NYARIS AMBRUK : Rumah salah seorang warga Desa Ringinanom, Tempuran, Kabupaten Magelang yang memprihatinkan (LIS RETNO WIBOWO/JP RADAR KEDU).
NYARIS AMBRUK : Rumah salah seorang warga Desa Ringinanom, Tempuran, Kabupaten Magelang yang memprihatinkan (LIS RETNO WIBOWO/JP RADAR KEDU).

Menyandang status sebagai desa termiskin di Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang; Desa Ringinanom, menjadi sasaran upaya penurunan angka kemiskinan melalui program keroyokan seperti saran Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Salah satunya, dengan menggeber program pemberdayaan warga yang dilakukan oleh kalangan perguruan tinggi berkolaborasi dengan pemerintah desa dan Pemkab setempat.

SEULAS senyum mengembang dari bibir Nur Khanah, 44, warga Dusun Kranginan, Desa Ringinanom, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang saat ditemui Jawa Pos Radar Kedu, akhir pekan lalu. Meski setiap hari harus bangun pukul 02.00 dini hari, Nur tidak pernah mengeluh.

Sebaliknya, ia antusias mengolah adonan jajanan untuk dititipkan ke bakul-bakul panganan di pasar dan kantin-kantin sekolah, di sekitar tempat tinggalnya. Seperti pagi buta itu, usai mengolah adonan martabak dan risoles, ia menyiapkan penggorengan.

Dan, lima menit kemudian, sreengg… bunyi adonan itu pun memecah keheningan rumah sederhana  Nur. Adonan-adonan itu melayang di atas minyak penggorengan, menebarkan aroma menggugah selera. Menjelang azan subuh berkumandang, puluhan martabak dan risoles yang sudah matang, berjejer di atas nampan berlapis daun pisang.

WIRAUSAHA BERKAT PELATIHAN: Nur Khanah sedang menyiapkan kardus makanan pesanan. Ia kini punya penghasilan sendiri dari jualan jajanan dan kue (LIS RETNO WIBOWO/JP RADAR KEDU).
WIRAUSAHA BERKAT PELATIHAN: Nur Khanah sedang menyiapkan kardus makanan pesanan. Ia kini punya penghasilan sendiri dari jualan jajanan dan kue (LIS RETNO WIBOWO/JP RADAR KEDU).

Ketika suara azan memanggil, di antara kabut pekat dan hawa dingin yang menyergap, Nur bergegas ke musala. “Selesai salat, semua jajanan ini, martabak dan risoles, saya siapkan untuk saya bawa  ke pasar dan kantin-kantin sekolah di sekitar sini,” ucap perempuan berhijab itu, sembari menyeteples beberapa bungkus jajanan.

Tidak hanya martabak dan risoles, pada hari lain, Nur membuat jenis jajanan berbeda. “Biar pembelinya tidak bosan dengan panganan itu-itu saja,” ucap Nur. Karena itu, kadang ia membuat brownies, kue mendut, dan pastel. Kue-kue itu dibuat setiap hari, jumlahnya  100 biji.

“Kadang juga dapat pesanan dari orang mantu, pengajian atau arisan. Lumayan jumlahnya,” tutur ibu 3 anak itu, sembari  membetulkan letak hijabnya. Pesanan dari orang hajatan, jumlahnya kadang bisa mencapai 400 biji. Nur sangat bersyukur, kesibukannya berjualan aneka jajanan dan kue, bisa membantu ekonomi keluarga. “Semua saya kerjakan sendiri, kadang suami membantu.”

Rofi’i, suami Nur, hanya pekerja borongan di sebuah karoseri. Rofi’i bekerja jika ada garapan. Jika tidak ada garapan, ia praktis menganggur. Imbasnya,  ekonomi keluarga pasutri Rofi’i-Nur pun tidak menentu. Padahal, anak-anak mereka butuh biaya tidak sedikit. Anak kedua Nur masih SMP. Sedangkan si bungsu masih SD. “Alhamdulillah, yang sulung sudah kerja di Temanggung.”

Dari mana Nur mendapat keahlinan membuat aneka jajanan dan kue? Nur mengaku, semua itu karena program pelatihan home industry yang diadakan oleh tim Iptek bagi Wilayah (IbW), kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Magelang (UM Magelang), Universitas Tidar (Untidar), dan Bappeda Kabupaten Magelang. Program keroyokan seperti saran Gubernur Ganjar Pranowo ini, tujuannya jelas: menurunkan angka kemiskinan di Ringinanom. Maklum, angka kemiskinan di desa ini, tertinggi di antara desa lain di wilayah Kecamatan Tempuran. Padahal, jarak Ringinanom dengan Mungkid, Ibu Kota Kabupaten Magelang, cukup dekat: hanya 5 km.

Berdasarkan data desa, jumlah penduduk Ringinanom mencapai 6.686 jiwa. Mereka tersebar di 11 dusun. Mata pencaharian warganya sebagian besar buruh tani. Sebagian lainnya, pedagang, swasta, dan sedikit pegawai negeri.  Dari sisi pendidikan, terbanyak tamatan SD,  sekitar 2.182. Tidak tamat SD mencapai 2.111. Sisanya,  lulus SMA, D3, dan sarjana. Kondisi ini selaras dengan tingkat kesejahteraan warganya. Penduduk miskin mencapai 1.022 orang. Terdiri atas  668 warga miskin dan 354 orang sangat miskin.

Nur dan beberapa warga desa lainnya, mengikuti pelatihan pengolahan makanan berbasis potensi lokal. Pelatihan diikuti oleh kader-kader Posyandu Desa Ringinanom dan desa tetangga: Sidoagung. Nur dan kader Posyandu mendapatkan wawasan tentang pengolahan makanan berbasis potensi lokal. Seperti rempeyek bayem, aneka keripik, abon jamur, nuget jamur dan kue kering, serta makanan lain. Selain itu, tim IbW juga melakukan pendampingan olahan makanan dan kepengurusan izin produk-industri rumah tangga (P-IRT).

Mendapat bekal pelatihan itulah, Nur memberanikan diri membuat aneka kue dan jajanan, lantas dijual ke  pasar dan kantin sekolah. Hasilnya lumayan. Sehari, Nur bisa meraup keuntungan bersih Rp 25 ribu. Praktis, sebulan ia bisa mengantongi laba bersih Rp 750 ribu. Itu belum termasuk jika Nur mendapatkan pesanan dari acara-acara tertentu yang jumlahnya lebih banyak lagi.

Nur semula hanya ibu rumah tangga biasa. Tugas rutinnya, mengurusi anak dan bersih-bersih rumah. Ia tidak punya penghasilan sendiri. Kini, Nur bisa cari duit sendiri. Ia bisa membantu ekonomi keluarga. “Alhamdulillah, meski tidak banyak, bisa punya penghasilan sendiri. Bisa untuk nambah-nambah uang jajan anak. Sebagian, meski cuma Rp 5 ribu, saya tabung di PKK,” ucapnya, sembari tersenyum.

Perasaan yang sama juga disampaikan oleh Choiriyah, 32. Ia warga Dusun Samberan, Ringinanom. Choiriyah juga mengikuti pelatihan home industry membuat makanan olahan. Ibu tiga anak itu membuat balok, makanan ringan berbahan dasar singkong. Per 2 minggu sekali, Choiriyah mengolah 25 kg singkong menjadi camilan. Pemasarannya bahkan sudah menjangkau Purworejo. “Saya kemas dalam plastik. Hasilnya lumayan, bisa untuk menambah penghasilan keluarga,” tuturnya.

Khusnul Laely, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UM Magelang, satu di antara anggota tim Iptek bagi Wilayah (IbW) yang berupaya memberdayakan warga Ringinanom. Perempuan yang intim disapa Laely itu menyampaikan, program IbW bagian dari pengabdian masyarakat, realisasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang pendanaannya dibiayai Ristek Dikti. Tim IbW  kolaborasi antara UM Magelang, Untidar, dan Bappeda. Bersama tim, Laely  intens terjun ke  Ringinanom. Mereka mendekati warga, membuka kesadaran dan memberdayakan potensi desa.

Pemilihan Ringinanom sebagai desa sasaran, karena merupakan salah satu dari 50 desa “merah” di Kabupaten Magelang. “Desa merah itu maksudnya ya desa miskin,” ucap Laely. Tahun 2016, tim memulai program di Ringinanom. Ia  didaulat menjadi ketua tim dari UM Magelang, dengan anggota dua dosen: Galih Istiningsih dan Yulinda Devi Pramita.

“Kebetulan Ringinanom masih satu kecamatan dengan tempat tinggal saya, sehingga saya memantaunya  lebih mudah,” ucap dosen muda itu. Tahun pertama,  tim IbW membuat jamban keluarga. Di Ringinanom, masih banyak warga yang tidak punya  jamban. Buang air besar dilakukan  di papringan atau di bawah rerimbunan pohon bambu. “Kami membuat jamban umum di tengah-tengah rumah warga yang tidak punya jamban,” cetus pemilik gelar Magister Pendidikan itu.

Selesai dengan program jambanisasi,  tim Laely menyasar bidang pendidikan. Mereka merintis pendidikan anak usia dini (PAUD).  Kader-kader Posyandu diberdayakan untuk mendirikan pos PAUD. Kini, sudah ada pos PAUD Ar-Royan.

Nah, tahun berikutnya, 2017, Laely dan tim menggelar  pelatihan olahan makanan berbasis bahan lokal untuk kader-kader Posyandu. Tim melihat banyak warga Ringinanom—utamanya ibu-ibu—yang tidak punya aktivitas, setelah urusan di sawah sebagai buruh tani dan rumah tangga kelar. Padahal, mereka punya potensi membuat aneka jajanan dan kue.

“Maka, kami berusaha membuka wawasan baru dengan menggelar pelatihan makanan berbahan baku lokal. Seperti pepaya, ketela, jamur, serta dedaunan untuk dijadikan rempeyek yang diolah menjadi aneka produk. Seperti dodol pepaya, abon jamur, nugget jamur, aneka macam rempeyek, dan aneka macam kue kering, ” ujar dosen alumnus Universitas Negeri Jogjakarta itu.

Pelatihan ini disambut antusias warga.  Utamanya, warga miskin. Tidak hanya memberikan pelatihan. Tim IbW juga memberikan bantuan berupa peralatan untuk mendukung usaha warga. Di antaranya,  kompor gas beserta tabung, mixer, neraca, oven, loyang, sealer, vakum sealer, aneka baskom, serta wajan. “Mereka kita bantu peralatan, sebagai modal saat melakukan kegiatan produksi,” ucap ibu 3 anak itu.

Hasil pelatihan sudah dapat dirasakan sejumlah warga. Dua di antaranya, Nur Khanah dan Choiriyah. Dua ibu rumah tangga itu sudah rutin membuat aneka jajanan dan kue. Tim juga melakukan pendampingan olahan makanan serta melakukan pengurusan izin produk-industri rumah tangga (P-IRT) warga setempat. Ada  lima produk makanan lokal  yang dihasilkan warga dan akhirnya mendapatkan izin P-IRT. Yakni: balok, rengginang, osar-asir, peyek petho, dan kue kering. Selain itu,  tim juga melakukan  kegiatan budi daya jamur yang berakhir pada September lalu di Desa Sidoagung. “Budi daya jamur, kini malah sudah mulai kewalahan memenuhi pesanan.”

Menurut Laely, apa yang tim lakukan, semata-mata upaya untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran di Ringinanom. Ini sejalan dengan program pemerintah provinsi Jawa Tengah dan Pemkab Magelang.

Penjabat (PJ) Kepala Desa Ringinanom, Ahmad Supratikno mengapresiasi pelatihan membuat olahan makanan yang dilakukan tim IbW. Selain dari perguruan tinggi, Ahmad Supratikno juga menyampaikan, berbagai upaya sudah dilakukan pihak pemerintah desa untuk mengurangi dan menekan angka kemiskinan. “Tentu dengan pemberdayaan warga.” Ia lantas menyebut sejumlah program. “Ada pelatihan sablon, stek okulasi, pelatihan otomotif, dan pengolahan makanan,” kata Ahmad kepada koran ini.

Mereka yang tadinya miskin, hanya menggantungkan hidupnya sebagai buruh tani, klaim Ahmad, beberapa di antaranya sudah punya usaha sendiri. Seperti sablon dan bengkel. “Ada juga yang bekerja di tempat orang lain. Kan lumayan, mereka jadi punya keterampilan dan sudah bekerja,  dengan gaji cukup layak, daripada jadi buruh tani yang tidak setiap hari bisa dilakukan, karena tergantung musim.” Sejumlah pelatihan itu, kata Ahmad, Pemdes Ringinanom menggandeng Balai Latihan Kerja (BLK).

Hal senada disampaikan oleh Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) Desa Ringinanom, Sumiyanto. Ia menegaskan, berbagai upaya pemberdayaan warga telah mengurangi angka kemiskinan di desa termiskin di Kecamatan Tempuran itu. “Kalau persentasenya saya belum tahu, karena belum dihitung. Tapi kami merasakan jelas ada. Kalau indikasinya sudah jelas, warga miskin penerima rastra (dulu bernama raskin alias beras miskin, red) berkurang.”

Tadinya, tercatat 759 kepala keluarga, tahun ini menurun menjadi 736 KK penerima raskin alias rastra. “Sederhananya seperti itu. Berkurangnya penerima rastra, dapat diartikan menurunnya angka kemiskinan. Ini imbas positif dari upaya pemberdayaan warga melalui berbagai pelatihan keterampilan, termasuk pelatihan keterampilan mengolah makanan.”

Selama ini, tutur Sumiyanto, ia selalu kerepotan ketika membagi beras miskin atau beras sejahtera (rastra). Karena kuota terbatas, sementara jumlah warga miskinnya banyak. Sumiyanto mengatakan, sekilas Ringinanom  terlihat tanahnya subur. “Tapi coba masuk ke dalam desa. Sungguh memprihatinkan. Rumah-rumah warga sangat sederhana,“ tutur Sumiyanto. Untuk membuktikan penjelasan Sumiyanto, koran ini berkesempatan mengelilingi sejumlah dusun di Ringinanom yang angka kemiskinannya cukup tinggi. Benar adanya. Gubuk-gubuk reyot yang tidak layak huni, terutama  di lingkungan RT 6 dan RT 7, mudah ditemui.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Yogyo Susaptoyono S.S mengapresiasi  program pengentasan kemiskinan yang melibatkan perguruan tinggi dan elemen masyarakat lain. Menurutnya, perguruan tinggi sudah seharusnya terjun ke tengah masyarakat sebagai bagian dari realisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Teks dan karya ilmiah mahasiswa tak ada fungsinya, jika hanya berbentuk buku atau stensil tertumpuk di rak-rak perpustakaan.

“Kita sangat apresiasi UM Magelang bisa menggandeng Bappeda Kabupaten Magelang, mengamalkan ilmunya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Magelang. Justru sekarang Pemkab perlu kreatif menjalin kerja sama dalam banyak bidang dengan lembaga perguruan tinggi, karena di sana gudangnya ilmu dan teori,” tuturnya.

Lanjut dia, masyarakat kampus tentunya juga butuh praktik bukan sekadar teori. Dalam hal ini, ada simbiosis mutualisme antara Pemkab dan kampus, yang ujungnya sangat positif untuk kesejahteraan masyarakat. “Saya kira bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, bisa juga pemda dan kampus kerja sama dalam tata kelola pemerintahan atau hukum,” tandasnya.

 Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi langkah perguruan tinggi dalam upaya membantu pemerintah, menurunkan angka kemiskinan. Salah satunya, program sinergi yang dilakukan Untidar, Universitas Muhammadiyah Magelang dan Bappeda Kabupaten Magelang. “Bagaimana pun, dalam pelaksanaan program pengentasan kemiskinan, perlu adanya kegotong-royongan dengan warga serta keterlibatan banyak pihak, baik pemerintah pusat, provinsi, perguruan tinggi, perusahaan melalui CSR-nya, maupun kabupaten dan kota,” kata Ganjar.

Menurut Gubernur Ganjar, mengentaskan kemiskinan tidak cukup membangun rumah dan diberi uang. Tapi butuh pembekalan pengetahuan dan keterampilan, serta akses modal juga pendampingan. Ganjar mencatat, akselerasi penurunan angka kemiskinan di Jawa Tengah (Jateng) dalam setahun ini, tercatat yang tertinggi dibandingkan provinsi lain. Data sensus sosial ekonomi nasional pada Maret 2017 lalu menunjukkan prestasi terbaik dalam menurunkan angka kemiskinan, diraih oleh Pemprov Jateng.

Tercatat, per September 2016 sampai Maret 2017, penduduk miskin di Jateng berkurang 43.000 jiwa. Provinsi yang menjadi pesaing Jateng dalam menurunkan angka kemiskinan adalah  Jawa Timur. Penduduk miskin di Jatim, berkurang 21.500 jiwa. Disusul, Papua dengan 17.200 jiwa, kemudian Sumatera Barat dengan penurunan angka kemiskinan 12.000 jiwa.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, Margo Yuwono meyakini, keberhasilan Jateng menurunkan angka kemiskinan, tidak lepas dari strategi pemerintah dalam pengendalian laju inflasi. Pada periode September 2016 hingga Maret 2017, inflasi tercatat 2,63 persen. Hal itu dinilai  mampu menjaga garis kemiskinan sebesar 3,25 persen.  Jateng, lanjut Margo, juga mampu menaikkan pendapatan per kapita. Yakni, dari Rp 322.748 per bulan pada September 2016, menjadi Rp 333.224 per kapita per bulan pada Maret 2017.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng, Sukirman S.S, menyatakan program kemiskinan bisa jangka pendek dan jangka panjang. Program yang dilakukan UM Magelang dan Untidar lebih kepada program pengentasan kemiskinan jangka panjang. Tentu harus diapresiasi positif. “Persoalan kemiskinan memang harus dikeroyok ramerame cara pengentasannya. Masih seringnya muncul kasus kemiskinan di daerah yang lambat penanganannya,” ujarnya.  Belum lagi, tidak validnya data kemiskinan antara BPS, Dinas Sosial atau pemerintah.

Tidak kalah penting, lanjut Sukirman, untuk mendukung pendataan secara valid oleh pemerintah di level bawah. Atau boleh juga digalakkan gerakan peduli tetangga.  “Tengok kanan kiri, apakah tetangga kita miskin atau sudah kecukupan hidupnya. Catat dan laporkan serta kawal. Jangan andalkan semata mata kelurahan atau perangkat desa,” pesannya. (lis.retno.wibowo/isk)