Bikin Batik Gula Kacang dan Wedang Ronde

Chusnulia Wardani, Kembangkan Batik Khas Oleh- Oleh Salatiga

204
KREATIF: Chusnulia Wardani (empat dari kiri) bersama mahasiswa IAIN menunjukkan kain batik bermotif wedang ronde di galerinya (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG).
KREATIF: Chusnulia Wardani (empat dari kiri) bersama mahasiswa IAIN menunjukkan kain batik bermotif wedang ronde di galerinya (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG).

Kota Salatiga bukan dikenal sebagai kota batik. Namun kota ini sudah memiliki batik khas, yakni Batik Watu Rumpuk dan Plumpungan. Bahkan kini muncul batik yang motifnya khas oleh – oleh Salatiga. Seperti apa?

DHINAR SASONGKO, Salatiga

SELAMA ini, batik tulis identik dengan corak yang sesuai pakem Jawa. Namun, seiring perkembangan zaman, muncul inovasi agar batik tetap bisa digunakan generasi muda. Salah satunya membuat batik yang motifnya sesuai dengan oleh-oleh khas Salatiga, yakni Gula Kacang dan Wedang Ronde.

Sosok yang memulai motif baru ini adalah Chusnulia Wardhani, warga Pungkursari, Salatiga. Perempuan 42 tahun yang akrab dipanggil Dhani ini memiliki Galeri Omah Dhani yang berada di Sraten, tepatnya tikungan Patung Gajah.

“Galerinya memang di sini, karena letaknya kebetulan di pinggir jalan, sehingga mudah jika ada yang mencari,” terang Dhani saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di galerinya.

Dalam galeri itu, ada berbagai macam karya kerajinan. Namun, diakui Dhani, jika tidak semua adalah produksinya, melainkan produk para pengusaha UMKM.

“Saya memproduksi batik dan yang lain adalah beberapa produk UMKM milik teman. Galeri Omah Dhani ini sekaligus menjadi ajang showroom bagi rekan – rekan pengusaha UMKM lainnya,” jelasnya.

Produk yang dipajang selain batik, antara lain cermin dengan motif sandal, kerajinan bathok kelapa, hingga rak bermotif batik. Bahkan ada minuman obat tradisional seperti jus bawang putih.

“Saya asli Salatiga dan dulu sekolah di SMA Kristen Satya Wacana sebelum melanjutkan kuliah di Malang,” terang Dhani memulai kisahnya.

Selepas kuliah, ia mengadu peruntungan ke Jakarta dan berhasil diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta. Ia pun bertahan sampai dengan 16 tahun dan sudah memiliki posisi yang lumayan.

Namun ia merasa ingin berubah, dan akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan tinggal di Salatiga. Ia memilih berbisnis batik. Setelah memilah – milah motif yang akan dibuat, akhirnya ia mendapatkan ide beberapa, yakni batik Ikan Wader, Wedang Ronde dan Gula Kacang.

Dhani pun merangkul pembatik untuk merealisasikan ide desain yang dibuatnya. Proses itu berjalan selama dua tahun. Setelah selesai, ternyata idenya mendapatkan respons masyarakat dan terbukti desainnya selalu habis dibeli para konsumen.

“Saya sering ikut pameran bersama dinas di Kota Salatiga maupun Provinsi Jawa Tengah. Alhamdulillah semua responsnya positif,” jelas perempuan berhijab ini.

Ia tetap berusaha menjaga kualitas dengan membuat batik tulis dan bukan printing. Harganya pun tidak terlalu mahal, yakni sekitar Rp 195 ribu per helai kain. Di sisi lain, ia juga sudah mendaftarkan paten atas idenya Hak Atas Kekayaan Intelektual (Haki). Bahkan ia berencana membuat kampung batik di tempat tinggal lainnya yang berada di Kecamatan Kecandran. “Ide ini sudah dikomunikasikan ke beberapa pihak dan mendapatkan dukungan,” jelas perempuan yang mudah akrab ini.(*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here