Awalnya Dihujat, Berubah Ketika Berhasil Menghadirkan Menteri

Omah Ngisor, Rumah Baca di Bawah Kaki Sumbing

206
LITERASI: Marta Adi Putra pengelola Omah Ngisor saat berada di rumah baca Omah Ngisor (Putri Yunita for JP Radar Kedu).
LITERASI: Marta Adi Putra pengelola Omah Ngisor saat berada di rumah baca Omah Ngisor (Putri Yunita for JP Radar Kedu).

Berawal dari keresahan Muhammad Aprianto, 35, warga Desa Sambak, Kajoran Kabupaten Magelang terhadap minimnya budaya membaca di kampungnya, rumah baca Omah Ngisor pun didirikan. Awalnya, Omah Ngisor dipandang sebelah mata namun hingga sekarang tetap eksis. Seperti apa?

Agus Hadianto, Mungkid

SEKILAS rumah tersebut seperti bangunan yang biasa, berdiri di tengah-tengah Desa Sambak, Kajoran Kabupaten Magelang. Namun setelah masuk di dalamnya, terlihat tatanan buku di rak yang menggoda untuk dibaca. Seperti itu suasana di Omah Ngisor yang didirikan Aprianto dan adiknya, Marta Adi Putra, 22.

Marta mengisahkan, kakaknya yang akrab disapa Anto resah ketika melihat rendahnya tingkat literasi pemuda dan pemudi Desa Sambak. Selain itu, kesenian tradisional yang sempat berjaya di desanya juga sekarat. Terbesit lah keinginan untuk mendirikan sebuah sanggar belajar dan rumah baca di rumah.

Anto bersama pemuda Desa Sambak akhirnya menggalang dana masyarakat untuk membentuk sebuah sanggar belajar. Bermodal 10 eksemplar buku milik Anto dan buku hasil penggalangan dari masyarakat, pada Maret 2008 berdirilah Sanggar Belajar dan Rumah Baca Omah Ngisor. “Kemudian bertransformasi menjadi Komunitas Baca Omah Ngisor. Nama Omah Ngisor dipilih karena rumah baca tersebut berada di tepi bawah jalan raya,” ungkap pria yang masih melajang ini.

Marta mengatakan, perjuangan kakaknya bersama para pemuda-pemudi Desa Sambak menjalankan Komunitas Baca Omah Ngisor tidaklah mudah. Cemoohan dan hujatan menjadi makanan setiap hari. Namun semangat untuk membangun Desa Sambak melalui literasi dan kesenian membuat mereka menebalkan telinga.

“Banyak yang menghujat kami, Iki ki opo to? Kok malah ngejak cah-cah dolan. (ini itu apa sih? Kok malah ngajak anak-anak main, red),” ujar Marta.

Sebenarnya, telinga pendiri Komunitas Baca Omah Ngisor panas tapi tetap berpikir positif terus bekerja untuk mengembangkan Omah Ngisor. Karena yang ada dalam pikiran mereka, bagaimana membuat masyarakat percaya kegiatan Omah Ngisor positif.

“Lalu kemudian kami menjaring koneksi dengan rekan-rekan sesama penggiat literasi dan mengadakan pelatihan dan bimbingan dengan mendatangkan orang-orang penting seperti perangkat desa sampai Bupati dan Menteri Pendidikan Nasional untuk mengambil hati masyarakat terhadap Omah Ngisor,” jelasnya.

Langkah itu berhasil dan akhirnya banyak masyarakat mendukung adanya Omah Ngisor. Bahkan banyak yang berbondong-bondong untuk mendonasikan buku. Selain itu, lanjut Marta, banyak yang akhirnya mengucurkan bantuan berupa buku-buku dengan status pinjam dari berbagai taman baca di wilayah Magelang-Purworejo.

Omah Ngisor, kini banyak dikunjungi masyarakat, terutama anak-anak. Kegiatan di Omah Ngisor di antaranya membaca, bermusik, melukis, bermain wayang kertas, dan berlatih menari.

Bahkan agenda terkini, pengelola menyiapkan lomba menulis buku sejarah Desa Sambak. Tujuannya untuk mengembangkan minat dan motivasi anak-anak untuk menulis serta mengenal lebih mendalam tanah tempat mereka lahir, bermain, dan berkembang.

“Omah Ngisor akan tetap menjadi lentera yang menerangi di bawah kaki Gunung Sumbing. Meskipun berada jauh dari pusat peradaban, namun tetap bisa mendobrak peradaban,” ujarnya (*/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here