Lestarikan Kearifan Lokal, Siswa Buat Seribu Tumpeng

226
TUMPENG : Ribuan tumpeng kreasi siswa SMAN 12 Semarang yang digelar saat peringatan bulan bahasa di halaman sekolah, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
TUMPENG : Ribuan tumpeng kreasi siswa SMAN 12 Semarang yang digelar saat peringatan bulan bahasa di halaman sekolah, kemarin (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG–Untuk mengaktualisasikan nilai-nilai sumpah pemuda, siswa SMAN 12 Semarang membuat ribuan tumpeng, Selasa (31/10) kemarin. Nilai-nilai yang terkandung dalam sumpah pemuda di antaranya pelestarian keraifan lokal.

Kepala SMAN 12 Semarang, Kusno mengatakan jika hal itu juga untuk memeriahkan bulan bahasa. “Kegiatan gelar budaya dalam rangka bulan bahasa sedang menjabarkan dan mengimplementasikan visi sekolah yaitu berprestasi dan berwawasan lingkungan,” ujar Kusno.

Dikatakan Kusno, lokasi SMAN 12 Semarang yang berada di Kecamatan Gunungpati juga harus ikut melestarikan kearifan lokal. Seperti halnya dengan kegiatan pembuatan seribu tumpeng kali ini. Sehingga melalui kegiatan pembuatan seribu tumpeng, supaya siswa lebih digalakkan menghargai budaya lokal agar tidak tergerus budaya asing.

“Dan disini (Gunungpati) kearifan lokalnya kan memetri budaya desa. Maka ada yang namanya program grebek 1000 tumpeng dan grebek hasil bumi seperti buah-buahan,” ujarnya.

Dikatakan Kusno, tumpeng juga sebagai bentuk dari sebuah tujuan yang baik. Diharapkan, melalui tumpeng tersebut segala cita-cita siswa dan sekolah dapat terwujud. Pembuatan seribu tumpeng sebagai media aktualisasi dan pembelajaran siswa untuk menghargai dan melestarikan budaya.

Dimana pada kesempatan itu sebanyak 1.069 siswa masing-masing membuat satu tumpeng. Biaya yang digunakan untuk pembuatan tumpeng juga swadaya dari masing-masing siswa. “Adapula yang membuatkan, siswa tinggal menghias saja sedikit-sedikit,” ujarnya.

Setelah tumpeng-tumpeng tersebut dibuat, langsung disajikan dihadapan para guru sekolah itu. Setelah didoakan, tumpeng kemudian dimakan beramai-ramai. Meski begitu, siswa terlihat teratur. Sembari memakan tumpeng, para guru dan karyawan menghibur dengan ketoprak kontemporer. Dimana lakon-lakon dalam ketoprak tersebut merupakan guru dan karyawan di sekolah itu sendiri. “Ini baru tahun ini digelar dan akan menjadi agenda tahunan serta melibatkan semua stakeholder. Untuk membingkai pendidikan karakter,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Gebyar Budaya tersebut, Novia Wahyu Wulansari mengatakan jika konsep kebudayaan Jawa memang sengaja diangkat dalam kegiatan tersebut. “Saat ini budaya asli Jawa kerap dilupakan generasi sekarang,” ujar siswi kelas XI IPA 4 SMAN 12 Semarang itu. (ewb/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here