Ditemukan Ngengat, 315 Ton Kedelai Impor Difumigasi

191
CEGAH NGENGAT: Petugas saat melakukan fumigasi salah satu kontainer yang berisi kedelai impor dari Amerika (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).
CEGAH NGENGAT: Petugas saat melakukan fumigasi salah satu kontainer yang berisi kedelai impor dari Amerika (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG).

SEMARANG Balai Karantina Kelas I Pelabuhan Tanjung Emas melakukan fumigasi terhadap 5 kontainer berisi kedelai impor dari Amerika. Tindakan tersebut untuk mencegah menyebarnya hama jenis ngengat (Pyralidae) yang jarang ditemui di Indonesia.

“Sebelum tindakan fumigasi, telah kami lakukan pengambilan sampel kedelai yang masuk sejak tanggal 23 Oktober lalu. Dari sampel tersebut, kami temukan adanya ngengat,” jelas Kepala Balai Karantin­a Pertanian Kelas 1 S­emarang, Wawan Sutian, saat ditemui  di sela F­umigasi CY Deli di Pelabuhan Ta­njung Emas Semarang, ­Selasa (31/10).

Wawan mengungkapkan, total ada­ 12 kontainer berisi ­total 315 ton kedelai­ yang dikirim eksportir Praire Creek Grain­ Company, INC Amerika­ pada 11 September 20­17 dan tiba di Tanjun­g Emas pada 23 Okt­ober kemudian dilakukan pemeriksaan pada 26 Oktober lalu.  Sementara untuk importir kedelai adalah PT Koda Putra Indo dari Jakarta.

Fumigasi pun dilakukan dengan cara membuat kontainer menjadi kedap udara kemudian diberi Methyl Bromide selama 24 jam. Nantinya ngengat akan mati dan kedelai masih aman dikonsumsi.

Ngengat yang sudah berkembang biak, ini nantinya mati meski demikian, kedelai masih aman dikonsumsi. Jika tidak kami Fumigasi, nanti malah bisa menyebar di komoditas lain jika kedelai itu disimpan di gudang. Karena ngengat tersebut termasuk hama pasca panen yang merusak 30 jenis bahan makanan,” ungkapnya.

Langkah selanjutnya, lanjut Wawan,  Balai Karantina akan mengirimkan Notification of Non Compliance (NNC) kepada pihak United State Departement of Agriculture (USDA). Pihaknya akan menanyakan soal dokumen persyaratan yang sudah dikirim eksportir dan memang sudah lengkap. Tapi, kenyataannya barang mengandung ngengat.

“Kita akan melakukan NNC ke Pemerintah Amerika di mana kita berikan protes sertifikat yang kita terima, ternyata masih ada serangga,” tandasnya

Sementara itu, Setyo Budi, perwakilan importir kedelai dari Amerika, PT Koda Putra, menjelaskan, adanya hama ngengat tersebut  merugikan importir karena harus ada biaya tambahan. Karena pihaknya harus melakukan fumigasi terhadap kedelai tersebut agar layak diedarkan.  “Kami   terhambat dalam distribusi, dan penambahan biaya juga. Satu kontainer dari  sisi tracking dan fumigasi Rp 4 juta. Total sekitar Rp 60 jutaan lah,” tandas Setyo Budi. (dit/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here