Sebuah Ikhtiar Menduniakan Batik yang Hijau

Perjalanan ke Negeri Paman Sam (1)

84
TEMBUS BATAS BENUA : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi mengabadikan upayanya menduniakan batik Pekalongan dengan latar belakang Monumen Washington (FOTO-FOTO : DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).
TEMBUS BATAS BENUA : Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi mengabadikan upayanya menduniakan batik Pekalongan dengan latar belakang Monumen Washington (FOTO-FOTO : DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG).

Oleh : Asip Kholbihi

MEMERLUKAN waktu sekitar 25 jam perjalanan udara dari Jakarta  untuk sampai di Bandara John F Kennedy di New York. Sebuah kota yang menjadi barometer perekonomian dunia dan simbol dari kemegahan negara kapitalis bermahzab demokrasi, Amerika Serikat. Dengan perbedaan waktu sekitar 12 jam lebih lambat dari Indonesia, perjalanan ibarat menembus bumi ini memberikan jetlag yang cukup terasa bagi saya dan rombongan untuk menjalankan aktivitas sesuai program yang telah disiapkan. Kunjungan ke negara adidaya ini adalah yang pertama bagi saya. Dan mimpi yang saya bawa pun, sebesar rasa lelah dari lamanya waktu perjalanan : membawa Batik Pekalongan untuk berkibar menembus batas benua.

Dari bandara, Kota Washington DC (District of Colombia) adalah kota yang akan pertama kali kami kunjungi dan jalur darat menjadi pilihan untuk mencapai ibu kota Amerika Serikat tersebut. Bukan tanpa alasan, perjalanan menyusuri jalan tol selama sekitar 4 jam saya pilih, untuk memperluas referensi pengetahuan melalui visual learning yang saya yakini akan memberikan kontribusi signifikan dalamkebijakan pembangunan lokal. Bagaimana infrastruktur konektor antar state (negara bagian) yang berfungsi dengan efektif, smart transportation system, karakter land use, menjadi pengaya khazanah pengetahuan bagi penulis.

Kunjungan ke Washington DC, sebuah wilayah otonom yang terletak di antara negara bagian Virginia dan Maryland dan membentuk area metropolitan dengan penduduk hampir 6 juta jiwa, menjadi titik penting bagi mimpi Kabupaten Pekalongan untuk menduniakan Batik Pekalongan dalam segala bentuk produknya. Setelah masuk dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-Benda Warisan Manusia UNESCO tahun 2009, menjadi wajib bagi stakeholders terkait termasuk penulis untuk mengembangkan global strategic actions sehingga batik, khususnya batik Pekalongan, semakin kuat tertancap di pasar dunia. Dan Washington DC dengan posisi strategisnya sebagai pusat pemerintahan dan lokasi ratusan institusi perwakilan negara-negara serta bisnis dari seluruh dunia menjadi pintu masuk potensial dalam ikhtiar ini.

Kunjungan pertama yang dilakukan tentu saja adalah Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat yang terletak di kawasan Dupont Circle di jantung kota Washington DC. Menempati sebuah bangunan mewah berarsitektur Eropa klasik peninggalan bangsawan Amerika yang dibangun awal abad XX, Kantor Kedubes Indonesia terlihat menonjol di kawasan elit kota. Diskusi dengan tim dari kedutaan yang sangat apresiatif dan supportif terhadap keinginan dan harapan akan mendunianya batik, termasuk batik Pekalongan, memberikan semangat yang lebih besar dalam kunjungan ini.

Keanggunan interior gedung KBRI peninggalan bangsawan Evalyn Walsh McLean yang sering dikaitkan dengan kepemilikan perhiasanan termasyur pada eranya, Hope Diamond dengan cerita misteri yang meliputinya, seakan menjadi saksi lahirnya rencana-rencana strategis dari keinginan bersama anak bangsa untuk mengibarkan potensi produk Indonesia di Amerika.

Titik penting lain yang menjadi tujuan lain dari kunjungan ini adalah Voice of America (VOA), sebuah jasa broadcasting multimedia yang berpusat di Washington DC dan menyiarkan beragam informasi dalam puluhan bahasa ke seluruh dunia, termasuk Indonesia didanai oleh pemerintah AS melalui Broadcasting Board of Governors. Lembaga penyiaran independen ini menjadi media yang efektif dalam menyebarkan berita-berita yang akurat dan bertanggung jawab. Beruntungnya, kami mendapat kesempatan untuk mengisi salah satu program untuk VOA Indonesia yang sudah eksis di VOA beberapa saat setelah kelahiran VOA di tahun 1942. Sebuah modal dan investasi berharga buah dari kegigihan kami membangun networking demi masuk dan diperhitungkannya Kabuputen Pekalongan dalam kancah internasional.

Kawasan National Mall, sebuah area terbuka yang sangat luas di Washington DC menjadi spot penting bagi Kabupaten Pekalongan untuk menduniakan potensinya, batik pewarna alam. Berlatar Gedung United States Capitol, kantor Kongres Amerika Serikat yang masuk dalam daftar arsitektur paling masyur di Negara Paman Sam, batik pewarna alam mendapatkan momentum melalui liputan oleh VOA Indonesia. Dengan melihat tingginya perhatian masyarakat negara maju terhadap isu lingkungan, saya yakin bahwa produk yang ramah seperti batik warna alam Pekalongan akan mendapat tempat di pasar internasional, termasuk Amerika Serikat. Dan liputan VOA Indonesia akan menjadi tonggak berkibarnya batik melalui strategi-strategi yang sudah disiapkan.

Proses pembelajaran melalui kunjungan ke Washington DC tidak hanya untuk membawa potensi daerah yang bisa diambil pasarnya, tapi juga ada lesson learned dari proses-proses pembangunan prototype sebuah negara modern seperti USA. Bagaimana kawasan National Mall yang menjadi kompleks beberapa bangunan utama Amerika Serikat : Lincoln Memorial, United States Capitol, Washington Monument serta White House dapat menarik hampir 25 juta wisatawan per tahun adalah hal menarik yang dapat menjadi pengaya pemikiran penulis. Washington Monumen misalnya, sebuah tugu peringatan berbentuk obelisk yang dibangun akhir abad ke -19 untuk mengenang George Washington sebagai Presiden Pertama Amerika Serikat, menjadi penanda ikonik yang tidak akan dilewatkan oleh para wisatawan. Dengan dukungan penataan kawasan yang optimal, biaya yang mahal dari sebuah pembangunan wilayah akan memunculkan nilai tambah yang signifikan bagi wilayah tersebut.

Kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi National Harbor, sebuah area baru di Negara Bagian Maryland yang dikembangkan dengan konsep waterfront city. Dengan berlatar depan Sungai Potomac yang juga membelah Washington DC, National Harbor menjelma menjadi pusat ekonomi dan hiburan bagi masyarakat melalui berbagai fasilitas yang tersedia di dalamnya : convention center, hotel, restoran, pertokoan, perkantoran, kondominium, casino, dan fasilitas pendukung lainnya. Berbagai event besar digelar rutin sepanjang tahun menasbihkan kawasan ini sebagai salah satu penggerak perekonomian di area metropolitan Washington DC. Sebuah kunjungan yang dapat memberikan inspirasi pada penulis untuk lebih keras berpikir mengoptimalkan segala sumber daya yang ada di daerah untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Memang tidak bersifat apple to apple dengan melihat objek kunjungan yang memang sangat modern , namun semangat untuk bekerja lebih baik yang harus dikuatkan. Insya Allah….. (*/thd/adv/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here