebabkan peserta didik tidak nyaman selama di sekolah, yang pada akhirnya bisa menimbulkan gangguan perilaku.

School well being merupakan sebuah model yang berdasar konsep wellbeing itu sendiri, berasal dari khasanah tradisi sosiologi. Allardt, mendefinisikan wellbeing sebagai sebuah keadaan yang memungkinkan individu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Pemenuhan kebutuhan dasar memiliki empat kategori, yakni, having, loving, being dan health.

Well being dapat dilhat dari dua indikator, yakni indikator objektif dan indikator subjektif. Indikator objektif didasarkan pada observasi eksternal, dan indikator subjektif didasarkan pada ekspresi orang terhadap sikap mereka dan persepsi mereka terhadap kondisi lingkungannya.

Menurut Papalia, Olds, dan Feldman (2007), peserta didik yang menyukai sekolahnya akan cenderung melaku­kan kegiatan akademis dengan lebih baik. Namun, jika peserta didik tidak merasakan kepuasan pada seko­lahnya, maka akan berdampak negatif pada prestasi dan perilaku buruk di sekolah. Maka dari itu penting, bagi peserta didik untuk memiliki school well being yang tinggi.

Karena itu, dalam menciptakan school well being diperlukan peran serta guru dan dukungan suasana sekolah. Karena, kesejahteraan peserta didik di sekolah dapat dioptimalkan jika adanya dukungan eksternal, yaitu suasana sekolah, hubungan sosial di sekolah, kesempatan aktualisasi diri dan layanan kesehatan. Suasana sekolah bisa mempengaruhi perkembangan peserta didik antara lain pada aspek identitas diri, keyakinan akan kemampuan diri, gambaran mengenai kehidupan, hubungan antar pribadi, batasan norma antara yangbaik dan buruk, serta konsep akan sistem sosial.

School well being merupakan keadaan sekolah yang memungkinkan individu memuaskan kebutuhan dasarnya, yang meliputi having, loving, being, dan health. Having merupakan kondisi sekolah, loving adalah bagaimana hubungan sosial siswa di sekolah, being bagaimana peluang pengembangan diri siswa dan health adalah status kesehatan siswa. Alhasil, siswa yang kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi akan rentan menimbulkan masalah dan melakukan perilaku-perilaku menyimpang. Namun jika peran guru dioptimalkan, maka permasalahan terkait school well being siswa di sekolah mungkin dapat diminimalisasi bahkan dapat dicegah. Selamat menerapkan. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here